BEKASI– Keberanian untuk mencoba hal baru dapat membuka jalan menuju kesempatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal inilah yang dibuktikan Ajeng Mutiara Hati, mahasiswi semester 3 Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), yang berhasil terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 Batch 2.
Pencapaian tersebut menjadi langkah baru bagi Ajeng untuk mengembangkan potensi diri, khususnya di bidang teknologi, komunikasi, dan kepemimpinan. Di tengah kesibukannya menjalani perkuliahan, ia terus aktif mengembangkan kemampuan melalui organisasi mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta pengalaman sebagai Master of Ceremonies (MC) dalam berbagai kegiatan fakultas. Salah satunya, ia dipercaya menjadi MC dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) Fakultas.
Bagi Ajeng, keterlibatan dalam berbagai aktivitas kampus bukan sekadar mengisi waktu di luar perkuliahan. Pengalaman tersebut menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, dan mengasah kemampuan beradaptasi. Bekal inilah yang turut mendukung langkahnya ketika memutuskan untuk mengikuti seleksi Google Student Ambassador 2026.
Perjalanan Ajeng untuk menjadi bagian dari program Google Student Ambassador bukanlah proses yang singkat. Keputusannya mengikuti seleksi berangkat dari tekad untuk mencoba peluang baru sekaligus memperluas pengalaman di bidang teknologi dan kepemimpinan.
Proses seleksi yang harus dilalui terdiri atas beberapa tahapan. Pada tahap pertama, Ajeng melengkapi data diri dan informasi personal melalui formulir pendaftaran. Tantangan berlanjut pada tahap kedua, ketika ia harus merancang Twibbon Challenge sekreatif mungkin serta merekam video wawancara mandiri atau self-recorded interview.
Seleksi kemudian berlanjut ke tahap ketiga melalui Gemini Challenge dan penulisan esai aspirasi diri atau self-aspiration essay. Setiap tahapan menuntut persiapan, kreativitas, serta kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan.
Di balik proses tersebut, Ajeng mengerahkan usaha maksimal, meluangkan waktu hingga larut malam untuk menyusun jawaban terbaik, dan menjalani masa penantian hingga pengumuman hasil seleksi tiba.
“Perjalananku untuk bisa tembus dan lolos seleksi sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2 ini benar-benar sebuah proses panjang yang seru, menantang, dan mungkin bisa dibilang penuh perjuangan,” ungkap Ajeng.
Baginya, keberhasilan ini menjadi buah dari keberanian mengambil kesempatan, usaha yang konsisten, dan doa yang menyertai setiap proses. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan berkembang dapat dimulai dari satu keputusan sederhana: berani mencoba.
Terpilih sebagai Google Student Ambassador bukan sekadar pencapaian pribadi bagi Ajeng. Peran tersebut juga membuka kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital kepada mahasiswa di lingkungan kampus.
Dalam menjalankan perannya, Ajeng akan berfokus pada sejumlah misi, di antaranya pembuatan konten edukatif melalui program Misi Konten Epik Gemini dan Google AI yang akan dibagikan melalui media sosial. Melalui konten tersebut, ia ingin membantu mahasiswa mengenal perkembangan teknologi sekaligus memahami penerapannya dalam kegiatan sehari-hari.
Selain itu, Ajeng juga merencanakan kegiatan berbagi, sosialisasi, maupun lokakarya sederhana di lingkungan kampus melalui misi penyelenggaraan acara. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat ekosistem teknologi Google dan mengeksplorasi berbagai perangkat digital yang dapat mendukung proses belajar maupun pekerjaan.
Salah satu hal yang ingin ia tekankan adalah pentingnya membangun pemahaman yang tepat mengenai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman bagi manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan efisiensi.
Melalui pendekatan edukatif tersebut, Ajeng ingin mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab.
Selama mengemban peran sebagai Google Student Ambassador 2026, Ajeng menargetkan peningkatan literasi teknologi dan pemanfaatan perangkat digital modern secara bijak di kalangan mahasiswa. Ia juga ingin menjadi penghubung antara perkembangan inovasi global dan kebutuhan sivitas akademika di lingkungan kampus.
Baginya, pengalaman sebagai ambassador akan menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring komunikasi lintas kampus, berkolaborasi dengan sesama ambassador dari berbagai daerah di Indonesia, serta membawa nama Universitas Muhammadiyah Indonesia ke ruang yang lebih luas.
Pengalaman berorganisasi dan menjadi MC di berbagai kegiatan kampus menjadi modal yang dapat terus dikembangkan dalam menjalankan misi tersebut. Kemampuan berkomunikasi, membangun interaksi dengan audiens, dan menyampaikan informasi secara menarik diharapkan dapat membantunya menjangkau lebih banyak mahasiswa.
Ajeng pun berharap perjalanan ini tidak berhenti pada pencapaian individual, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan, termasuk Pendidikan Agama Islam, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mengambil bagian dalam kemajuan teknologi.
Kisah Ajeng menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dengan pengalaman besar atau kemampuan yang sempurna. Terkadang, langkah pertama justru lahir dari keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk belajar, dan ketekunan dalam menghadapi setiap tantangan.
Melalui pencapaiannya sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2, Ajeng Mutiara Hati membawa pesan sederhana bagi mahasiswa lainnya, jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman, terus kembangkan potensi diri, dan manfaatkan setiap kesempatan untuk bertumbuh. Sebab, satu keberanian hari ini dapat menjadi awal dari perjalanan besar di masa depan.
