Bekasi – Pemikiran Prof. M. Quraish Shihab, salah satu mufasir paling berpengaruh di Indonesia, menjadi sorotan dalam Webinar Nasional "Sejarah Perkembangan Tafsir di Nusantara" yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UNISMA Bekasi). Webinar yang dipantik langsung oleh Dekan FAI UM Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hasibuan HSB, M.A., menjadi ruang akademik untuk mengulas perjalanan panjang perkembangan tafsir Al-Qur'an di Indonesia sekaligus memperkuat budaya keilmuan Islam di kalangan mahasiswa.
Mengangkat tema besar mengenai sejarah tafsir Nusantara, webinar ini menghadirkan dosen dan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi dalam sebuah forum ilmiah yang membahas pemikiran para mufasir Indonesia dari masa klasik hingga era kontemporer. Tidak hanya menjadi ajang presentasi akademik, kegiatan tersebut juga menjadi wadah diskusi yang mempertemukan berbagai perspektif mengenai bagaimana Al-Qur'an dipahami dan ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman, kondisi sosial, serta karakter masyarakat Indonesia.
Sebagai pembicara utama sekaligus pemantik seminar, Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hasibuan HSB, M.A. menjelaskan bahwa perkembangan tafsir Nusantara merupakan salah satu bukti kekayaan intelektual Islam Indonesia yang lahir dari proses dialog antara ajaran Al-Qur'an dengan realitas kehidupan masyarakat.
Menurutnya, memahami sejarah perkembangan tafsir bukan sekadar mempelajari karya-karya ulama terdahulu, tetapi juga memahami bagaimana Islam berkembang melalui pendekatan yang adaptif, moderat, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Al-Qur'an.
"Tafsir Nusantara bukan sekadar catatan sejarah, tetapi merupakan warisan intelektual yang menunjukkan bagaimana Al-Qur'an dipahami sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan perkembangan masyarakat Indonesia. Kolaborasi akademik seperti ini penting untuk memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus mempererat jejaring keilmuan antarperguruan tinggi," ujar Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hasibuan HSB, M.A.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam. Salah satunya melalui penyelenggaraan forum-forum akademik yang mendorong mahasiswa untuk mengkaji karya para ulama secara kritis, objektif, dan ilmiah sehingga mampu melahirkan generasi intelektual Muslim yang tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga mampu membaca konteks sosial yang terus berkembang.
Selama webinar berlangsung, peserta diajak menelusuri perjalanan panjang perkembangan tafsir di Nusantara melalui kajian terhadap karya-karya monumental para mufasir Indonesia. Setiap materi dipresentasikan oleh mahasiswa sebagai bentuk penguatan kemampuan akademik, penelitian literatur, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dalam memahami sejarah pemikiran Islam.
Pada sesi pertama, peserta mengkaji pemikiran Abdur Rauf as-Singkili melalui karya Tarjuman al-Mustafid, yang dipresentasikan oleh Alwi Fazri Tanjung dan Maharani. Pembahasan ini menyoroti bagaimana karya tersebut menjadi salah satu tafsir berbahasa Melayu pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani melalui kitab Marah Labid, yang dipresentasikan oleh Irfan Mansyur Simamora dan Pimpinan Abaik Simamora. Dalam pemaparannya dijelaskan bagaimana ulama asal Banten tersebut mampu memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan studi tafsir yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.
Kajian berikutnya membahas pemikiran Mahmud Yunus melalui Tafsir Qur'an Karim, yang dipresentasikan oleh Hafiz Fachriansyah dan Haddad Alwi. Diskusi mengulas peran Mahmud Yunus sebagai pelopor pendidikan Islam modern yang berhasil menghadirkan pendekatan tafsir yang mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia.
Sesi pertama kemudian ditutup dengan pembahasan mengenai Buya Hamka melalui karya monumentalnya Tafsir Al-Azhar yang dipresentasikan oleh Sania Arisa Sinaga. Materi tersebut menyoroti corak tafsir Hamka yang memadukan pendekatan sastra, sosial, budaya, serta pengalaman kebangsaan sehingga menjadikan Tafsir Al-Azhar sebagai salah satu referensi penting dalam studi Al-Qur'an di Indonesia.
Pada sesi berikutnya, peserta melanjutkan pembahasan mengenai tokoh-tokoh tafsir Indonesia lainnya. Presentasi diawali dengan kajian Hasbi Ash-Shiddieqy melalui Tafsir An-Nur yang dipaparkan oleh Pajar Tryadi. Selanjutnya, mahasiswa membahas pemikiran Bisri Mustofa melalui Tafsir Al-Ibriz yang dipresentasikan oleh Muhammad Andra Gracia Siregar, dengan penekanan pada penggunaan bahasa Jawa sebagai media dakwah dan pendidikan Islam.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pemikiran Ahmad Hasan melalui Tafsir Al-Furqan, yang dipresentasikan oleh Diki Saputra Siregar. Materi ini mengulas karakteristik pemikiran Ahmad Hasan yang dikenal rasional dan argumentatif dalam menjelaskan kandungan Al-Qur'an.
Sementara itu, salah satu materi yang paling mendapat perhatian peserta adalah kajian mengenai Prof. M. Quraish Shihab melalui karya Tafsir Al-Misbah, yang dipresentasikan oleh Anita Luthfiana Harahap. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa Tafsir Al-Misbah hingga saat ini masih menjadi salah satu referensi utama dalam kajian Al-Qur'an di berbagai perguruan tinggi di Indonesia karena menawarkan pendekatan yang kontekstual, moderat, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Seluruh rangkaian presentasi berlangsung dalam suasana akademik yang aktif. Para peserta tidak hanya menyampaikan hasil kajian literatur, tetapi juga berdiskusi mengenai relevansi pemikiran para mufasir Nusantara dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan modern. Antusiasme mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul dalam sesi diskusi, mulai dari metodologi penafsiran, perkembangan corak tafsir Indonesia, hingga implementasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Kolaborasi antara Fakultas Agama Islam UM Indonesia dan Fakultas Ushuluddin UIN Sumatera Utara menjadi wujud nyata komitmen kedua perguruan tinggi dalam memperkuat jejaring akademik nasional. Sinergi ini tidak hanya memperluas ruang diskusi ilmiah bagi mahasiswa, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan kurikulum, hingga pertukaran gagasan antardosen dan mahasiswa.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antarkampus menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai perspektif akademik, mahasiswa didorong untuk lebih terbuka terhadap keragaman pemikiran Islam sekaligus tetap berpijak pada tradisi intelektual Nusantara yang telah dibangun oleh para ulama terdahulu.
Melalui webinar ini, Fakultas Agama Islam UM Indonesia berharap mahasiswa tidak hanya mengenal nama-nama besar seperti Prof. M. Quraish Shihab, Buya Hamka, Hasbi Ash-Shiddieqy, Mahmud Yunus, Bisri Mustofa, Ahmad Hasan, Muhammad Nawawi al-Bantani, dan Abdur Rauf as-Singkili, tetapi juga mampu memahami kontribusi pemikiran mereka dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.
Ke depan, FAI UM Indonesia bersama Fakultas Ushuluddin UIN Sumatera Utara berkomitmen untuk terus menghadirkan forum-forum ilmiah kolaboratif sebagai ruang bertemunya ide, riset, dan inovasi dalam pengembangan studi Islam. Diharapkan kerja sama yang telah terjalin ini mampu melahirkan berbagai program akademik berkelanjutan yang memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan tinggi Islam serta memperkaya khazanah keilmuan Al-Qur'an di Indonesia maupun di tingkat internasional.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
