Bekasi — Kekhawatiran sempat dirasakan Afifah saat pertama mengikuti Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) 2026 Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia).
Sebagai mahasiswa tunarungu Program Studi Ilmu Komunikasi, ia sempat membayangkan akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan panitia dan mahasiswa baru lainnya. Namun, dukungan yang diterimanya selama kegiatan justru membuat Afifah merasa diterima.
“Pengalaman ORMABA sangat berkesan. Awalnya saya khawatir kesulitan komunikasi, tapi panitia dan teman-teman MABA sangat ramah, sabar, dan berusaha membantu dengan gestur dan tulisan, jadi saya merasa diterima,” ungkap Afifah.
Selama mengikuti rangkaian ORMABA, komunikasi menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi Afifah. Namun, dukungan dari panitia dan mahasiswa baru membuatnya tetap dapat mengikuti berbagai kegiatan. Ketika terdapat informasi yang belum dipahami, panitia maupun teman-teman berusaha menjelaskan kembali melalui gestur, tulisan, maupun cara komunikasi lain yang lebih mudah dipahami.
Selain dukungan dari lingkungan sekitar, keberadaan pendamping serta penyampaian informasi secara visual juga membantu Afifah mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman. Materi dalam bentuk slide dan informasi tertulis di grup WhatsApp menjadi beberapa hal yang menurutnya paling membantu.
“Yang paling membantu adalah adanya pendamping, materi dalam bentuk slide dan tulisan di grup WhatsApp, serta panitia dan teman-teman yang sigap menjelaskan ulang informasi penting,” jelasnya.
Bagi Afifah, dukungan tersebut membuat perbedaan yang sederhana menjadi berarti.
Pendampingan, materi visual, hingga kesediaan panitia dan teman-teman untuk menjelaskan kembali informasi membuatnya dapat mengikuti kegiatan bersama mahasiswa baru lainnya tanpa merasa tertinggal.
Pengalaman tersebut juga menjadi awal bagi Afifah untuk mengenal lingkungan kampus dan membangun rasa percaya diri sebagai mahasiswa UM Indonesia. Ia berharap dukungan serupa dapat terus hadir selama menjalani perkuliahan.
“Harapan saya kampus bisa semakin inklusif, dengan mengadakan JBI, dosen yang paham kebutuhan mahasiswa yang beragam, dan materi pembelajaran yang lebih visual, agar kami bisa belajar dengan nyaman dan setara,” ujarnya.
Bagi Afifah, ORMABA 2026 bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengenal kampus, tetapi juga menjadi langkah awal untuk menjalani kehidupan perkuliahan bersama lingkungan yang mendukung. Ia berharap UM Indonesia dapat terus menghadirkan ruang belajar yang nyaman dan setara bagi mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam. (*)
Nasywa Fadya
Humas UM Indonesia
