Humas – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) | Kuliah, Kampus & Universitas di Bekasi https://umindonesia.ac.id Kuliah Dekat Karier Cepat Wed, 21 Oct 2026 02:34:20 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.3 https://umindonesia.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/um-indonesia-favicon-150x150.png Humas – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) | Kuliah, Kampus & Universitas di Bekasi https://umindonesia.ac.id 32 32 Kukuhkan Visi Baru, UM Indonesia Siapkan Lompatan Strategis Menuju Kampus Berdampak dan Berdaya Saing https://umindonesia.ac.id/kukuhkan-visi-baru-um-indonesia-siapkan-lompatan-strategis-menuju-kampus-berdampak-dan-berdaya-saing/ Wed, 21 Oct 2026 02:34:18 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10943

BEKASI– Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) resmi memulai langkah konsolidasi strategis dalam rangka menyelaraskan visi, misi, dan budaya organisasi baru. Langkah penting ini ditegaskan dalam agenda Sosialisasi Visi Misi yang dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dekan, ketua program studi, serta kepala lembaga di lingkungan kampus UM Indonesia, Bekasi, Selasa/20 Oktober 2026


Pertemuan strategis ini menjadi tonggak penting perjalanan institusi yang sebelumnya dikenal sebagai Universitas Islam 45 (Unisma 45) dan kini bertransformasi di bawah naungan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Transformasi ini diarahkan untuk membangun tata kelola modern, peningkatan mutu berkelanjutan, serta penguatan tradisi fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) sebagaimana karakter Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia.


Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Indonesia, Prof. Dr. Fauzan M.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa babak baru ini menuntut kesiapan seluruh sivitas akademika untuk beradaptasi dengan budaya organisasi yang baru. Menurutnya, konsolidasi tidak sekadar menyatukan bagan struktur organisasi, melainkan menyatukan niat, cara berpikir, dan komitmen bersama untuk melangkah maju.


“Hal mendasar yang harus ditata pertama kali adalah niat dan keteguhan sikap istiqamah (konsisten). Perubahan memerlukan komitmen moral dan kesediaan bekerja bersama. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki posisi strategis dan besar di Bekasi, UM Indonesia harus mampu membalik persepsi publik dan membuktikan kualitas melalui pembenahan tata kelola serta keunggulan mutu layanan,” ujar Prof. Fauzan.


Lebih lanjut, Prof. Fauzan menggarisbawahi bahwa program akademik harus menjawab ekspektasi nyata mahasiswa dan orang tua. Pendidikan tinggi tidak hanya dituntut mengantarkan mahasiswa lulus tepat waktu dan meraih pekerjaan layak, tetapi juga membekali mereka dengan kompetensi praktis, jejaring kerja sama yang luas, serta karakter dan kepercayaan diri dalam menghadapi dunia profesional.


Mengutip pesan tokoh pendidikan Prof. Malik Fadjar, beliau menegaskan pentingnya menghadirkan layanan prima yang proaktif. “Layanan kampus harus hadir menjemput kebutuhan mahasiswa, bukan sekadar menunggu permintaan. Dosen pun harus mengedepankan kematangan profesional dan menjadikan mahasiswa sebagai cerminan mutu institusi,” tambahnya.



Menghadapi kompetisi pendidikan tinggi yang kian dinamis, institusi didorong untuk terus menghadirkan kebaruan di setiap semester, baik dalam program, layanan, maupun fasilitas belajar. Prof. Fauzan mengenalkan dua pendekatan perubahan: pembenahan horizontal (mengadopsi praktik baik dari kampus lain) dan lompatan strategi zero to one (menciptakan pembeda unik yang orisinal).


“UM Indonesia harus berani mengeksplorasi ruang inovasi baru yang menjadi identitas khas kita. Reputasi dibangun dengan sikap inklusif, terbuka, dan kemampuan memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat,” paparnya.


Senada dengan hal tersebut, Rektor UM Indonesia, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa transformasi yang tengah berjalan harus terwujud secara substantif, bukan sekadar pergantian nama atau perubahan administratif belaka.


“Transformasi menuntut stamina panjang, konsistensi, dan keberanian mengambil tindakan. Kita tidak sedang mengubah tampilan luar, melainkan menata ulang fondasi keunggulan institusi,” tegas Rektor. Ia menambahkan bahwa seluruh rumusan strategis dan peta jalan transformasi akan dimatangkan secara komprehensif dalam Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim).


Agenda ini juga diwarnai dialog interaktif mengenai arah riset dan publikasi institusi. Merespons perhatian peserta terkait target publikasi dan hilirisasi riset di lingkungan kementerian, pimpinan BPH menekankan pentingnya dosen memetakan peluang hibah riset dan pengabdian masyarakat secara cermat sesuai dengan klasterisasi dan keunggulan spesifik kampus.


Ke depan, para dosen didorong untuk memperkuat branding kepakaran di ruang publik, sehingga kepakaran individu tersebut turut memperkokoh reputasi keilmuan UM Indonesia. Melalui model pembelajaran transformatif dan kolaborasi yang solid, UM Indonesia optimistis melangkah sebagai kampus unggul, adaptif, dan berdaya saing global dari jantung Kota Bekasi

]]>
Membangun Model Holding Bisnis Pesantren untuk Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan https://umindonesia.ac.id/membangun-model-holding-bisnis-pesantren-untuk-kemandirian-ekonomi-yang-berkelanjutan/ Mon, 19 Oct 2026 09:49:54 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10934

Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan dan pusat pembinaan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Di tengah pertumbuhan jumlah pesantren di Indonesia, tantangan penting yang dihadapi adalah bagaimana mengelola berbagai unit usaha secara profesional, terintegrasi, transparan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.

Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian disertasi Dr. Purnama Putra, M.Si., berjudul “Model Holding Bisnis dalam Transformasi Ekonomi Pesantren: Analisis Manajemen Bisnis Pesantren Sunan Drajat.” Penelitian ini mengkaji pengalaman Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam mengembangkan sistem holding bisnis sebagai instrumen untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, kemandirian finansial, dan kontribusi sosial-ekonomi pesantren.

