Bekasi – Bukan skripsi, Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menjadi jalan Fathiyah menyelesaikan pendidikannya di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID). Mahasiswa yang resmi mengikuti yudisium pada Senin, 24 Agustus 2026, ini bahkan telah lebih dulu menapaki dunia profesional setelah dipercaya menjadi wali kelas di sekolah tempatnya menjalani program magang.
Perjalanan Fathiyah menjadi gambaran bagaimana proses pendidikan dapat berjalan beriringan dengan kesiapan memasuki dunia kerja. Berawal dari aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus, terlibat dalam PKM, hingga menjalani magang di sekolah, pengalaman tersebut menjadi bekal yang mengantarkannya dari bangku kuliah menuju ruang kelas sebagai seorang pendidik.
Bagi Fathiyah, masa kuliah bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik. Sejak semester pertama, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan himpunan mahasiswa, UKM, serta program yang diselenggarakan kampus. Berbagai pengalaman tersebut membentuk kemampuan komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, hingga kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi. PKM Jadi Jalan Menuju Kelulusan
Salah satu pengalaman yang menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya adalah keterlibatan Fathiyah dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Bersama tiga mahasiswa dari lintas program studi, ia memanfaatkan waktu libur kuliah selama hampir satu bulan untuk menyusun proposal program.
Tim tersebut mengangkat olahraga tradisional jemparingan sebagai media pembentukan karakter siswa sekolah dasar dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program kemudian dilaksanakan di wilayah Cibitung dengan memanfaatkan fasilitas lapangan yang tersedia serta disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Awalnya, Fathiyah dan tim tidak terlalu berharap proposal tersebut dapat lolos pendanaan. Namun, mereka tetap mengerjakannya secara maksimal. Salah satu motivasi yang mendorong mereka adalah kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan melalui jalur non-skripsi.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Pada pertengahan April 2024, proposal PKM yang diajukan dinyatakan lolos pendanaan. Selama kurang lebih empat bulan, tim kemudian menjalankan program yang telah dirancang hingga akhirnya berhasil diselesaikan.
“Pengalaman tersebut akhirnya menjadi bagian dari perjalanan akademik saya hingga dapat menyelesaikan studi melalui jalur PKM/non-skripsi,” ujar Fathiyah.
Selama menjalankan program, Fathiyah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan ide dan cara pandang dalam tim hingga kendala teknis di lapangan. Namun, melalui komunikasi, kerja sama, serta dukungan dosen pembimbing, berbagai tantangan tersebut dapat dilalui.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa perbedaan dalam sebuah tim bukanlah penghalang, melainkan dapat menjadi kekuatan ketika dikelola melalui komunikasi dan kerja sama yang baik.
Dari Magang hingga Menjadi Wali Kelas
Jika PKM menjadi salah satu jalan Fathiyah menuju kelulusan, pengalaman magang justru membuka pintu awal perjalanan kariernya.
Saat menjalani magang di sebuah sekolah, Fathiyah berusaha tidak sekadar menjalankan peran sebagai mahasiswa magang. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah, terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan, serta berusaha menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Upaya tersebut menjadi bekal penting bagi Fathiyah dalam menunjukkan kompetensi, tanggung jawab, dan kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan pendidikan. Dari proses itulah, ia kemudian mendapatkan kepercayaan untuk melanjutkan karier di sekolah tersebut.
“Alhamdulillah, dari proses tersebut saya mendapatkan kepercayaan untuk melanjutkan bekerja di sekolah tersebut dan diberikan kesempatan untuk menjadi wali kelas,” ungkapnya.
Kini, Fathiyah bertanggung jawab mendampingi hampir 40 siswa dengan karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa setiap siswa membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Meski sempat menganggap profesi guru sebagai pekerjaan yang melelahkan, pengalaman melihat perkembangan siswa perlahan mengubah pandangannya.
“Semua rasa lelah seolah terbayarkan ketika melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Kuliah, Berproses, hingga Menapaki Karier
Perjalanan Fathiyah menunjukkan bahwa pengalaman selama masa kuliah dapat menjadi bekal penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional. PKM memberikan pengalaman dalam bekerja sama dan menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat, sementara magang menjadi ruang untuk menerapkan kompetensi secara langsung di lingkungan kerja.
Di tengah aktivitasnya sebagai guru, Fathiyah juga tetap menyelesaikan tanggung jawab akademik hingga akhirnya resmi mengikuti yudisium. Ia berusaha mengatur waktu antara bekerja, menyelesaikan tugas kuliah, dan menjalankan tanggung jawab organisasi.
“Saya percaya bahwa ketika kita menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, segala proses akan terasa lebih ringan dan nyaman,” ujarnya.
Ke depan, Fathiyah berharap dapat terus berkembang menjadi guru yang profesional, meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya, serta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan Fathiyah dari mahasiswa aktif, menjalankan PKM, menyelesaikan pendidikan melalui jalur non-skripsi, hingga kini dipercaya menjadi wali kelas menjadi bukti bahwa setiap proses selama kuliah dapat membuka peluang untuk berkembang. Pengalaman akademik, pengabdian kepada masyarakat, dan praktik di dunia pendidikan menjadi bekal yang mengantarkannya menapaki langkah awal karier sebagai pendidik. (*) Nasywa Fadya - Ratih Firidiyah Humas UM Indonesia
