UM Indonesia-Adira Bongkar Rahasia, Siapkan SDM Cakap Keuangan Syariah

BEKASI – Guna memangkas jarak antara teori kampus dan realitas dunia kerja, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia / UNISMA Bekasi) mengambil langkah berani. Kampus ini resmi menggandeng salah satu pemain besar industri, Adira Finance Syariah, bersama Kafila Consulting untuk menggelar Workshop Keuangan Syariah (WKS) komprehensif bagi puluhan mahasiswanya di Bekasi.


Langkah taktis menggandeng langsung pemain industri ini sengaja diambil kampus agar para lulusannya tidak gagap saat terjun ke dunia kerja modern. Kolaborasi nyata ini sekaligus menjadi jawaban atas masih rendahnya pemahaman masyarakat luas mengenai sistem keuangan berbasis syariah.


Mewakili pihak universitas, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UM Indonesia, Dr. Akmal Hasibuan, M.Pd., memandang sinergi ini sebagai langkah krusial. "Kolaborasi ini langkah positif sehingga melahirkan lulusan yang memahami industri syariah modern," tegas Dr. Akmal dalam sambutannya, menekankan pentingnya kampus membuka diri terhadap perkembangan industri finansial terkini.


Senada dengan hal tersebut, Head of Syariah Business Adira Finance, Tisna Sumantri, menyatakan bahwa keterlibatan industri di panggung akademik bertugas memberikan peta jalan nyata bagi mahasiswa mengenai bagaimana regulasi dan fatwa diimplementasikan pada produk pembiayaan komersial.


Kupas Tuntas Mitos Syariah: Dari Soal Jaminan hingga Solusi Modal


Melalui pemaparan renyah dari praktisi senior perbankan syariah, Siti Nurdiana, SE, MBA, workshop ini langsung menjawab berbagai pertanyaan "titipan" masyarakat yang selama ini menganggap bank syariah sama saja dengan bank konvensional.


Salah satu mitos besar yang dibongkar di hadapan puluhan mahasiswa adalah alasan mengapa bank syariah tetap meminta jaminan (agunan) saat warga mengajukan modal bagi hasil.


"Banyak yang protes, katanya bagi hasil untung-rugi bareng, kok tetap minta jaminan? Jaminan di bank syariah itu bukan untuk menyita aset nasabah saat usahanya sepi. Itu murni benteng hukum agar nasabah tidak curang, malas, atau lepas tanggung jawab di tengah jalan," jelas Siti Nurdiana meluruskan salah paham.


Selain itu, ia juga membeberkan mengapa bank syariah lebih "kebal" badai krisis ekonomi dibanding bank biasa. Kuncinya sederhana: bank syariah hanya memutar uang pada barang dan jasa yang wujudnya jelas—seperti jual beli rumah atau sewa alat usaha—bukan memutar uang di atas kertas lewat permainan bunga modal.


Menariknya, materi juga mengupas solusi nyata bagi kantong masyarakat di tanggal tua. Mulai dari sistem cicilan sekolah anak tanpa bunga lewat skema upah jasa (Ijarah), hingga cara rahasia bagi para pengusaha yang butuh modal dadakan tanpa harus menjual aset berharga mereka, alias sistem "sewa-beli" (Refinancing) yang semuanya sudah dijamin aman dan halal oleh Fatwa DSN-MUI.


Bukan Seminar Kaku, Ada Motivator dan Games Seru


Agar materi berbobot ini tidak membuat puluhan mahasiswa mengantuk, acara dikemas sangat interaktif dan jauh dari kesan formalitas seremonial. Workshop ini sengaja diselingi dengan sesi motivasi, permainan strategi, hingga ice breaking seru yang dipandu langsung oleh Coach Swadika. Elemen hiburan ini sukses mencairkan suasana dan membakar semangat kompetitif peserta.


Melalui kerja sama strategis UM Indonesia, Adira Finance Syariah, dan Kafila Consulting ini, potret edukasi kampus tidak lagi sekadar tanda tangan MoU di atas kertas, melainkan aksi nyata mengedukasi masyarakat demi mendorong Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia.

Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)