Kebaruan utama penelitian ini terletak pada pengembangan model holding bisnis pesantren berbasis maqāṣid al-syarī‘ah. Berbeda dari kajian yang cenderung memetakan jenis usaha atau menghitung dampak ekonomi pesantren secara terpisah, penelitian ini menempatkan seluruh unit usaha sebagai satu kesatuan sistem kelembagaan. Analisisnya memadukan Theory of the Firm dari Ronald Coase, perspektif Ekonomi Islam Institusional dari M. Umer Chapra dan Habib Ahmed, serta Al-Shāṭibī dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah-nya. Perpaduan tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antara efisiensi organisasi, tata kelola, tanggung jawab moral, dan tujuan kemaslahatan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan holding tidak cukup diukur dari banyaknya unit usaha atau besarnya pendapatan. Pada kasus Pesantren Sunan Drajat, model holding berkontribusi terhadap transformasi kelembagaan, kemandirian finansial, dan penguatan relasi sosial-ekonomi, termasuk melalui penyerapan sekitar 980 tenaga kerja. Namun, penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang masih perlu dibenahi, terutama pembagian kewenangan, transparansi alokasi surplus antarusaha, dan pengendalian risiko. Temuan ini menegaskan bahwa profesionalisasi bisnis perlu disertai sistem pengawasan dan akuntabilitas yang kuat.

Sebagai hasil rekonstruksi, penelitian ini menawarkan model holding bisnis pesantren berbasis maqāṣid yang ditopang oleh lima elemen: fondasi spiritual, struktur korporasi, tata kelola digital, strategi integrasi, dan orientasi maqāṣid. Kelima elemen tersebut dirancang untuk mempertemukan kebutuhan efisiensi bisnis modern dengan amanah, keberkahan, keadilan, dan keberlanjutan nilai-nilai pesantren. Model ini juga telah dinyatakan valid dan konsisten melalui penilaian delapan pakar, dengan rata-rata koefisien Aiken’s V sebesar 0,709 dan reliabilitas antarpenilai sebesar 0,862.

Ke depan, model ini diharapkan menjadi landasan bagi rekonstruksi tata kelola yang berkelanjutan dan dapat diuji penerapannya pada pesantren lain di Indonesia. Manfaatnya tidak hanya bagi pengelola pesantren, tetapi juga bagi pemerintah, lembaga keuangan syariah, koperasi, pelaku UMKM, dan pemangku kepentingan yang berkomitmen memperkuat ekonomi berbasis komunitas.

Bagi UM Indonesia, kajian ini relevan sebagai kontribusi akademik dalam pengembangan manajemen bisnis, ekonomi Islam, dan pemberdayaan masyarakat. Pesan utama penelitian ini adalah bahwa kemandirian ekonomi pesantren bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya unit usaha, melainkan oleh ketangguhan tata kelola yang transparan, akuntabel, berorientasi pada kemaslahatan, dan mampu diwariskan lintas generasi.

Dari pesantren untuk kemandirian ekonomi umat: membangun bisnis yang profesional tanpa kehilangan nilai, serta bertumbuh tanpa meninggalkan kemaslahatan.

]]>
Usai Bertugas di Asian Games Jepang, Ini Pesan Dosen UM Indonesia untuk Mahsiswa https://umindonesia.ac.id/usai-bertugas-di-asian-games-jepang-ini-pesan-dosen-um-indonesia-untuk-mahsiswa/ Fri, 16 Oct 2026 08:34:08 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10925

BEKASI – Menjadi bagian dari ajang olahraga internasional bukanlah satu-satunya pencapaian yang dapat diraih seseorang di dunia olahraga. Di balik pertandingan dan perjuangan para atlet, terdapat berbagai profesi yang turut menjaga integritas olahraga, salah satunya Doping Control Officer (DCO). Pengalaman di bidang inilah yang dijalani Dr. Giri Prayogo, M.Pd., dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia).


Pengalaman profesional tersebut tidak hanya menjadi perjalanan karier bagi Giri, tetapi juga memperkaya perannya sebagai pendidik. Baginya, dunia akademik dan dunia profesional bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun kompetensi dan memperluas wawasan di bidang olahraga.


Sebagai dosen PJKR UM Indonesia, Giri tidak hanya menyampaikan teori kepada mahasiswa, tetapi juga mengikuti perkembangan dunia olahraga. Pengalamannya sebagai DCO menjadi bekal untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan.


Menurutnya, pengalaman profesional dapat memberikan gambaran yang lebih luas kepada mahasiswa mengenai peluang karier di bidang olahraga. Dunia olahraga tidak hanya menawarkan profesi sebagai atlet atau pelatih, tetapi juga mencakup sport management, sport science, sport nutrition, event management, hingga DCO.


“Pengalaman saya sebagai Doping Control Officer (DCO) memberikan pengalaman praktis yang kemudian dapat saya kaitkan dengan materi pembelajaran dan saya bagikan kepada mahasiswa,” ungkapnya.


Bagi Giri, pembelajaran di bangku kuliah merupakan fondasi penting bagi mahasiswa untuk memahami konsep dan permasalahan dalam ilmu keolahragaan. Namun, pengetahuan tersebut perlu dilengkapi dengan pengalaman langsung agar dapat diterapkan dalam situasi nyata.


Ia menilai bahwa dunia profesional memiliki tantangan yang tidak selalu sama dengan contoh yang dipelajari melalui buku atau materi perkuliahan. Dalam pelaksanaan tugas di bidang anti-doping, misalnya, terdapat prosedur dan standar yang harus dipatuhi. Meski demikian, kondisi di lapangan dapat berbeda-beda dan menuntut kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat sesuai prosedur.


Perbedaan bahasa, kondisi atlet, keterbatasan waktu, lokasi pertandingan atau venue yang berbeda, hingga situasi yang tidak terduga menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.


“Teori memberikan dasar, sedangkan pengalaman memberikan kemampuan untuk menerapkan teori tersebut dalam situasi nyata. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.


Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia profesional. Tidak cukup hanya memahami konsep secara akademik, mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan beradaptasi, menganalisis situasi, dan menerapkan pengetahuan sesuai kebutuhan di lapangan.


