Dosen UM Indonesia Ini Kembangkan Model OIKASAI, Solusi agar Mahasiswa Jaga Lingkungan

Bekasi — Persoalan lingkungan tidak cukup hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas. Mahasiswa perlu diajak melihat langsung persoalan di sekitarnya, memahami penyebab dan dampaknya, merancang solusi, hingga mengambil tindakan nyata. Gagasan inilah yang menjadi fokus riset Dr. Jaka Waluya, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID), melalui pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Kerusakan Lingkungan yang dikenal dengan akronim OIKASAI.


Riset tersebut mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa, khususnya di wilayah Bekasi dan sekitarnya, seperti pencemaran air, penumpukan sampah, banjir, pencemaran udara, alih fungsi lahan, hingga berkurangnya ruang terbuka hijau. Persoalan-persoalan tersebut tidak ditempatkan hanya sebagai materi pembelajaran, tetapi dijadikan sumber belajar utama agar mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari.


Salah satu gagasan penting dalam riset Dr. Jaka adalah mengubah cara mahasiswa mempelajari isu lingkungan. Pembelajaran yang sebelumnya cenderung berorientasi pada penguasaan konsep diarahkan menjadi pembelajaran yang aktif, kontekstual, kolaboratif, berbasis masalah, dan berorientasi pada tindakan.


Model yang dikembangkan menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama. Mereka tidak hanya menerima informasi dari dosen, tetapi dilibatkan untuk mengamati persoalan, mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis penyebab dan dampak, menyusun alternatif solusi, melakukan aksi, kemudian merefleksikan pengalaman belajar yang telah dilakukan.


Pendekatan tersebut menjadi penting karena kesadaran lingkungan tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak mahasiswa mengetahui persoalan lingkungan. Dalam riset ini, kesadaran lingkungan dipahami melalui tiga aspek utama, yaitu pengetahuan lingkungan, sikap peduli lingkungan, dan perilaku ramah lingkungan.


Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak berhenti ketika mahasiswa mampu menjelaskan apa itu pencemaran atau banjir. Lebih jauh, mahasiswa diarahkan agar mampu memahami akar persoalan, memiliki kepedulian, menyusun solusi, dan menunjukkan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.


Kebaruan yang menonjol dari model tersebut terdapat pada sintaks OIKASAI, yang merupakan akronim dari Orientasi, Identifikasi, Kolaborasi, Analisis, Solusi, Aksi, dan Introspeksi Refleksi. Ketujuh tahap tersebut dirancang sebagai alur pembelajaran yang sistematis, mulai dari membangun kesadaran awal hingga mendorong mahasiswa melakukan tindakan nyata.


Pada tahap Orientasi, dosen menghadirkan persoalan lingkungan nyata melalui gambar, video, berita, data, atau kasus faktual. Tujuannya membangun perhatian dan rasa ingin tahu mahasiswa terhadap persoalan yang akan dikaji.


Tahap berikutnya adalah Identifikasi, ketika mahasiswa mulai mengamati fakta, mengenali bentuk kerusakan lingkungan, dan merumuskan masalah yang akan dianalisis. Selanjutnya, melalui tahap Kolaborasi, mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk mencari informasi, mengumpulkan data, bertukar gagasan, dan membangun pemahaman bersama.


Pada tahap Analisis, data dan temuan lapangan dikaitkan dengan konsep akademik. Mahasiswa tidak sekadar melihat gejala kerusakan lingkungan, tetapi dilatih menganalisis penyebab, dampak, serta hubungan antara persoalan lingkungan dengan aktivitas manusia dan konsep yang dipelajari.


Setelah memahami persoalan, mahasiswa masuk ke tahap Solusi dengan merancang alternatif pemecahan yang realistis dan sesuai dengan kondisi lingkungan. Kemudian pada tahap Aksi, mahasiswa menerjemahkan gagasan tersebut menjadi tindakan nyata, misalnya kampanye kebersihan, pengelolaan sampah, penanaman pohon, edukasi lingkungan, atau observasi lanjutan.


Tahap terakhir adalah Introspeksi Refleksi, yaitu mahasiswa dan dosen mengevaluasi proses, hasil, pengalaman belajar, serta perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang muncul selama pembelajaran.


Model OIKASAI dirancang untuk menghasilkan perubahan pada tiga ranah. Pada ranah kognitif, mahasiswa diharapkan semakin memahami jenis, penyebab, dampak, dan solusi persoalan lingkungan. Pada ranah afektif, pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kepekaan terhadap lingkungan. Sementara pada ranah perilaku, mahasiswa didorong untuk melakukan tindakan nyata dalam menjaga dan memperbaiki lingkungan.


Riset ini juga memberikan perhatian khusus pada posisi mahasiswa FKIP sebagai calon pendidik. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga diharapkan mampu membawa nilai kepedulian lingkungan ke ruang kelas ketika kelak menjadi pendidik.


Karena itu, model ini memiliki relevansi yang kuat bagi pendidikan calon guru. Mahasiswa belajar menghadapi persoalan lingkungan sebagaimana mereka nantinya diharapkan mampu membantu peserta didik memahami persoalan nyata di masyarakat.


Dalam pengembangannya, model OIKASAI dirancang dengan sejumlah perangkat pendukung, antara lain RPS, modul pembelajaran, Lembar Kerja Mahasiswa (LKM), media visual, data dan kasus lingkungan lokal, instrumen observasi, serta instrumen refleksi. Lingkungan sekitar juga ditempatkan sebagai ruang belajar sekaligus tempat mahasiswa melakukan observasi dan aksi nyata.


Model tersebut juga dapat diterapkan melalui berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari diskusi, observasi lapangan, kerja kelompok, analisis kasus, perancangan solusi, hingga proyek atau aksi lingkungan. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa dan tidak terlepas dari persoalan yang mereka temui sehari-hari.


Lebih jauh, model OIKASAI memiliki potensi untuk memberikan dampak instruksional berupa peningkatan pemahaman konsep, kemampuan analisis, kemampuan pemecahan masalah, dan kemampuan merancang solusi. Sementara dampak pengiring yang ditargetkan meliputi tumbuhnya kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi, serta terbentuknya perilaku ramah lingkungan.


Pengembangan Model OIKASAI menjadi salah satu bentuk kontribusi dosen dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan persoalan masyarakat. Riset ini tidak hanya menawarkan konsep pembelajaran baru, tetapi juga memberikan kerangka yang dapat digunakan dosen untuk mengintegrasikan persoalan lingkungan ke dalam proses perkuliahan secara sistematis.


Bagi FKIP UM Indonesia, gagasan tersebut memiliki nilai strategis karena mahasiswa sebagai calon pendidik dipersiapkan tidak hanya untuk menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah, dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap lingkungan.


Model yang dikembangkan Dr. Jaka juga secara khusus mempertimbangkan konteks lokal Bekasi yang menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran agar mahasiswa belajar dari persoalan yang benar-benar ada di sekitar mereka.


Pengembangan Model OIKASAI menunjukkan bahwa riset dosen dapat hadir bukan hanya sebagai karya akademik, tetapi juga sebagai inovasi yang berpotensi memperkaya praktik pembelajaran di perguruan tinggi. Ke depan, model ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas sehingga pembelajaran lingkungan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga peduli, mampu mencari solusi, dan berani mengambil aksi nyata.


Dengan hadirnya inovasi tersebut, UM Indonesia terus mendorong budaya akademik yang menjadikan riset sebagai bagian dari solusi atas persoalan nyata di masyarakat sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran dan kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan berkelanjutan. (*)

Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia