Aplikasi Anti Bullying Ciptaan Dosen UM Indonesia Sukses Raih Pendanaan Kementerian

Bekasi — Di tengah maraknya kasus bullying di sekolah, dosen UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menghadirkan cara baru untuk membantu siswa melindungi diri. Melalui aplikasi Android berbasis pencak silat, siswa dapat mempelajari teknik perlindungan diri dengan cara yang aman serta lebih percaya diri menghadapi situasi berisiko.

Program ini kembali mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada tahun 2026 melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat. Menariknya, ini bukan kali pertama. Program ini merupakan kelanjutan dari hibah serupa yang telah diperoleh sebelumnya pada tahun 2024.

Ketua tim pengabdian, Dani Nur Riyadi, M.Pd, bersama tim yang terdiri dari Dr. Aridhotul Haqiyah dan Dr. Siti Nurhidayah, menghadirkan inovasi yang menggabungkan pendidikan karakter, bela diri, dan teknologi digital.

Menurut Dani, keberhasilan meraih pendanaan dua kali menunjukkan bahwa program ini dinilai memiliki dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah.

“Program ini kami kembangkan secara berkelanjutan. Dari pendanaan sebelumnya, kami lakukan penguatan konsep dan implementasi, hingga akhirnya kembali dipercaya untuk didanai pada 2026,” ujarnya.

Program ini tidak dirancang untuk mendorong siswa berkelahi, melainkan membekali mereka dengan kemampuan melindungi diri secara tepat, aman, dan bertanggung jawab. Aplikasi berbasis Android yang dikembangkan dapat diakses melalui ponsel, sehingga siswa dapat belajar kapan saja, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Melalui aplikasi tersebut, siswa akan mendapatkan materi teknik dasar perlindungan diri berbasis pencak silat, panduan gerakan yang aman, serta edukasi terkait pengendalian diri dan pencegahan kekerasan.

Desain tanpa judul (4)

Tampilan Aplikasi

Dani berharap, melalui pengembangan aplikasi ini, siswa dapat memiliki bekal yang lebih baik dalam menghadapi situasi berisiko tanpa harus menggunakan kekerasan. Ia juga menilai, pemanfaatan teknologi yang dekat dengan kehidupan siswa dapat menjadi cara yang lebih efektif untuk menanamkan kesadaran anti-bullying sejak dini serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman.

Dengan dukungan pendanaan yang berkelanjutan, program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada satu sekolah, tetapi dapat dikembangkan dan diterapkan lebih luas. Pendekatan yang memadukan pencak silat dan teknologi digital ini dinilai membuka peluang baru dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan pendidikan.


Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
Abidin Nurfaizi/Ratih Firdiyah (ed)