Di sisi lain, Giri menilai lingkungan akademik turut membantunya menjalankan profesi sebagai DCO. Dunia akademik membentuk pola berpikir yang sistematis, mengasah kemampuan menganalisis dan mengevaluasi proses, serta mendorong dirinya untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.


Dengan demikian, pengalaman profesional dapat memperkaya pembelajaran di kampus, sementara pendidikan akademik membantu seseorang menjalankan tugas profesional dengan lebih sistematis.


Bagi calon mahasiswa yang ingin menekuni bidang olahraga, Giri berpesan agar tidak membatasi pandangan hanya pada profesi atlet dan pelatih. Menurutnya, perkembangan dunia olahraga membuka peluang bagi berbagai bidang keahlian yang dapat menjadi pilihan karier masa depan.


Selain DCO, terdapat profesi akademisi, tenaga sport science, fisioterapis, psikolog olahraga, nutritionist, event organizer, sport manager, wasit, analis olahraga, peneliti, serta berbagai profesi lainnya.


Luasnya peluang tersebut perlu diimbangi dengan persiapan kompetensi sejak masa kuliah. Giri menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya perlu mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, bahasa asing, kerja sama tim, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.


Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak sekadar mengejar ijazah. Masa kuliah perlu dimanfaatkan untuk membangun pengalaman melalui organisasi, pelatihan, seminar, penelitian, kegiatan yang berkaitan dengan dunia olahraga, hingga memperluas jaringan atau networking.


“Karena ketika lulus nanti, yang dibutuhkan bukan hanya ijazah, tetapi juga kompetensi, pengalaman, jaringan, dan kesiapan untuk masuk ke dunia profesional,” tuturnya.


Menurut Giri, pengalaman yang dibangun selama kuliah dapat membuka lebih banyak peluang setelah lulus. Karena itu, mahasiswa perlu berani mencoba berbagai hal, terus belajar, dan tidak membatasi diri hanya pada satu bidang dalam dunia olahraga.


Ketika ditanya mengenai pesan bagi calon mahasiswa yang sedang menentukan pilihan kampus dan jurusan, Giri menegaskan pentingnya membangun kompetensi dan pengalaman sejak awal perkuliahan.


Baginya, kampus merupakan tempat untuk membangun fondasi, mulai dari memperoleh ilmu, membentuk karakter, memperluas wawasan, hingga mengembangkan kemampuan. Fondasi tersebut kemudian menjadi bekal ketika seseorang memasuki dunia profesional dan menghadapi tantangan nyata.


Ia meyakini bahwa mahasiswa yang memiliki cita-cita besar perlu mulai mempersiapkan diri melalui langkah-langkah konkret. Kesempatan untuk terlibat dalam ajang olahraga internasional atau menjalankan tanggung jawab yang lebih besar bukanlah sesuatu yang harus dianggap mustahil, selama ada kemauan untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri.


Giri sendiri merasakan bahwa perjalanan profesional dibangun secara bertahap melalui proses belajar, mengikuti pelatihan, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas, membangun relasi, dan membuka diri terhadap berbagai kesempatan.


Karena itu, ia mengajak calon mahasiswa untuk mengubah cara pandang dalam merencanakan masa depan. Bukan hanya bertanya tentang profesi yang akan dijalani setelah lulus, tetapi juga memikirkan kompetensi yang perlu dibangun sejak sekarang agar kelak mampu memperoleh kepercayaan untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.


“Dan yang tidak kalah penting, jangan takut untuk bermimpi dan jangan membatasi diri. Percaya bahwa apa yang kita cita-citakan dapat kita perjuangkan dengan usaha, doa, dan konsistensi,” pesannya.


Menutup pesannya, Giri menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan pentingnya keyakinan dalam memperjuangkan cita-cita.


“If you think we cannot, InsyaAllah we cannot. If you think we can, InsyaAllah we can.”


Bagi Giri, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa keyakinan perlu berjalan beriringan dengan usaha. Bermimpi besar merupakan langkah awal, tetapi mewujudkannya membutuhkan kesungguhan, konsistensi, dan keberanian untuk terus mengambil langkah.


Kisah dan pemikiran Giri menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju dunia profesional tidak selalu harus dimulai dengan pencapaian besar. Ada proses belajar, pengalaman, dan kesempatan yang perlu dimanfaatkan untuk membangun kemampuan sedikit demi sedikit.


Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang ingin berkarier di dunia olahraga, pesannya jelas: jangan takut mencoba, teruslah belajar, dan persiapkan diri sejak bangku kuliah. Sebab, peluang masa depan tidak hanya ditentukan oleh gelar yang diperoleh, tetapi juga oleh kompetensi, pengalaman, integritas, serta kesiapan untuk menjawab tantangan yang datang

]]>
Dosen UM Indonesia Dipercaya Bertugas di Asian Games Jepang, Begini Cerita Uniknya https://umindonesia.ac.id/dosen-um-indonesia-dipercaya-bertugas-di-asian-games-jepang-begini-cerita-uniknya/ Thu, 15 Oct 2026 02:23:05 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10919

Bekasi-Di balik pertandingan olahraga internasional, ada sosok profesional yang berperan menjaga sportivitas dan keadilan kompetisi. Dr. Giri Prayogo, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), menjadi salah satunya. Berawal dari pelatihan pada 2018, perjalanan panjangnya mengantarkan Giri dipercaya Japan Anti-Doping Agency (JADA) menjadi International Doping Control Officer (IDCO) pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.


Perjalanan Giri di bidang pengendalian doping dimulai pada 2018, ketika ia mengikuti pelatihan Doping Control Officer (DCO) sebagai bagian dari persiapan Asian Para Games di Jakarta. Sejak itu, ia terlibat dalam berbagai kegiatan pengambilan sampel doping di tingkat nasional maupun internasional.


Giri terus mengembangkan kompetensinya melalui pelatihan IDCO, seminar anti-doping internasional di India dan Jepang, DCO Train the Trainer Workshop di Thailand, serta pelatihan lapangan bersama JADA. Berbagai pengalaman tersebut mengantarkannya memperoleh kepercayaan untuk bertugas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.


