BEKASI – Menjadi bagian dari ajang olahraga internasional bukanlah satu-satunya pencapaian yang dapat diraih seseorang di dunia olahraga. Di balik pertandingan dan perjuangan para atlet, terdapat berbagai profesi yang turut menjaga integritas olahraga, salah satunya Doping Control Officer (DCO). Pengalaman di bidang inilah yang dijalani Dr. Giri Prayogo, M.Pd., dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia).
Pengalaman profesional tersebut tidak hanya menjadi perjalanan karier bagi Giri, tetapi juga memperkaya perannya sebagai pendidik. Baginya, dunia akademik dan dunia profesional bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun kompetensi dan memperluas wawasan di bidang olahraga.
Sebagai dosen PJKR UM Indonesia, Giri tidak hanya menyampaikan teori kepada mahasiswa, tetapi juga mengikuti perkembangan dunia olahraga. Pengalamannya sebagai DCO menjadi bekal untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan.
Menurutnya, pengalaman profesional dapat memberikan gambaran yang lebih luas kepada mahasiswa mengenai peluang karier di bidang olahraga. Dunia olahraga tidak hanya menawarkan profesi sebagai atlet atau pelatih, tetapi juga mencakup sport management, sport science, sport nutrition, event management, hingga DCO.
“Pengalaman saya sebagai Doping Control Officer (DCO) memberikan pengalaman praktis yang kemudian dapat saya kaitkan dengan materi pembelajaran dan saya bagikan kepada mahasiswa,” ungkapnya.
Bagi Giri, pembelajaran di bangku kuliah merupakan fondasi penting bagi mahasiswa untuk memahami konsep dan permasalahan dalam ilmu keolahragaan. Namun, pengetahuan tersebut perlu dilengkapi dengan pengalaman langsung agar dapat diterapkan dalam situasi nyata.
Ia menilai bahwa dunia profesional memiliki tantangan yang tidak selalu sama dengan contoh yang dipelajari melalui buku atau materi perkuliahan. Dalam pelaksanaan tugas di bidang anti-doping, misalnya, terdapat prosedur dan standar yang harus dipatuhi. Meski demikian, kondisi di lapangan dapat berbeda-beda dan menuntut kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat sesuai prosedur.
Perbedaan bahasa, kondisi atlet, keterbatasan waktu, lokasi pertandingan atau venue yang berbeda, hingga situasi yang tidak terduga menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
“Teori memberikan dasar, sedangkan pengalaman memberikan kemampuan untuk menerapkan teori tersebut dalam situasi nyata. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia profesional. Tidak cukup hanya memahami konsep secara akademik, mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan beradaptasi, menganalisis situasi, dan menerapkan pengetahuan sesuai kebutuhan di lapangan.
Di sisi lain, Giri menilai lingkungan akademik turut membantunya menjalankan profesi sebagai DCO. Dunia akademik membentuk pola berpikir yang sistematis, mengasah kemampuan menganalisis dan mengevaluasi proses, serta mendorong dirinya untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.
Dengan demikian, pengalaman profesional dapat memperkaya pembelajaran di kampus, sementara pendidikan akademik membantu seseorang menjalankan tugas profesional dengan lebih sistematis.
Bagi calon mahasiswa yang ingin menekuni bidang olahraga, Giri berpesan agar tidak membatasi pandangan hanya pada profesi atlet dan pelatih. Menurutnya, perkembangan dunia olahraga membuka peluang bagi berbagai bidang keahlian yang dapat menjadi pilihan karier masa depan.
Selain DCO, terdapat profesi akademisi, tenaga sport science, fisioterapis, psikolog olahraga, nutritionist, event organizer, sport manager, wasit, analis olahraga, peneliti, serta berbagai profesi lainnya.
Luasnya peluang tersebut perlu diimbangi dengan persiapan kompetensi sejak masa kuliah. Giri menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya perlu mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, bahasa asing, kerja sama tim, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak sekadar mengejar ijazah. Masa kuliah perlu dimanfaatkan untuk membangun pengalaman melalui organisasi, pelatihan, seminar, penelitian, kegiatan yang berkaitan dengan dunia olahraga, hingga memperluas jaringan atau networking.
“Karena ketika lulus nanti, yang dibutuhkan bukan hanya ijazah, tetapi juga kompetensi, pengalaman, jaringan, dan kesiapan untuk masuk ke dunia profesional,” tuturnya.
Menurut Giri, pengalaman yang dibangun selama kuliah dapat membuka lebih banyak peluang setelah lulus. Karena itu, mahasiswa perlu berani mencoba berbagai hal, terus belajar, dan tidak membatasi diri hanya pada satu bidang dalam dunia olahraga.
Ketika ditanya mengenai pesan bagi calon mahasiswa yang sedang menentukan pilihan kampus dan jurusan, Giri menegaskan pentingnya membangun kompetensi dan pengalaman sejak awal perkuliahan.
Baginya, kampus merupakan tempat untuk membangun fondasi, mulai dari memperoleh ilmu, membentuk karakter, memperluas wawasan, hingga mengembangkan kemampuan. Fondasi tersebut kemudian menjadi bekal ketika seseorang memasuki dunia profesional dan menghadapi tantangan nyata.
Ia meyakini bahwa mahasiswa yang memiliki cita-cita besar perlu mulai mempersiapkan diri melalui langkah-langkah konkret. Kesempatan untuk terlibat dalam ajang olahraga internasional atau menjalankan tanggung jawab yang lebih besar bukanlah sesuatu yang harus dianggap mustahil, selama ada kemauan untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri.
Giri sendiri merasakan bahwa perjalanan profesional dibangun secara bertahap melalui proses belajar, mengikuti pelatihan, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas, membangun relasi, dan membuka diri terhadap berbagai kesempatan.
Karena itu, ia mengajak calon mahasiswa untuk mengubah cara pandang dalam merencanakan masa depan. Bukan hanya bertanya tentang profesi yang akan dijalani setelah lulus, tetapi juga memikirkan kompetensi yang perlu dibangun sejak sekarang agar kelak mampu memperoleh kepercayaan untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.
“Dan yang tidak kalah penting, jangan takut untuk bermimpi dan jangan membatasi diri. Percaya bahwa apa yang kita cita-citakan dapat kita perjuangkan dengan usaha, doa, dan konsistensi,” pesannya.
Menutup pesannya, Giri menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan pentingnya keyakinan dalam memperjuangkan cita-cita.
“If you think we cannot, InsyaAllah we cannot. If you think we can, InsyaAllah we can.”
Bagi Giri, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa keyakinan perlu berjalan beriringan dengan usaha. Bermimpi besar merupakan langkah awal, tetapi mewujudkannya membutuhkan kesungguhan, konsistensi, dan keberanian untuk terus mengambil langkah.
Kisah dan pemikiran Giri menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju dunia profesional tidak selalu harus dimulai dengan pencapaian besar. Ada proses belajar, pengalaman, dan kesempatan yang perlu dimanfaatkan untuk membangun kemampuan sedikit demi sedikit.
Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang ingin berkarier di dunia olahraga, pesannya jelas: jangan takut mencoba, teruslah belajar, dan persiapkan diri sejak bangku kuliah. Sebab, peluang masa depan tidak hanya ditentukan oleh gelar yang diperoleh, tetapi juga oleh kompetensi, pengalaman, integritas, serta kesiapan untuk menjawab tantangan yang datang
