BEKASI – Setelah 35 tahun berkarier di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan dipercaya memimpin ribuan operator hingga menduduki posisi Supervisor Senior, Nurohman memilih jalan yang tidak biasa saat memasuki masa pensiun. Di usia 56 tahun, pria kelahiran 27 November 1969 itu justru kembali ke bangku pendidikan sebagai mahasiswa reguler Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UM Indonesia, membuktikan bahwa mimpi untuk menuntut ilmu tidak pernah mengenal batas usia.
Yang membuat kisahnya semakin menarik, Nurohman tidak memilih kelas karyawan sebagaimana yang banyak dibayangkan orang. Ia justru duduk di kelas reguler bersama mahasiswa yang mayoritas berasal dari Generasi Z. Perbedaan usia puluhan tahun tidak menjadi penghalang baginya untuk beradaptasi, berdiskusi, dan belajar bersama teman-teman yang jauh lebih muda.
Sebelum menjadi mahasiswa, Nurohman menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia industri. Ia bergabung dengan TMMIN sejak usia 20 tahun dan mengabdikan diri selama kurang lebih 35 tahun. Kariernya dimulai dari operator, kemudian berkembang menjadi kepala regu, line head, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Supervisor Senior. Selain itu, ia juga aktif sebagai trainer yang memberikan pelatihan basic rules operator, problem solving, hingga menjadi asesor bagi karyawan yang ingin naik menjadi pemimpin di lingkungan perusahaan.
Keinginan untuk berkuliah sebenarnya sudah lama ia miliki. Namun kesibukan pekerjaan membuat impian tersebut terus tertunda. Dorongan dari rekan-rekan kerja yang sering menyarankan dirinya untuk kuliah semakin menguatkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan setelah pensiun.
"Sebenarnya saya ingin kuliah sejak masih bekerja, tetapi belum ada kesempatan karena kesibukan pekerjaan. Setelah pensiun, saya merasa inilah saat yang tepat untuk mendapatkan ilmu baru yang selama ini belum sempat saya pelajari," ujarnya.
Berbekal pengalaman panjang di dunia industri, Nurohman justru memilih bidang yang berbeda dari perjalanan kariernya. Ia mengambil Program Studi Pendidikan Agama Islam karena ingin mendalami ilmu yang belum pernah ia pelajari secara formal selama bekerja.
"Saya sudah puluhan tahun menekuni dunia industri. Ilmu agama adalah bidang yang belum pernah saya dapatkan secara mendalam. Saya berharap ilmu ini nantinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain," katanya.
Meski telah terbiasa menjadi pengajar dan pembimbing di lingkungan kerja, Nurohman mengakui bahwa kembali menjadi mahasiswa menghadirkan tantangan tersendiri. Ia merasa kemampuan menangkap materi tidak lagi secepat saat muda. Namun semangat untuk belajar membuatnya tetap optimistis menjalani setiap proses perkuliahan.
"Saya bisa memahami materi, hanya memang membutuhkan waktu lebih lama. Daya ingat mungkin tidak sekuat dulu, tetapi ketika berdiskusi dengan teman-teman saya tetap bisa mengikuti dan memahami materi yang disampaikan," ungkapnya.
Perjalanan kuliah Nurohman juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Menariknya, keputusan untuk kuliah sempat ia rahasiakan terlebih dahulu. Setelah resmi menjadi mahasiswa dan mengikuti masa orientasi, barulah ia menyampaikan kabar tersebut kepada anak dan istrinya.
"Waktu itu saya sempat ditawari pekerjaan lagi setelah pensiun, tetapi lokasinya jauh dari rumah. Keluarga menyarankan saya mencari kegiatan yang membuat bahagia. Akhirnya saya memilih kuliah. Anak-anak mendukung penuh dan banyak membantu saya selama menjalani perkuliahan," tuturnya.
Bagi Nurohman, pengalaman menjadi mahasiswa di UM Indonesia merupakan pengalaman baru yang sangat berkesan. Ia menikmati suasana belajar bersama dosen dan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Kehadiran teman-teman muda justru memberikan energi dan perspektif baru dalam kehidupannya setelah pensiun.
"Di kampus saya bertemu banyak orang baru, dosen-dosen yang menarik, dan teman-teman yang luar biasa. Saya merasa kampus adalah gudangnya ilmu. Ini pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya," katanya.
Kisah Nurohman menjadi bukti bahwa pendidikan tidak dibatasi oleh usia. Semangatnya untuk terus belajar menunjukkan bahwa masa pensiun bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan kesempatan untuk membuka lembaran baru dan mewujudkan impian yang selama ini tertunda.
Ke depan, ia bahkan memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister apabila diberikan kesempatan dan kemampuan yang memadai.
"Saya masih semester dua dan perjalanan masih panjang. Tetapi kalau nanti diberikan kemampuan dan kesempatan, saya ingin melanjutkan pendidikan sampai S2," ujarnya.
Melalui pengalamannya, Nurohman juga mengajak para pensiunan untuk tidak berhenti belajar. Menurutnya, ilmu pengetahuan merupakan investasi yang akan terus memberikan manfaat sepanjang hayat.
"Banyak yang bertanya kenapa setelah pensiun justru kuliah. Ada yang menganggap itu buang-buang uang, tetapi banyak juga yang mendukung. Bagi saya, ilmu itu sangat bermanfaat, membuka wawasan, dan membawa banyak keberkahan. Karena itu jangan pernah berhenti belajar," pungkasnya.
Kisah Nurohman membuktikan bahwa semangat menuntut ilmu tidak mengenal usia. Di tengah masa pensiun yang identik dengan istirahat, ia justru memilih kembali menjadi mahasiswa reguler UM Indonesia, menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi dan memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk terus belajar sepanjang hayat.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)