“Dari setiap kegiatan tersebut, saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai profesionalisme, kedisiplinan, komunikasi, serta pentingnya menjalankan prosedur sesuai dengan standar anti-doping,” ungkap Giri.


Sebagai DCO, Giri bertanggung jawab memastikan proses pengendalian doping berjalan profesional, objektif, dan sesuai International Standards for Testing and Investigations (ISTI). Tugasnya meliputi pemberitahuan kepada atlet, pendampingan, hingga pengambilan sampel urine atau darah.


Ketelitian menjadi hal penting dalam memastikan identitas atlet, integritas sampel, penyegelan, dokumentasi, serta rantai pengawasan sampel (chain of custody) berjalan sesuai prosedur. Tantangan semakin kompleks karena pekerjaan dilakukan dalam lingkungan internasional dengan perbedaan bahasa, budaya, serta penggunaan sistem digital paperless.


Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Giri adalah bekerja bersama para profesional anti-doping dari berbagai negara untuk menjaga prinsip clean sport dan fair play.


“Pekerjaan di balik sebuah event olahraga besar ternyata sangat kompleks. Atlet yang bertanding di lapangan merupakan bagian yang terlihat, sementara ada banyak profesional di belakang layar yang bekerja untuk memastikan kompetisi berjalan dengan baik dan adil,” tuturnya.


Sebagai dosen PJKR UM Indonesia, Giri berharap pengalaman profesionalnya dapat dibagikan kepada mahasiswa melalui pembelajaran akademik. Menurutnya, teori dan praktik saling melengkapi, sementara dunia olahraga menawarkan beragam profesi, tidak hanya atlet dan pelatih.


Ia berpesan agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi melalui organisasi, pelatihan, seminar, penelitian, dan pengalaman profesional.


“Jangan hanya bertanya, ‘Setelah lulus saya akan menjadi apa?’ Tetapi mulai bertanya, ‘Kompetensi apa yang harus saya bangun mulai sekarang agar suatu hari nanti saya dipercaya untuk mengerjakan sesuatu yang besar?’” pesannya.


Perjalanan Giri menjadi pengingat bahwa kesempatan besar dibangun melalui proses belajar, kedisiplinan, integritas, dan konsistensi.

]]>
Harumkan Nama UM Indonesia, Ajeng Mutiara Hati Lolos Google Student Ambassador 2026 Batch 2 https://umindonesia.ac.id/harumkan-nama-um-indonesia-ajeng-mutiara-hati-lolos-google-student-ambassador-2026-batch-2/ Mon, 12 Oct 2026 08:05:19 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10901

BEKASI– Keberanian untuk mencoba hal baru dapat membuka jalan menuju kesempatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal inilah yang dibuktikan Ajeng Mutiara Hati, mahasiswi semester 3 Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), yang berhasil terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 Batch 2.


Pencapaian tersebut menjadi langkah baru bagi Ajeng untuk mengembangkan potensi diri, khususnya di bidang teknologi, komunikasi, dan kepemimpinan. Di tengah kesibukannya menjalani perkuliahan, ia terus aktif mengembangkan kemampuan melalui organisasi mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta pengalaman sebagai Master of Ceremonies (MC) dalam berbagai kegiatan fakultas. Salah satunya, ia dipercaya menjadi MC dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) Fakultas.


Bagi Ajeng, keterlibatan dalam berbagai aktivitas kampus bukan sekadar mengisi waktu di luar perkuliahan. Pengalaman tersebut menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, dan mengasah kemampuan beradaptasi. Bekal inilah yang turut mendukung langkahnya ketika memutuskan untuk mengikuti seleksi Google Student Ambassador 2026.


Perjalanan Ajeng untuk menjadi bagian dari program Google Student Ambassador bukanlah proses yang singkat. Keputusannya mengikuti seleksi berangkat dari tekad untuk mencoba peluang baru sekaligus memperluas pengalaman di bidang teknologi dan kepemimpinan.


Proses seleksi yang harus dilalui terdiri atas beberapa tahapan. Pada tahap pertama, Ajeng melengkapi data diri dan informasi personal melalui formulir pendaftaran. Tantangan berlanjut pada tahap kedua, ketika ia harus merancang Twibbon Challenge sekreatif mungkin serta merekam video wawancara mandiri atau self-recorded interview.


Seleksi kemudian berlanjut ke tahap ketiga melalui Gemini Challenge dan penulisan esai aspirasi diri atau self-aspiration essay. Setiap tahapan menuntut persiapan, kreativitas, serta kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan.


T2Ab2s2m7vlgcs32jJekZKeNcY (1)


Di balik proses tersebut, Ajeng mengerahkan usaha maksimal, meluangkan waktu hingga larut malam untuk menyusun jawaban terbaik, dan menjalani masa penantian hingga pengumuman hasil seleksi tiba.


“Perjalananku untuk bisa tembus dan lolos seleksi sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2 ini benar-benar sebuah proses panjang yang seru, menantang, dan mungkin bisa dibilang penuh perjuangan,” ungkap Ajeng.


Baginya, keberhasilan ini menjadi buah dari keberanian mengambil kesempatan, usaha yang konsisten, dan doa yang menyertai setiap proses. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan berkembang dapat dimulai dari satu keputusan sederhana: berani mencoba.


Terpilih sebagai Google Student Ambassador bukan sekadar pencapaian pribadi bagi Ajeng. Peran tersebut juga membuka kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital kepada mahasiswa di lingkungan kampus.


Dalam menjalankan perannya, Ajeng akan berfokus pada sejumlah misi, di antaranya pembuatan konten edukatif melalui program Misi Konten Epik Gemini dan Google AI yang akan dibagikan melalui media sosial. Melalui konten tersebut, ia ingin membantu mahasiswa mengenal perkembangan teknologi sekaligus memahami penerapannya dalam kegiatan sehari-hari.


Selain itu, Ajeng juga merencanakan kegiatan berbagi, sosialisasi, maupun lokakarya sederhana di lingkungan kampus melalui misi penyelenggaraan acara. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat ekosistem teknologi Google dan mengeksplorasi berbagai perangkat digital yang dapat mendukung proses belajar maupun pekerjaan.


