Bekasi- Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Al-Fatah Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA Bekasi) menggelar kegiatan Tarhib Ramadan bertema “Marhaban Ya Ramadan, Menggapai Taqwa dengan Gembira”, (11/02/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Fahmi Salim, Lc., M.A., Ketua Bidang Tabligh Global dan Kerja Sama Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kegiatan tersebut dihadiri civitas akademika UM Indonesia (UNISMA Bekasi), mulai dari dosen, karyawan, dan staf, serta pihak eksternal yang diundang secara khusus, yakni pimpinan dan anggota Muhammadiyah di Kota dan Kabupaten Bekasi. Acara dibuka oleh Wakil Rektor I UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Prof. Latipun, Ph.D., serta Ketua Panitia Ramadan, M. Ikhwan Rahmanto, S.TP., M.Si.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Fahmi mengingatkan bahwa menyambut Ramadan tidak cukup hanya dengan menyiapkan fisik, seperti menjaga pola makan dan istirahat. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah menyiapkan ilmu agar ibadah puasa bisa dijalani dengan benar dan penuh makna. “Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri agar lebih sabar, ikhlas, dan dekat dengan Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu hal penting dalam puasa adalah niat. Untuk puasa wajib, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum waktu subuh. Sementara untuk puasa sunah, niat masih bisa dilakukan di pagi hari selama belum makan dan minum.
Ustaz Fahmi juga membahas hal-hal yang sering menjadi pertanyaan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan dunia medis. Ia menjelaskan bahwa puasa bisa batal jika ada sesuatu dari luar yang masuk ke dalam tubuh hingga ke perut
Sebagai contoh, infus yang mengandung nutrisi atau gula dapat membatalkan puasa karena berfungsi seperti makan dan minum. Pemeriksaan medis seperti endoskopi yang masuk sampai ke perut juga membatalkan. Namun, penggunaan selang oksigen, suntikan biasa, donor darah, dan cuci darah tidak membatalkan puasa karena tidak termasuk asupan ke perut. Sementara itu, penggunaan semprotan asma perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.
Menurutnya, pemahaman seperti ini penting agar umat Islam tidak ragu dalam menjalani ibadah puasa di tengah perkembangan dunia kesehatan modern.
Di akhir kajiannya, Ustaz Fahmi mengajak jamaah menyambut Ramadan dengan penuh semangat dan kegembiraan. Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah momen penting untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.






