Seminar Service Excellent: Care adalah ‘Empaty’ dan ‘Action’, Budayakan Apresiasi sebelum Evaluasi

Bekasi- Pada konsep Service Excellent, excellent itu sebenarnya adalah hasil, yang penting itu culture alias prosesnya. Pahami dulu kebutuhan pelanggan apa, masalahnya apa, lalu temukan solusinya. Hal ini disampaikan oleh narasumber Baharudin Yusuf Wibowo, Founder of ERAHAJJ, pada Seminar Service Excellent Bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Selasa (22/09), Gedung Pascasarjana lantai III.

 “Salah satu cara menuju service excellent itu dengan pelayanan berorientasi pada pelanggan, yaitu melalui ‘care’. Care itu artinya apa? Secara terjemahan artinya peduli, tapi kalau dalam pelayanan maksudnya bagaimana? Rumusnya: Care = Empaty + Action. Kalau hanya peduli, kasihan (empaty) tanpa adanya action yang tepat, itu bukan care! Cari tahu dulu kebutuhan pelanggan apa, masalahnya apa, baru berikan solusi masalah pelanggan tersebut,kata narasumber Baharudin Yusuf Wibowo.

 

IMG_1763


Seminar ini diselenggarakan oleh UNISMA Bekasi melalui Direktorat Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia (DUKS). Acara dibuka oleh Rektor UNISMA Bekasi Dr. Hermanto, Drs., M.M., M.Pd., didampingi oleh Wakil Rektor I Dr. Amin., M.Si., Wakil Rektor II Diana Fajarwati, M.M., Wakil Rektor III Dr. H. Abdul Khoir HS, Drs., M.Pd., dan Wakil Rektor IV Dr. H. M. Harun Alrasyid, M.Si.

Dalam sambutannya Rektor menyampaikan pentingnya pelatihan SDM mengingat dinamika perubahan zaman dan teknologi yang tentunya mempengaruhi metode dan cara pelayanan. Kemudian pentingnya menghadirkan ketulusan, hati dan ikhlas dalam pelayanan.

“Saya rasa, kita semua sudah merindukan kembali pelatihan-pelatihan SDM seperti ini. Mengisi daya ulang kembali, mengenai melayani sepenuh hati. Melayani bukan hanya menggugurkan kewajiban, hadirkan pula ketulusan dan hati yang ikhlas. Pelayanan di tahun 2019 pasti berbeda di tahun sekarang, terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi, pasti berbeda cara pelayanannya,” ucap Rektor UNISMA Bekasi Dr. Hermanto, Drs., M.M., M.Pd.

 


Customer Engagement  Berasal Dari Internal Engagement

“Dari contoh video tadi, kita bisa lihat bahwa “Testimoni itu dibuat dari pengalaman”. Tampak di video calon pelanggan mencari referensi pelayanan dari pelanggan yang sudah merasakan sebelumnya. Referensi, testimoni dari mulut ke mulut itu marketing bernilai tinggi, itu bisnis sesungguhnya,” papar narasumber.

Lebih lanjut narasumber menyebutkan istilah Customer Engagement alias keterlibatan (interaksi) pelanggan.  Interaksi ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari pertanyaan, komentar, pembelian, hingga layanan purna jual setelah mereka melakukan pembelian. Dalam paparan narasumber, disebutkan bahwa  Customer Engagement Berasal dari Internal Engagement.

“Ada 5 ruang yang wajib ada pada internal tim agar bisnis dapat mengarah pada customer engagement yang baik. 1) Ruang untuk impian, 2) Ruang untuk pengembangan, 3) Ruang untuk Apresiasi, 4) Ruang untuk Evaluasi, 5) Ruang untuk Spiritual,” kata narasumber.

 

b

 

Pondasi Penting Dalam Bisnis: Internalisasi Tujuan dan Visi-Misi Perusahaan

Tidak mungkin kita memberikan sesuatu kepada orang lain apa yang kita tidak miliki. Dalam service excellent penting sekali, visi-misi, tujuan dan budaya perusahaan diketahui dan dipahami oleh setiap unsur karyawan terutama pimpinan.

Nilai-nilai perusahaan yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat setiap karyawan memahami apa yang perlu dan harus dilakukan dalam bekerja sehingga, bisnis dapat mencapai tujuan perusahaan.

“Akan sulit bagi bisnis bisa mencapai sebuah tujuan, jika tiap unsur perusahaan bekerja dengan waktu dan caranya masing-masing,” papar narasumber.

Pondasi terpenting dalam bisnis dan akan mempengaruhi satu sama lain ialah :

1.       Corporate Value à  Menyamakan Tindakan

2.       Vission and Mission à Menyamakan Arah Tujuan

3.       Corporate Culture à Menyamakan Prinsip Dasar

Corporate Culture atau budaya perusahaan inilah yang akan berdampak dan mempengaruhi bagaimana service culture suatu bisnis kepada pelanggannya. Selanjutnya akan berdampak pada pengalaman pelayanan yang dirasakan oleh pelanggan hingga menimbulkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan.

 

a

Budayakan Apresiasi sebelum Evaluasi

Mendekati sesi akhir, narasumber mengatakan service culture yang baik haruslah berorientasi pada pelanggan atau customer centric sehingga nilai customer engagement-nya tinggi.

“Dalam manajemen SDM yang akan melakukan service berpusat pada pelanggan (customer centic), disebutkan sebelumnya dimulai dari membangun 5 ruang pada internal tim. Ruang untuk impian, ruang untuk pengembangan, ruang untuk apresiasi, ruang untuk evaluasi dan ruang untuk spiritual. Biasakan untuk selalu membudayakan apreasiasi terhadap pekerjaan baru melakukan evaluasi,” kata narasumber.

Terbentuknya ruang-ruang tersebut harus didesain agar menimbulkan stimulus-stimulus baik pada karyawan yang sejalan dengan tujuan perusahaan. Kemudian 5 ruang tersebut perlu dilakukan secara berurutan.

“Jadi ada ruang pengembangan dulu, ruang apresiasi, kemudian baru ruang evaluasi,” ucap narasumber.

Evaluasi berupa survei perlu rutin dilakukan sebaiknya 1 bulan sekali, dan tiap minggu sekitar 30 menit pada tim-tim kecil. Evaluasi rutin per minggu yang dimaksud adalah berbagi pengalaman antar karyawan. Bagaimana cara mereka memecahkan komplain pelanggan, solusi yang disarankan dan kendala-kendala dalam pelayanan. Diskusi dan sharing bagaimana membantu menyelesaikan kebutuhan pelanggan.

 

Pahami Esensi Melayani

“Sering kita mendengar melayani dari hati, melayani dengan ikhlas, tapi caranya bagaimana? Kuncinya kita harus bahagia dulu. Ingat Kebahagiaan itu bukan dipengaruhi oleh posisi. Kebahagiaan diri adalah tanggung jawab pribadi, bukan dipengaruhi kondisi,” kata narasumber.

 

c