Salah satu hal yang ingin ia tekankan adalah pentingnya membangun pemahaman yang tepat mengenai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman bagi manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan efisiensi.


Melalui pendekatan edukatif tersebut, Ajeng ingin mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab.


Selama mengemban peran sebagai Google Student Ambassador 2026, Ajeng menargetkan peningkatan literasi teknologi dan pemanfaatan perangkat digital modern secara bijak di kalangan mahasiswa. Ia juga ingin menjadi penghubung antara perkembangan inovasi global dan kebutuhan sivitas akademika di lingkungan kampus.


Baginya, pengalaman sebagai ambassador akan menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring komunikasi lintas kampus, berkolaborasi dengan sesama ambassador dari berbagai daerah di Indonesia, serta membawa nama Universitas Muhammadiyah Indonesia ke ruang yang lebih luas.


Pengalaman berorganisasi dan menjadi MC di berbagai kegiatan kampus menjadi modal yang dapat terus dikembangkan dalam menjalankan misi tersebut. Kemampuan berkomunikasi, membangun interaksi dengan audiens, dan menyampaikan informasi secara menarik diharapkan dapat membantunya menjangkau lebih banyak mahasiswa.


Ajeng pun berharap perjalanan ini tidak berhenti pada pencapaian individual, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan, termasuk Pendidikan Agama Islam, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mengambil bagian dalam kemajuan teknologi.


Kisah Ajeng menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dengan pengalaman besar atau kemampuan yang sempurna. Terkadang, langkah pertama justru lahir dari keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk belajar, dan ketekunan dalam menghadapi setiap tantangan.


Melalui pencapaiannya sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2, Ajeng Mutiara Hati membawa pesan sederhana bagi mahasiswa lainnya, jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman, terus kembangkan potensi diri, dan manfaatkan setiap kesempatan untuk bertumbuh. Sebab, satu keberanian hari ini dapat menjadi awal dari perjalanan besar di masa depan.

]]>
UM Indonesia-IMA Bekasi Pastikan Mahasiswa Kembangkan Ide Bisnis Brilian https://umindonesia.ac.id/um-indonesia-ima-bekasi-pastikan-mahasiswa-kembangkan-ide-bisnis-brilian-2/ Fri, 09 Oct 2026 08:03:31 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10877

BEKASI – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) berkolaborasi dengan Indonesian Marketing Association (IMA) Chapter Bekasi dan Pegadaian melalui kegiatan “IMA Goes To Campus: Implementasi Ide Bisnis & Literasi Keuangan (IMPLIS 2026)” Kegiatan tersebut digelar di Gedung L UM Indonesia, sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat wawasan kewirausahaan, pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, serta literasi keuangan,  Kamis (8/10). 


Kegiatan ini menghadirkan sejumlah praktisi dan pelaku usaha sebagai narasumber. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas bagaimana membangun ide bisnis, tetapi juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam mengimplementasikan ide, memahami strategi pemasaran, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta membangun karakter profesional yang mampu beradaptasi dengan dunia kerja dan bisnis yang semakin kompetitif.


Kepala Biro Administrasi dan Kemahasiswaan UM Indonesia, Dr. Hasan Basri, M.Pd., mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan yang diperoleh agar dapat diterapkan dalam dunia nyata.

IMG_5828

BEKASI – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) berkolaborasi dengan Indonesian Marketing Association (IMA) Chapter Bekasi dan Pegadaian melalui kegiatan “IMA Goes To Campus: Implementasi Ide Bisnis & Literasi Keuangan (IMPLIS 2026)” Kegiatan tersebut digelar di Gedung L UM Indonesia, sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat wawasan kewirausahaan, pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, serta literasi keuangan,  Kamis (8/10). 


Kegiatan ini menghadirkan sejumlah praktisi dan pelaku usaha sebagai narasumber. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas bagaimana membangun ide bisnis, tetapi juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam mengimplementasikan ide, memahami strategi pemasaran, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta membangun karakter profesional yang mampu beradaptasi dengan dunia kerja dan bisnis yang semakin kompetitif.


Kepala Biro Administrasi dan Kemahasiswaan UM Indonesia, Dr. Hasan Basri, M.Pd., mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan yang diperoleh agar dapat diterapkan dalam dunia nyata.

IMG_5959

Menurut Dhika, salah satu hal yang kerap menghambat seseorang untuk berkembang adalah tuntutan terhadap kondisi ideal yang terlalu tinggi. Karena itu, mahasiswa didorong untuk menerapkan prinsip “start small”, yakni memulai dari pekerjaan atau kemampuan yang sudah dapat dilakukan, kemudian terus belajar dan meningkatkan kapasitas.


“Start small, lakukan apa yang bisa kita kerjakan lebih dahulu. Selama kita mau bekerja, menyerap ilmu, punya skill, dan mencari lebih tinggi lagi, maka peluang akan terbuka. Yang penting, jadilah orang yang bisa dipercaya,” tutur Dhika.


Ia juga menjelaskan bahwa pengalaman dari pekerjaan yang sederhana dapat menjadi bagian dari proses membangun nilai diri. Kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan konsisten, menurutnya, dapat menjadi modal untuk memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang lebih besar.


Materi kewirausahaan juga disampaikan oleh La Ode Haerun Ghowe, Founder & CEO PT Dcika Prima Mahkota. Ia membagikan pengalaman dalam mengembangkan ide bisnis yang berawal dari hobi hingga menjadi peluang usaha.


La Ode menekankan bahwa ide bisnis tidak akan memberikan hasil apabila tidak segera diwujudkan. Ia mendorong mahasiswa untuk berani memulai, termasuk ketika menghadapi keterbatasan modal.


Pengalamannya dalam mengembangkan bisnis menjadi contoh bahwa sebuah ide dapat berkembang melalui proses, ketekunan, dan kemampuan melihat peluang. Ia menceritakan bagaimana usaha yang pada awalnya dijalankan dengan strategi sederhana kemudian berkembang hingga memiliki puluhan cabang.


Menurutnya, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk segera mengimplementasikan ide yang dimiliki dan terus melakukan evaluasi terhadap peluang yang muncul.


