Dari Satu Kalimat Sehari hingga Kerja Sambil Kuliah, Dua Mahasiswa UM Indonesia ini Lulus Cumlaude

Kelulusan tepat waktu sering dipersepsikan sebagai hasil kecerdasan semata. Padahal, di balik toga dan predikat terbaik, ada disiplin kecil, tekanan ekonomi, dan perjuangan mental yang jarang dibicarakan.

Di tengah meningkatnya tantangan akademik dan biaya hidup mahasiswa, kisah Dea Ananda Utami (Manajemen) dan Rika Leriani Putri (Akutansi) menjadi refleksi tentang bagaimana daya tahan personal dan dukungan lingkungan menentukan keberhasilan studi.

Dea memilih strategi yang sederhana namun konsisten: menulis skripsi setiap hari.

“Daripada menunggu mood, saya menulis sedikit demi sedikit. Meskipun hanya satu kalimat, yang penting jalan,” ujarnya.

Strategi itu terdengar sepele, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Skripsi kerap terasa berat bukan karena sulit, melainkan karena tertunda. Kebiasaan kecil menciptakan ritme, dan ritme menjaga motivasi.

Namun tantangan Dea bukan hanya soal teknis penulisan. Ia sempat ragu untuk bertanya ketika tidak memahami materi. Budaya sungkan dalam ruang akademik sering menjadi hambatan tak kasatmata.

“Belajar bareng membuat saya lebih berani dan lebih paham,” katanya.

Diskusi menjadi ruang aman untuk tumbuh. Pendampingan dosen pembimbing yang komunikatif juga menjaga arah penelitiannya tetap terukur.

IMG_9281

Berbeda dengan Dea, Rika menghadapi tekanan yang lebih struktural. Ia bekerja sambil kuliah, sebuah realitas yang semakin umum di kalangan mahasiswa Indonesia.

“Kadang jadwal kerja bentrok dengan bimbingan. Tugas juga menumpuk,” ungkapnya.

Di tengah tuntutan finansial dan akademik, manajemen waktu bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kelelahan fisik sering kali beriringan dengan tekanan psikologis.


Namun Rika memilih bertahan. “Awalnya memang berat, tapi semua proses akan terbayar saat lulus,” tuturnya.

Kisah keduanya menunjukkan bahwa keterlambatan kelulusan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan akademik. Faktor ekonomi, kesehatan mental, budaya akademik, hingga sistem pendampingan memiliki peran besar.

Pengalaman Dea dan Rika memperlihatkan pola yang relevan secara sosial. Konsistensi kecil lebih efektif daripada menunggu sempurna. Diskusi mengurangi ketakutan akademik. Dan dosen pembimbing bukan sekadar administrasi, melainkan penopang psikologis mahasiswa.

Kelulusan mereka bukan hanya tentang IPK, melainkan tentang ketahanan menghadapi realitas.

Di tengah wacana tentang krisis mental mahasiswa dan tekanan ekonomi generasi muda, mungkin solusi tidak selalu harus revolusioner. Kadang ia dimulai dari satu kalimat per hari—dan dari keberanian untuk tidak menyerah. (*)

Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)