Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid kembali ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut kota, dan semangat berbagi semakin terasa. Namun di era digital, gema Ramadan tidak hanya terdengar di ruang-ruang ibadah, melainkan juga memenuhi lini masa media sosial.
Video tadarus, dokumentasi salat tarawih, hingga konten dakwah singkat menjadi pemandangan yang kian lazim setiap bulan suci. Fenomena ini menghadirkan satu pertanyaan mendasar: di tengah tren ibadah digital, bagaimana menjaga keikhlasan?
Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah/UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Dr. Akmal Rizki Gunawan Hasibuan, S.Th.I., M.A, menilai media sosial pada dasarnya hanyalah sarana. Nilainya bergantung pada niat penggunanya.
“Konten dakwah di media sosial bisa sangat berpahala, bahkan pahalanya terus mengalir, selama niatnya benar dan membawa manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, di zaman ketika smartphone menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, menampilkan aktivitas yang disenangi, termasuk ibadah, merupakan hal yang wajar.
Terlebih jika tujuannya untuk mengajak dan menginspirasi dalam kebaikan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa batas antara syiar dan riya sangatlah tipis. Niat sebagai Ruh Ibadah. Dalam ajaran Islam, kualitas amal ditentukan oleh niat. Amal yang tampak serupa bisa memiliki nilai berbeda di sisi Allah, tergantung orientasi hati pelakunya.
Dr. Akmal menjelaskan, riya bukan semata soal tindakan yang terlihat, melainkan soal pergeseran orientasi batin. “Bahaya paling ringan dari riya adalah tergerusnya nilai amal. Bahaya paling besar adalah bergesernya orientasi penilaian, dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian manusia,” tegasnya.
Budaya eksistensi digital, lanjutnya, sering kali tanpa sadar mendorong manusia untuk mencari validasi sosial—jumlah suka, komentar, dan pengikut—yang perlahan dapat memengaruhi kemurnian niat dalam beribadah.
Meski demikian, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi. “Jangan sampai orang yang menampilkan aktivitasnya memang berniat riya. Tetapi jangan pula kita yang melihat langsung memvonis sebagai riya. Itu bisa menjadi bagian dari penyakit hati seperti hasad, yang sama-sama menggerus pahala,” tambahnya.
Peluang Dakwah di Ruang Digital. Ramadan juga menjadi momentum meningkatnya kreativitas dakwah, khususnya di kalangan generasi muda. Konten-konten islami dikemas lebih ringan dan mudah dipahami, menjangkau audiens yang lebih luas dari sebelumnya.
Menurut Dr. Akmal, selama orientasinya tetap kepada Allah dan kontennya mengajak pada kebaikan, maka dakwah digital dapat menjadi amal jariyah. Setiap kebaikan yang menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, dalam ajaran Islam, akan mendatangkan pahala yang terus mengalir.
Karena itu, media sosial tidak perlu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang yang perlu diimbangi dengan kesadaran spiritual. Untuk menjaga hati tetap lurus, Dr. Akmal menyarankan agar setiap Muslim memiliki ibadah yang tidak diketahui siapa pun.
“Selain memantapkan niat, penting memiliki ibadah rahasia. Ibadah yang hanya kita dan Allah yang tahu. Itu menjadi penyeimbang agar hati tetap bersih,” tuturnya.
Ramadan, menurutnya, adalah momentum muhasabah—bukan sekadar ajang eksistensi.. Di tengah gemerlap layar dan derasnya notifikasi, bulan suci kembali mengingatkan bahwa inti ibadah bukanlah pada seberapa banyak ia terlihat, melainkan seberapa dalam ia tertanam di hati.
“Teknologi adalah alat. Ia bisa menjadi jalan pahala, bisa juga menjadi sebab hilangnya pahala. Kuncinya ada pada hati,” pungkasnya. (*)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