“Kalau punya ide bisnis, cepat direalisasikan dan cari peluang. Ide awal bisa datang dari hobi, kemudian menjadi peluang. Begitu ada peluang, langsung diimplementasikan,” ungkap La Ode.


Selain membahas ide bisnis, para narasumber juga menekankan pentingnya konsistensi dalam belajar dan mengembangkan kemampuan. Dunia kerja dan bisnis yang terus berubah menuntut mahasiswa untuk tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mengambil langkah.


Melalui kegiatan IMA Goes To Campus IMPLIS 2026, UM Indonesia berharap kolaborasi dengan mitra eksternal dapat terus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis, meningkatkan literasi keuangan digital, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan.

Humas UM Indonesia

]]>
Jihan Fahira Ajak Mahasiswa UM Indonesia Implementasikan Nilai Empat Pilar MPR RI dalam Kehidupan Sehari-hari https://umindonesia.ac.id/jihan-fahira-ajak-mahasiswa-um-indonesia-implementasikan-nilai-empat-pilar-mpr-ri-dalam-kehidupan-sehari-hari/ Thu, 08 Oct 2026 08:48:35 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10836

BEKASI – Anggota MPR RI/DPD RI Jihan Fahira mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) untuk tidak hanya memahami Empat Pilar MPR RI sebagai konsep kebangsaan, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Gedung Pascasarjana UM Indonesia, Rabu (7/10/2026).


Dalam kegiatan tersebut, Jihan Fahira menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI memuat nilai-nilai penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.


Menurut Jihan, pemahaman terhadap Empat Pilar tidak cukup berhenti pada pengetahuan maupun slogan. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, sekolah, kampus, maupun organisasi.


 “Karena Empat Pilar itu mengandung banyak ideologi yang baik, yang bagus. Kita punya Pancasila, kita punya Bhinneka Tunggal Ika, kita punya UUD 45, kita punya NKRI. Jadi itu tidak hanya jadi slogan, tapi juga harus dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari, di manapun kita berada, di rumah, bersama teman, di sekolah, di kampus, di organisasi manapun, diterapkan dengan baik. Insya Allah semuanya akan menjadi damai,” ujar Jihan Fahira.


Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa UM Indonesia agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki integritas dan dedikasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


“Pesan saya untuk UM Indonesia, jadilah penerus bangsa yang baik, yang soleh dan solehah, yang berdedikasi tinggi, yang berintegritas untuk agama, bangsa, dan negara.” katanya.


Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UM Indonesia, Dr. Mohammad Harun Al Rasyid, M.Si., menyambut baik pelaksanaan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di lingkungan kampus. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting bagi masyarakat akademik untuk kembali mendapatkan penyegaran mengenai nilai-nilai kebangsaan dalam konteks kehidupan saat ini.


Ia menilai masyarakat secara umum telah mengenal nilai-nilai Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Namun, tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.


“Kegiatan hari ini adalah kita mendapatkan tamu dari anggota DPD berkait dengan sosialisasi Empat Pilar. Tentu sebagai bagian dari akademisi, bagian masyarakat akademisi, kita sangat menyambut baik. Karena Empat Pilar kan terdiri dari Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, sama Undang-Undang 45,” ujar Dr. Mohammad Harun Al Rasyid, M.Si


Ia menambahkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata pada pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut, melainkan pada implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.



“Banyak masyarakat kita sudah memahami nilai-nilai itu, nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI. Problemnya adalah di implementasinya, di pelaksanaannya. Nah, karena itulah dengan adanya kegiatan ini, mudah-mudahan kita bisa diberikan penyegaran, penyegaran nilai-nilai seperti apa sih dalam konteks kekinian,” katanya.


Sebagai bagian dari masyarakat akademik, ia juga menekankan pentingnya mahasiswa melihat persoalan kebangsaan dan kenegaraan secara kritis. Kampus, menurutnya, memiliki ruang untuk mendorong mahasiswa menyampaikan pandangan serta mengembangkan pemikiran terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.


Dr. Mohammad Harun Al Rasyid, M.Si. berharap kegiatan sosialisasi seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Menurutnya, kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memberikan ruang kepada mahasiswa dalam mengekspresikan pemikiran, mengembangkan diri, serta menyampaikan pandangan terkait persoalan kebangsaan dan kenegaraan.


“Tentu saya berharap juga bahwa kegiatan ini tidak hanya sekali, tentu akan banyak kegiatan-kegiatan yang serupa untuk memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berekspresi, mengembangkan dirinya, kepentingannya, pandangannya tentang persoalan-persoalan kebangsaan dan kenegaraan,” tuturnya.


Lebih lanjut, ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak terhadap perkembangan cara berpikir dan bertindak mahasiswa agar tetap berlandaskan nilai-nilai yang telah disepakati sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.


“Kita berharap banyak bahwa kegiatan ini memberikan dampak kepada kemajuan berpikir mahasiswa, kemajuan bertindak mahasiswa yang sesuai dengan nilai-nilai yang sudah kita sepakati sejak zaman dulu. Jadi itu adalah nilai-nilai yang disepakati sebagai sebuah bangsa,” jelasnya.


Melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, UM Indonesia diharapkan terus menjadi ruang akademik yang mendorong mahasiswa memahami sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan generasi yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Humas UM Indonesia

]]>
UM Indonesia Jadi Mitra Strategis Pengembangan ICGC 2027 Menuju Turnamen Golf Antarkampus Nasional https://umindonesia.ac.id/um-indonesia-jadi-mitra-strategis-pengembangan-icgc-2027-menuju-turnamen-golf-antarkampus-nasional/ Thu, 08 Oct 2026 04:57:01 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10826

BEKASI – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) menjajaki kerja sama dengan Indonesia Campus Golf Championship (ICGC) sebagai bagian dari rencana pengembangan ICGC 2027 menjadi turnamen golf antarkampus berskala nasional. Penjajakan tersebut dibahas dalam kunjungan Ketua Organizing Committee (OC) Turnamen Golf ICGC, Dr. Eko Rohmat Ferdiansyah, ke Kampus UM Indonesia, Bekasi, Rabu (7/10).


Kerja sama ini dinilai strategis karena pelaksanaan ICGC Series 1 hingga Series 3 sebelumnya berlangsung di Jawa Timur. Sementara itu, ICGC Series 4 direncanakan berlangsung di Jakarta, sehingga keberadaan UM Indonesia di Bekasi menjadi salah satu potensi strategis dalam pengembangan turnamen golf antarkampus tersebut.


Ketua OC Turnamen Golf ICGC, Dr. Eko Rohmat Ferdiansyah, mengatakan UM Indonesia dipandang memiliki keterbukaan terhadap berbagai hal baru yang bersifat strategis. Menurutnya, kolaborasi dengan UM Indonesia sejalan dengan tujuan ICGC untuk memperluas skala dan keterlibatan perguruan tinggi dalam turnamen golf.


“Selaras dengan tujuan ICGC di 2027 untuk menjadikan turnamen ini menjadi turnamen golf antarkampus dengan skala nasional, kerja sama dengan UM Indonesia dirasa sangat strategis,” ujar Eko.


Selain menjadi bagian dari pengembangan olahraga golf di lingkungan perguruan tinggi, kerja sama tersebut juga membuka peluang bagi mahasiswa UM Indonesia untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan event berskala nasional. Mahasiswa nantinya berpotensi dilibatkan dalam kepanitiaan sekaligus berpartisipasi sebagai peserta yang mewakili kontingen UM Indonesia.


Eko menilai keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan turnamen dapat menjadi ruang pembelajaran untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh di kampus ke dalam dunia nyata.


“Dengan terlibat dalam event turnamen golf dengan taraf nasional, teman-teman mahasiswa langsung belajar apa itu nilai profesionalitas dan tanggung jawab,” katanya.



Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Di sisi lain, keterlibatan dalam olahraga golf juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal dan mempelajari cabang olahraga yang relatif baru bagi sebagian mahasiswa.



Kerja sama ICGC dan UM Indonesia juga berpotensi memberikan dampak terhadap penguatan citra institusi. Selain mengangkat citra dan prestise UM Indonesia melalui keterlibatan dalam turnamen berskala nasional, ICGC juga menyiapkan uang pembinaan senilai *Rp25 juta* untuk mendukung pembinaan UKM Golf UM Indonesia.



Ke depannya, Eko berharap penjajakan ini dapat berlanjut pada kesepakatan kerja sama dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UM Indonesia dan PT Indonesia Golf Berprestasi selaku pemegang hak ICGC. Kesepakatan tersebut nantinya akan menjadi langkah awal untuk mengajukan audiensi kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terkait rencana pelaksanaan turnamen, termasuk upaya menjadikan ICGC sebagai salah satu agenda resmi kementerian.


Melalui penjajakan kerja sama ini, UM Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi bagian dari pengembangan olahraga golf antarkampus, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman profesional melalui keterlibatan langsung dalam penyelenggaraan event berskala nasional.


Humas UM Indonesia
]]>
Begini Cara PPG UM Indonesia Siapkan Ratusan Guru Unggul https://umindonesia.ac.id/begini-cara-ppg-um-indonesia-siapkan-ratusan-guru-unggul/ Thu, 01 Oct 2026 10:59:10 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10707

Bekasi — Sebanyak 112 peserta mengikuti Orientasi Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu Tahap 3 di Hotel Merapi Merbabu, Bekasi, Kamis (1/10). Digelar secara luring dan melalui Zoom, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal lebih jauh proses pembelajaran yang akan mereka jalani selama mengikuti PPG.


Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., mengatakan PPG merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan guru memiliki kompetensi dan pengakuan profesional.


“Hari ini jadi awal penguatan komitmen kita untuk bertumbuh,” ujar Nunuk.


Ia juga menjelaskan bahwa sertifikat profesi menjadi bentuk pengakuan negara terhadap profesi guru. Peserta PPG Guru Tertentu Tahap 3 juga mengikuti program dengan beasiswa penuh dan tanpa dipungut biaya.


Sementara itu, Prof. Dr. Muhammad Dai, M.Si., Apt., yang membuka kegiatan, mengajak peserta melihat PPG bukan hanya sebagai proses untuk mendapatkan sertifikat profesi. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter dan nilai moral.


“Excellent merupakan makna yang selalu memotivasi lebih baik lagi, standar diri masing-masing,” katanya.


Muhammad Dai juga menyampaikan bahwa proses PPG perlu membentuk guru yang profesional sekaligus memiliki karakteristik Muhammadiyah dan semangat berkemajuan.


Dalam sesi materi, peserta mendapat pembahasan mengenai “Mewujudkan Manusia yang Unggul”. Salah satu hal yang dibahas adalah peran guru dalam menghadirkan pendidikan yang profesional sekaligus mendukung kesejahteraan guru.



Tak hanya materi umum, peserta juga dikenalkan dengan struktur kurikulum dan alur pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) PPG Guru Tertentu Tahap 3. Penjelasan ini memberikan gambaran kepada peserta mengenai tahapan pembelajaran dan aktivitas yang akan mereka ikuti selama program berlangsung.


PPG tahap ini juga diikuti oleh peserta penyandang disabilitas. Mereka mendapat kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan profesi guru bersama peserta lainnya.


Dengan mengikuti orientasi ini, peserta mendapat gambaran awal tentang sistem pembelajaran, kurikulum, dan penggunaan LMS sebelum memasuki tahapan PPG selanjutnya.


Muhammad Dai mengingatkan peserta untuk mengikuti proses tersebut dengan sungguh-sungguh.


“Dengan mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, akan lahir pendidik yang mencerahkan dan mewujudkan generasi emas di bangsa yang kita cintai ini,” pungkasnya.

