Bekasi — Di tengah impitan biaya hidup yang terus mencekik dan bayang-bayang tantangan ekonomi yang kian nyata, berbagi sering kali menjadi hal pertama yang coret dari daftar prioritas. Banyak dari kita terjebak dalam pikiran: "Nanti saja bersedekah, kalau kondisi keuangan sudah mapan." Padahal, di dalam ruang-ruang batin ajaran Islam, ketulusan sebuah kebaikan tidak pernah dihitung dari digit nominalnya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mendarat di tangan mereka yang membutuhkan.
Refleksi mendalam inilah yang mengalun di tengah kekhusyukan jamaah Shalat Iduladha 1447 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), Rabu lalu. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib di Lapangan Plaza kampus, Dr. H. Jaenudin, S.Ag., M.Pd., mengingatkan bahwa momentum Iduladha tahun ini mengemban misi sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar ritual tahunan.
"Iduladha mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita kantongi, melainkan dari seberapa besar keikhlasan kita dalam mengulurkan tangan kepada sesama," ujar Dr. Jaenudin di hadapan ratusan jamaah.
Bagi Dekan sekaligus tokoh pendidik di UM Indonesia ini, kondisi ekonomi yang serbatidak menentu justru menjadi alarm pengingat bahwa urat nadi gotong royong harus berdenyut lebih kencang. Saat sebagian masyarakat harus memeras keringat lebih dalam demi mencukupi kebutuhan pokok harian, kepedulian sosial bukan lagi sekadar pilihan, melainkan jaring pengaman sosial yang menjaga kebersamaan kita tetap utuh.
"Ketika kehidupan terasa semakin berat, saat itulah nilai sedekah menjadi semakin bermakna. Berbagi tidak harus menunggu kaya. Yang terpenting adalah niat tulus untuk hadir sebagai solusi bagi sesama," tegasnya.
Untuk mengunci pesan tersebut, Dr. Jaenudin mengutip sebuah kisah klasik yang sarat makna tentang seorang pemuda yang menyedekahkan tujuh dirham terakhirnya kepada anak-anak yatim. Sebuah tamparan halus bagi logika modern yang sering kali pelit berbagi karena takut kekurangan.
"Ada kisah tentang pemuda yang bersedekah tujuh dirham. Yang Allah tatap bukan megahnya nominal harta, tetapi ketulusan hati yang melandasinya. Karena itu, jangan pernah mengunci pintu sedekah hanya karena kita merasa belum kaya," tuturnya dengan nada bergetar.
Pesan spiritual ini, lanjutnya, mengemban relevansi yang sangat krusial bagi generasi muda—terutama mahasiswa yang tengah bersiap menghadapi dunia kerja yang kian kompetitif. Di era di mana kesuksesan sering kali disempitkan pada pencapaian materi pribadi, UM Indonesia ingin mendobrak stigma tersebut. Sukses sejati adalah tentang seberapa luas dampak positif yang bisa ditebarkan seseorang untuk lingkungan sekitarnya.
"Jangan menunggu memiliki segalanya untuk mulai berbagi. Sering kali, sesuatu yang kita anggap remah dan kecil, justru menjadi penyambung hidup yang luar biasa berarti bagi orang lain. Sedekah adalah bukti mutlak bahwa empati kita belum mati," pungkas Dr. Jaenudin.
Melalui khutbah mencerahkan di bawah langit pagi Bekasi tersebut, UM Indonesia berharap esensi kurban dan berbagi tidak menguap begitu saja setelah perayaan usai. Di saat tantangan ekonomi memaksa banyak orang untuk egois dan menarik diri, kampus ini ingin terus menyalakan lilin kepedulian. Karena pada akhirnya, perubahan sosial yang masif selalu berawal dari ketulusan-ketulusan kecil yang konsisten dirawat dalam keseharian.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
