Angkat Jamu Tradisional ke Pasar Generasi Z, Mahasiswa UM Indonesia Raih Juara 2 Studentpreneur Bootcamp 2026

Bekasi – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia). Tim Kewirausahaan (KWU) UM Indonesia melalui unit usaha Jamu Budeh Mita berhasil meraih Juara 2 Kategori Bisnis Kuliner Siap Saji pada ajang Studentpreneur Bootcamp 2026 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17–19 Juli 2026. Prestasi tersebut diraih oleh empat mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, yakni Muhammad Abdullah, Hendy Cahya Wiguna, Marcellina Yulita Irawati, dan Nurul Hidayah, yang sukses menghadirkan inovasi jamu tradisional dalam kemasan modern sehingga mampu bersaing dengan puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

 

Jamu Budeh Mita menjadi bukti bahwa produk berbasis kearifan lokal mampu bersaing di tingkat nasional apabila dikembangkan melalui inovasi, kualitas, dan strategi bisnis yang tepat. Di hadapan dewan juri, Jamu Budeh Mita berhasil mencuri perhatian berkat cita rasa khas, kualitas rempah, serta konsep penyajian jamu tradisional yang dikemas lebih modern.

 

Menariknya, Jamu Budeh Mita bukanlah usaha yang baru dirintis. Produk ini telah berdiri sejak 1992 sebagai usaha keluarga yang diawali dari penjualan jamu menggunakan bakul dan sepeda. Seiring bertambahnya pelanggan, distribusi pun berkembang menggunakan sepeda motor hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, Jamu Budeh Mita memiliki tujuh varian produk, yaitu beras kencur, kunyit asam, kunyit tawar, paitan, temulawak, sirih, dan jahe, dengan produk terlaris berupa beras kencur, kunyit asam, dan jahe.

 

Keunggulan Jamu Budeh Mita terletak pada penggunaan 100 persen bahan alami yang berasal dari rempah-rempah lokal, seperti jahe emprit, kunyit biang, temulawak, daun sirih, beras, gula aren Jawa, asam Jawa, dan bahan alami lainnya yang diperoleh melalui kemitraan dengan petani lokal. Penggunaan jahe emprit memberikan sensasi rasa yang lebih kuat, sementara kunyit biang menghasilkan tekstur jamu yang lebih kental dan kaya rasa dibandingkan produk sejenis di pasaran.

 

Menurut tim pengembang, lahirnya Jamu Budeh Mita dilatarbelakangi oleh keinginan menghadirkan alternatif minuman sehat di tengah meningkatnya konsumsi minuman tinggi gula, khususnya di kalangan generasi muda. Mereka ingin mengubah stigma bahwa jamu identik dengan rasa pahit melalui formulasi rasa yang lebih ramah di lidah tanpa mengurangi manfaat kesehatan yang terkandung di dalamnya.

 

"Kami ingin membuktikan bahwa jamu bisa dinikmati seperti minuman pada umumnya. Rasanya dapat disesuaikan dengan selera konsumen sehingga lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda. Kami ingin menghilangkan stigma bahwa jamu itu pahit, sehingga masyarakat, khususnya anak muda, dapat menjadikan jamu sebagai pilihan minuman sehat sehari-hari," ujar Marcellina Yulita Irawati, anggota Tim Jamu Budeh Mita UM Indonesia.

 

Untuk menjaga kualitas, seluruh proses produksi dilakukan melalui tahapan yang terstandar, mulai dari pemilihan rempah berkualitas, pencucian, penjemuran, pembakaran rempah untuk memunculkan aroma alami, pemarutan secara manual agar sari rempah keluar maksimal, proses penghalusan, penyaringan, hingga perebusan. Selain itu, produk juga telah menggunakan kemasan modern sebagai upaya meningkatkan daya tarik dan nilai jual di pasaran.

006

Dalam kompetisi Studentpreneur Bootcamp 2026, tim mempresentasikan seluruh varian produk Jamu Budeh Mita. Menurut mereka, aspek yang paling mendapat apresiasi dari dewan juri adalah cita rasa yang khas, tekstur jamu yang lebih kental, serta kualitas produk yang tetap mempertahankan kekayaan rempah Nusantara.

 

Selain mengikuti kompetisi, delegasi UM Indonesia juga mengikuti berbagai rangkaian pelatihan dalam Studentpreneur Bootcamp 2026 yang mengusung tema "Entrepreneurial Mindset & Business Networking: Strategi Mengelola Bisnis Berkelanjutan." Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas jejaring bisnis, mengasah kemampuan kewirausahaan, serta mempelajari strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan.

 

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan yang diberikan oleh Tim Kewirausahaan (KWU) dan Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni (DIKA) UM Indonesia yang terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan usaha berbasis inovasi dan potensi lokal. Prestasi ini sekaligus menjadi implementasi komitmen UM Indonesia dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja.

 

Ke depan, Tim Jamu Budeh Mita menargetkan penyelesaian berbagai sertifikasi produk, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan sertifikasi halal. Selain itu, mereka juga berencana memperluas pemasaran ke swalayan, supermarket, serta kantin, sekaligus melakukan pengembangan desain kemasan agar semakin kompetitif di pasar nasional.

 

Prestasi yang diraih Jamu Budeh Mita menjadi bukti bahwa warisan kuliner dan pengobatan tradisional Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi bisnis modern yang berdaya saing. Dengan inovasi yang dilakukan mahasiswa UM Indonesia, jamu tidak lagi dipandang sebagai minuman tradisional semata, melainkan sebagai produk kesehatan yang relevan dengan gaya hidup masyarakat masa kini dan mampu bersaing di tingkat nasional. *

Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia