Dosen UM Indonesia Dipercaya Bertugas di Asian Games Jepang, Begini Cerita Uniknya

Bekasi-Di balik pertandingan olahraga internasional, ada sosok profesional yang berperan menjaga sportivitas dan keadilan kompetisi. Dr. Giri Prayogo, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), menjadi salah satunya. Berawal dari pelatihan pada 2018, perjalanan panjangnya mengantarkan Giri dipercaya Japan Anti-Doping Agency (JADA) menjadi International Doping Control Officer (IDCO) pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.


Perjalanan Giri di bidang pengendalian doping dimulai pada 2018, ketika ia mengikuti pelatihan Doping Control Officer (DCO) sebagai bagian dari persiapan Asian Para Games di Jakarta. Sejak itu, ia terlibat dalam berbagai kegiatan pengambilan sampel doping di tingkat nasional maupun internasional.


Giri terus mengembangkan kompetensinya melalui pelatihan IDCO, seminar anti-doping internasional di India dan Jepang, DCO Train the Trainer Workshop di Thailand, serta pelatihan lapangan bersama JADA. Berbagai pengalaman tersebut mengantarkannya memperoleh kepercayaan untuk bertugas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.


“Dari setiap kegiatan tersebut, saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai profesionalisme, kedisiplinan, komunikasi, serta pentingnya menjalankan prosedur sesuai dengan standar anti-doping,” ungkap Giri.


Sebagai DCO, Giri bertanggung jawab memastikan proses pengendalian doping berjalan profesional, objektif, dan sesuai International Standards for Testing and Investigations (ISTI). Tugasnya meliputi pemberitahuan kepada atlet, pendampingan, hingga pengambilan sampel urine atau darah.


Ketelitian menjadi hal penting dalam memastikan identitas atlet, integritas sampel, penyegelan, dokumentasi, serta rantai pengawasan sampel (chain of custody) berjalan sesuai prosedur. Tantangan semakin kompleks karena pekerjaan dilakukan dalam lingkungan internasional dengan perbedaan bahasa, budaya, serta penggunaan sistem digital paperless.


Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Giri adalah bekerja bersama para profesional anti-doping dari berbagai negara untuk menjaga prinsip clean sport dan fair play.


“Pekerjaan di balik sebuah event olahraga besar ternyata sangat kompleks. Atlet yang bertanding di lapangan merupakan bagian yang terlihat, sementara ada banyak profesional di belakang layar yang bekerja untuk memastikan kompetisi berjalan dengan baik dan adil,” tuturnya.


Sebagai dosen PJKR UM Indonesia, Giri berharap pengalaman profesionalnya dapat dibagikan kepada mahasiswa melalui pembelajaran akademik. Menurutnya, teori dan praktik saling melengkapi, sementara dunia olahraga menawarkan beragam profesi, tidak hanya atlet dan pelatih.


Ia berpesan agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi melalui organisasi, pelatihan, seminar, penelitian, dan pengalaman profesional.


“Jangan hanya bertanya, ‘Setelah lulus saya akan menjadi apa?’ Tetapi mulai bertanya, ‘Kompetensi apa yang harus saya bangun mulai sekarang agar suatu hari nanti saya dipercaya untuk mengerjakan sesuatu yang besar?’” pesannya.


Perjalanan Giri menjadi pengingat bahwa kesempatan besar dibangun melalui proses belajar, kedisiplinan, integritas, dan konsistensi.