Bekasi — Keterlambatan dan simpang siurnya informasi saat bencana masih menjadi masalah di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini sering membuat penanganan darurat tidak berjalan optimal dan berisiko memperbesar dampak di lapangan.
Melihat situasi tersebut, dosen UM Indonesia (UNISMA Bekasi) mengembangkan riset untuk mencari cara baru agar informasi saat bencana bisa lebih cepat, jelas, dan mudah dipahami masyarakat. Upaya ini mendapat dukungan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas kampus, yakni UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Universitas Andalas, dan Universitas Padjadjaran. Riset difokuskan di Sumatera Barat, salah satu daerah yang kerap dilanda bencana seperti banjir bandang dan longsor.
Tim peneliti akan turun langsung ke lapangan melalui wawancara dengan pemerintah daerah, tokoh adat, hingga masyarakat. Selain itu, diskusi kelompok dan survei juga dilakukan untuk memahami bagaimana informasi disampaikan dan diterima saat situasi darurat.
Ketua peneliti, Dila Novita, mengatakan bahwa ide penelitian ini muncul dari pengalaman melihat langsung kondisi komunikasi saat bencana.
“Saat bencana terjadi, informasi sering tidak sampai dengan baik ke masyarakat. Padahal komunikasi yang jelas dan cepat sangat penting untuk keselamatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan yang digunakan tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memanfaatkan nilai-nilai lokal yang sudah dipercaya masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan cara komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat, sehingga informasi tidak hanya cepat, tapi juga dipercaya,” tambahnya.
Selama ini, kesenjangan antara informasi resmi dan pemahaman masyarakat di lapangan masih menjadi tantangan. Tidak jarang informasi yang beredar justru membingungkan, bahkan memperlambat respon saat bencana terjadi.
Melalui riset ini, tim berharap dapat menghasilkan model komunikasi bencana yang lebih efektif dan bisa diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Sumatera Barat dipilih sebagai lokasi awal, dengan harapan hasilnya dapat menjadi rujukan nasional dalam memperkuat sistem penanganan bencana ke depan.
Humas UM Indonesia
Abidin Nurfarizi - Ratih Firdiyah (ed)
