Bekasi— Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja bagi
lulusan perguruan tinggi, kisah Muhammad Ikhsan menjadi bukti bahwa kesiapan
mental, integritas, dan jejaring profesional dapat membuka jalan lebih cepat
dari yang dibayangkan. Hal itu ia sampaikan dalam Yudisium Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Indonesia/UM Indonesia (UNISMA Bekasi) yang digelar di
Bekasi, Rabu (12/2/2026).
Alumni Program Studi Akuntansi tersebut berbagi pengalaman
di hadapan ratusan peserta yudisium. Ia mengisahkan bagaimana pada 2013, saat
masih menyusun skripsi, dirinya sudah dipercaya bekerja sebagai konsultan pajak
di sebuah perusahaan daerah. Lulus pada 2015, Ikhsan terus mengembangkan
kompetensinya hingga meraih sertifikasi keahlian pajak pada 2018, serta
memperluas kiprah ke bidang manajemen dan akuntansi.
Kini, ia mengelola beberapa perusahaan, di antaranya Epic
Indominat dan HFKU Engineering, serta aktif sebagai investor saham.
Transformasi dari mahasiswa tingkat akhir menjadi profesional yang memimpin
bisnis menjadi sorotan utama dalam forum tersebut.
Dalam pemaparannya, Ikhsan menegaskan bahwa keberhasilan di
dunia kerja tidak semata ditentukan oleh nilai akademik. Menurutnya, kemampuan
membangun relasi, menjaga komunikasi, serta memegang teguh amanah justru
menjadi faktor penentu keberlanjutan karier.
“Di dunia kerja, kemampuan teknis penting, tetapi
kepercayaan dan komunikasi yang baik jauh lebih menentukan keberlangsungan
karier,” ujarnya.
Ia juga berbagi pengalaman saat berinteraksi dengan Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) serta pemeriksa pajak. Tekanan kerja dan tuntutan
ketelitian, katanya, sering menjadi ujian mental bagi lulusan baru. Namun
dengan komunikasi terstruktur dan sikap profesional, tantangan tersebut dapat
dihadapi.
Selain itu, Ikhsan menekankan pentingnya pembelajaran
berkelanjutan. Banyak materi kuliah yang baru terasa manfaatnya ketika terjun
langsung ke lapangan. Ia juga menyinggung persepsi sosial bahwa kesuksesan
hanya dimiliki segelintir orang dengan latar belakang tertentu.
Pengalamannya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan
tantangan akademik bukan penghalang untuk maju, selama dibarengi kerja keras
dan kejujuran. Ia mengaku pernah mengalami kegagalan akademik dan profesional,
namun justru dari situ menemukan pola belajar dan bekerja yang lebih efektif.
Terkait perdebatan halal dan haram saham, Ikhsan menekankan
pentingnya pemahaman komprehensif agar aktivitas investasi tetap selaras dengan
prinsip etika dan agama. Menurutnya, banyak kegagalan dalam bisnis berawal dari
pengabaian nilai moral, bukan sekadar kurangnya kemampuan teknis.
“Kepercayaan itu mahal. Sekali rusak, sulit diperbaiki. Maka
jagalah amanah dalam sekecil apa pun tanggung jawab,” pesannya.
Yudisium Fakultas Ekonomi UM Indonesia (UNISMA Bekasi) ini tidak
hanya menjadi momen pelepasan akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi
mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi realitas sosial dan ekonomi.
Dukungan keluarga, manajemen waktu antara kuliah dan kerja, serta ketekunan
menyelesaikan studi menjadi bagian penting dari perjalanan yang dibagikan
Ikhsan.
Melalui kisahnya, alumni Akuntansi UM Indonesia (UNISMA
Bekasi) tersebut menghadirkan potret nyata tentang perjuangan lulusan perguruan
tinggi dalam membangun karier secara mandiri, profesional, dan berintegritas—sebuah
pesan relevan di tengah tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif di
tingkat nasional.(*)







