Bekasi – Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Kalimat itu tampaknya tepat menggambarkan perjalanan Khalida Alifia Ramadhina, alumni Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Komisi Yudisial Republik Indonesia. Berbekal disiplin, ketekunan, dan semangat pantang menyerah, perempuan muda ini membuktikan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui proses yang konsisten.
Setelah menyelesaikan pendidikan pada tahun 2023, Khalida tidak langsung menikmati hasil dari perjuangannya. Ia memilih memusatkan perhatian untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi ASN. Hari-harinya diisi dengan belajar, melatih kedisiplinan, serta menjaga semangat di tengah ketidakpastian hingga akhirnya berhasil lolos dan bergabung dengan Komisi Yudisial Republik Indonesia sebagai Penata Kelola Pemerintahan.
Di lembaga negara tersebut, Khalida terlibat dalam berbagai proses yang mendukung tata kelola pemerintahan, mulai dari koordinasi administrasi pemerintahan, penyusunan dokumen kelembagaan, pengelolaan administrasi organisasi, hingga mendukung pelaksanaan berbagai program strategis. Baginya, setiap pekerjaan memiliki kontribusi penting dalam memastikan organisasi mampu memberikan pelayanan publik yang profesional dan akuntabel.
Ketertarikannya terhadap dunia pemerintahan ternyata telah tumbuh sejak duduk di bangku kuliah. Selama menjadi mahasiswa Ilmu Pemerintahan UM Indonesia, ia banyak mempelajari bagaimana kebijakan publik dirancang, bagaimana lembaga negara bekerja, serta bagaimana keputusan pemerintah berdampak pada kehidupan masyarakat. Pengalaman itulah yang semakin menguatkan tekadnya untuk mengabdikan diri sebagai ASN.
"Bagi saya, menjadi ASN bukan sekadar memiliki profesi atau pekerjaan tetap. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk mengambil bagian dalam upaya memperkuat tata kelola pemerintahan dan mendukung terwujudnya lembaga negara yang profesional, akuntabel, serta dipercaya oleh masyarakat," ujar Khalida.
Ia mengakui bahwa proses menuju cita-cita tersebut bukanlah hal yang mudah. Masa persiapan menghadapi seleksi ASN menjadi pengalaman yang paling membentuk karakter dirinya. Dari proses itu, ia belajar bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh konsistensi dan kesabaran dalam menghadapi setiap tantangan.
"Saya belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh ketekunan, konsistensi, dan kesabaran untuk terus berusaha," tuturnya.
Khalida juga menilai Universitas Muhammadiyah Indonesia memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, kampus tidak hanya memberikan bekal keilmuan mengenai pemerintahan dan kebijakan publik, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, sistematis, serta karakter yang disiplin dan bertanggung jawab. Pengalaman berdiskusi dengan dosen maupun rekan mahasiswa menjadi salah satu momen yang paling berkesan karena melatih kemampuan berpikir terbuka dan menghargai perbedaan pendapat, keterampilan yang kini sangat berguna dalam dunia profesional.
Kisah Khalida menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, integritas, dan kompetensi. Perjalanan alumninya yang kini mengabdi di salah satu lembaga negara menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi bagi bangsa selama memiliki kemauan belajar, kerja keras, dan komitmen terhadap pengabdian.
Menutup wawancaranya, Khalida berpesan kepada mahasiswa agar tidak takut memiliki cita-cita besar. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil selama terus berproses dan tidak berhenti belajar.
"Jangan pernah merasa bahwa mimpi kalian terlalu besar. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai di tujuan, melainkan apakah kita terus melangkah menuju tujuan tersebut," pesannya.
Kisah Khalida Alifia Ramadhina menjadi inspirasi bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah. Dari ruang-ruang diskusi di bangku kuliah hingga mengemban amanah di Komisi Yudisial Republik Indonesia, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa integritas, kerja keras, dan semangat belajar merupakan fondasi utama dalam membangun karier sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