Humas UM Indonesia

]]>
ORMABA UM Indonesia Berlanjut ke Tingkat Fakultas, Mahasiswa Baru Kenali Budaya dan Karakter Setiap Program Studi https://umindonesia.ac.id/ormaba-um-indonesia-berlanjut-ke-tingkat-fakultas-mahasiswa-baru-kenali-budaya-dan-karakter-setiap-program-studi/ Wed, 30 Sep 2026 07:25:32 +0000 https://umindonesia.ac.id/?p=10676

Bekasi — Rangkaian Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) berlanjut ke tingkat fakultas dan program studi pada Sabtu, 26 September 2026. Setelah sebelumnya mahasiswa baru mengikuti pembukaan ORMABA pada Sabtu, 19 September 2026 dan pendalaman mengenai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta berbagai unit layanan mahasiswa, kegiatan kali ini membawa mahasiswa baru lebih dekat dengan lingkungan akademik yang akan menjadi ruang belajar mereka selama menjalani perkuliahan.


Jika pada rangkaian sebelumnya mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus secara umum, ORMABA tingkat fakultas menjadi momentum untuk mengenal lebih jauh fakultas, program studi, dosen, lingkungan akademik, hingga budaya yang menjadi identitas masing-masing program studi.


Rangkaian ORMABA diawali dengan pembukaan pada 19 September 2026 yang berlangsung semarak. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah aksi panjat tebing yang menampilkan formasi launching “UM ID”, menjadi simbol semangat mahasiswa baru dalam memulai perjalanan baru di UM Indonesia.


Kegiatan kemudian berlanjut pada rangkaian kedua yang memberikan pendalaman mengenai UKM dan unit layanan mahasiswa. Mahasiswa baru tidak hanya dikenalkan pada aktivitas akademik, tetapi juga berbagai ruang pengembangan diri yang dapat diikuti selama menjadi mahasiswa. Hal ini sejalan dengan semangat ORMABA sebagai langkah awal untuk membangun talenta profesional yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga karakter dan kemampuan untuk terus berkembang.


Memasuki rangkaian tingkat fakultas pada 26 September, setiap fakultas menyusun kegiatan dengan karakter dan pendekatan masing-masing. Perbedaan susunan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses internalisasi budaya akademik karena mahasiswa baru mulai memahami bahwa setiap bidang keilmuan memiliki karakter, tradisi, kompetensi, dan cara belajar yang berbeda.


Di Fakultas Pendidikan, misalnya, mahasiswa baru mendapatkan pesan mengenai pentingnya memandang pendidikan sebagai proses mempersiapkan masa depan, bukan sekadar mengejar gelar. Dekan Fakultas Pendidikan, Prof. Dr. Bujang, M.Si., menekankan bahwa dunia pendidikan membutuhkan kemampuan untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan belajar.


“Menjalani perkuliahan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang mempersiapkan dan menjalankan masa depan. Pendidikan di masa depan tidak cukup hanya dengan kemampuan mengajar, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan terus belajar,” ujar Prof. Dr. Bujang, M.Si.


Sementara itu, Fakultas Agama Islam membawa mahasiswa baru pada penguatan nilai dan karakter sebagai bagian dari perjalanan akademik. Ketua BEM FAI mendorong mahasiswa untuk berani mencoba hal-hal baru dan tidak takut berkembang. Pesan tersebut diperkuat oleh Ketua Panitia yang menegaskan bahwa ORMABA FAI dibangun dalam suasana inklusif, menyenangkan, serta bebas dari perundungan.


Dekan FAI juga menekankan pentingnya kecintaan terhadap ilmu. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki fondasi karakter dan kompetensi sebagai bekal dalam menjalani kehidupan akademik maupun kehidupan di luar kampus.


Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), mahasiswa baru mendapatkan pengenalan yang lebih spesifik mengenai kurikulum baru yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa angkatan 2026. Pengenalan ini menjadi penting agar mahasiswa memahami arah pembelajaran, struktur akademik, serta kompetensi yang akan dikembangkan selama menempuh pendidikan di program studi masing-masing.


Sementara itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) mengemas rangkaian ORMABA sebagai ruang untuk mengenalkan mahasiswa baru pada lingkungan fakultas sekaligus program studi masing-masing. Berlangsung dari pagi hingga sore, mahasiswa mendapatkan gambaran lebih dekat mengenai dunia akademik FEB serta berbagai aktivitas yang dapat menunjang perkembangan mereka selama berkuliah.


Mahasiswa juga diperkenalkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya sebatas hadir di kelas dan mengikuti pembelajaran. Aktivitas organisasi mahasiswa, membangun jejaring dengan sesama mahasiswa, serta memperluas relasi dengan pihak eksternal menjadi bagian dari pengalaman yang dapat memperkaya perjalanan mahasiswa.


Beragam pendekatan yang diterapkan masing-masing fakultas menunjukkan bahwa ORMABA UM Indonesia tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Rangkaian ini menjadi proses bertahap untuk membawa mahasiswa dari pengenalan lingkungan kampus menuju pemahaman yang lebih dekat terhadap bidang keilmuan dan identitas akademiknya.


Melalui kegiatan di tingkat fakultas dan program studi, mahasiswa baru mulai mengenal “rumah akademik” mereka masing-masing. Di sinilah proses internalisasi budaya program studi mulai dibangun, baik melalui pengenalan kurikulum, nilai, karakter keilmuan, organisasi mahasiswa, hingga interaksi langsung dengan sivitas akademika.


Rangkaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan ORMABA UM Indonesia dengan tema “Membangun Talenta Profesional untuk Masa Depan”. ORMABA dirancang sebagai titik awal perjalanan mahasiswa untuk berkembang menjadi talenta profesional yang berkarakter, kompeten, adaptif, dan memiliki semangat untuk terus belajar.


Dengan demikian, setiap tahapan ORMABA memiliki perannya masing-masing. Pembukaan mengenalkan semangat dan identitas baru UM Indonesia, rangkaian pengenalan UKM dan unit layanan memperluas wawasan mahasiswa mengenai kehidupan kampus, sementara kegiatan fakultas dan program studi membawa mahasiswa lebih dekat dengan bidang keilmuan yang akan mereka tekuni.


Dari sini, perjalanan mahasiswa baru UM Indonesia pun mulai memasuki tahap yang lebih personal: bukan lagi sekadar menjadi bagian dari kampus, tetapi mulai memahami siapa mereka sebagai mahasiswa, bidang apa yang mereka tekuni, serta kompetensi dan karakter apa yang perlu mereka bangun untuk mempersiapkan masa depan. (*)

Humas UM Indonesia

]]>