BEKASI — Kekaguman kepada ulama dan sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka, mengubah cara pandang Dr. Akmal Rizki Gunawan Hasibuan tentang makna sebuah karya. Dari sosok yang dikaguminya itu, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) tersebut belajar bahwa ilmu tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi juga dapat diabadikan melalui tulisan yang terus hidup lintas generasi.
Semangat itulah yang kini mengantarkan akademisi kelahiran 10 April 1992 tersebut menjadi salah satu dosen muda produktif di lingkungan perguruan tinggi. Di tengah kesibukannya memimpin Fakultas Agama Islam UM Indonesia yang menaungi Program Studi Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga, dan Perbankan Syariah, Dr. Akmal telah berhasil menerbitkan 15 buku dan menyiapkan dua karya baru yang direncanakan terbit tahun ini.
Salah satu karya yang paling mendapat perhatian pembaca adalah buku 40 Khutbah Jumat Pilihan yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo. Buku tersebut bahkan telah mengalami dua kali cetak ulang. Berbeda dengan buku khutbah pada umumnya, karya tersebut mengangkat isu-isu aktual dan kontemporer yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, hingga momentum hari-hari besar Islam.
Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Menurut Dr. Akmal, menembus penerbit nasional membutuhkan konsistensi, kemampuan menyesuaikan naskah dengan standar penerbit, serta membangun jejaring yang baik dengan dunia penerbitan. Ia mengaku selalu berusaha mengikuti template dan ketentuan yang ditetapkan penerbit agar karya yang ditulis sesuai dengan kebutuhan pasar dan standar industri buku.
“Kalau ingin masuk penerbit mayor, kita harus mengikuti standar yang mereka tetapkan karena mereka sangat selektif. Selain itu, kita juga perlu membangun komunikasi dan menjaga silaturahmi dengan pihak penerbit, serta meningkatkan brand personality atau daya tawar diri sebagai penulis,” jelasnya.
Berkat strategi tersebut, sejumlah karyanya berhasil diterbitkan oleh penerbit nasional dan dipasarkan melalui jaringan toko buku Gramedia di berbagai daerah. Saat ini, dua naskah terbarunya berjudul Mendidik Manusia dengan Al-Qur'an dan Generasi Emas Al-Qur'an: 40 Cara Menjadi Generasi Emas Al-Qur'an juga tengah menunggu proses penerbitan dan diproyeksikan terbit melalui Gramedia pada tahun ini.
“Motivasi pertama saya adalah ingin mengabadikan ilmu lewat tulisan. Dorongan itu diawali dari kekaguman saya kepada Buya Hamka. Ketika mengetahui beliau memiliki begitu banyak karya, saya berpikir bahwa tulisan adalah cara agar ilmu tetap hidup dan bermanfaat,” ujar Dr. Akmal.
Kecintaannya terhadap dunia literasi telah tumbuh sejak lama. Bahkan sebelum menjadi dosen, ia terbiasa menulis pengalaman dan catatan kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana tersebut perlahan berkembang menjadi aktivitas akademik yang produktif hingga menghasilkan belasan buku dan berbagai publikasi ilmiah.
Bagi Dr. Akmal, menulis bukanlah pekerjaan yang menunggu waktu luang. Di tengah aktivitas sebagai dosen, peneliti, dan pimpinan fakultas, ia tetap menyisihkan waktu untuk mengembangkan naskah. Ia bahkan memiliki target pribadi menerbitkan minimal dua buku dan lima jurnal setiap tahun.
“Saya tidak menunggu kapan ada waktu khusus untuk menulis. Ketika ada waktu luang, saya lanjutkan naskah yang sedang dikerjakan. Yang terpenting adalah memiliki niat dan target yang jelas,” ungkapnya.
Produktivitas yang ditunjukkan Dr. Akmal mencerminkan komitmen UM Indonesia dalam membangun budaya akademik yang kuat, khususnya dalam bidang riset, publikasi, dan literasi. Kampus tidak hanya mendorong mahasiswa untuk aktif belajar, tetapi juga menghadirkan teladan melalui dosen-dosen yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selain aktif menulis buku populer, Dr. Akmal juga menghasilkan berbagai karya ilmiah. Salah satu karya yang paling berkesan baginya adalah buku Menyinari Kehidupan dengan Cahaya Al-Qur'an yang diselesaikan selama hampir dua tahun. Buku tersebut berupaya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, hingga sosial kemasyarakatan.
Melalui karya-karyanya, Dr. Akmal berharap semakin banyak generasi muda yang berani menulis dan membagikan gagasannya kepada publik. Ia meyakini bahwa kemampuan menulis dapat dimulai dari hal sederhana, yakni mencatat pengalaman dan pelajaran hidup sehari-hari.
“Mulailah dari hal yang paling dekat dengan diri sendiri, yaitu pengalaman kehidupan sehari-hari. Dari situlah kemampuan menulis akan berkembang,” pesannya.
Bagi UM Indonesia, kiprah Dr. Akmal menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah batas untuk berkarya dan memberi kontribusi bagi dunia pendidikan. Melalui semangat literasi yang terus dijaga, ia menunjukkan bahwa karya tulis dapat menjadi warisan intelektual yang manfaatnya terus hidup, bahkan melampaui ruang dan waktu.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)



