Pernah Jadi Ojol, Dua Alumni UM Indonesia Ini Sukses Berkarir di Jepang

BEKASI — Mimpi bekerja di luar negeri kerap dianggap sulit dijangkau, terutama bagi mereka yang memulai dari keterbatasan. Hal itu pula yang sempat dialami Muhamad Aldi Wijaya. Saat masih menjadi driver ojek online, keinginannya untuk bekerja di Jepang bahkan pernah ditertawakan oleh penumpangnya.


Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik balik. Alih-alih menyerah, Aldi menjadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa mimpinya bukan sekadar angan. Kini, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) angkatan 2019–2023 itu telah bekerja sebagai staf administrasi di Kujukuri Package Center Agricultural Corp, Chiba, Jepang.


“Dulu saya bilang ingin ke Jepang, malah ditertawakan penumpang. Tapi dari situ saya semakin yakin harus membuktikan,” ujar Aldi.


Perjalanan Aldi menuju Jepang tidaklah instan. Ia menempuh proses panjang yang dipenuhi ketidakpastian, mulai dari mencari informasi peluang kerja, meningkatkan kemampuan diri, hingga mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan. Dukungan keluarga, terutama doa ibu, menjadi kekuatan utama yang membuatnya tetap bertahan dalam proses tersebut.


Ia menilai, bekal yang diperoleh selama kuliah, khususnya dalam bidang komunikasi, memiliki peran penting dalam proses adaptasi di dunia kerja. Kemampuan public speaking, keberanian menyampaikan pendapat, serta keterbukaan dalam menerima evaluasi menjadi modal dasar yang membantunya bertahan di lingkungan kerja yang baru.


Kemampuan komunikasi tersebut kemudian menjadi bekal penting bagi Aldi saat mulai beradaptasi dengan budaya kerja di Jepang yang dikenal memiliki standar tinggi dalam kedisiplinan dan profesionalitas.


Di lingkungan kerjanya, Aldi menerapkan budaya kerja Hōrensō, yakni melapor (hokoku), menginformasikan (renraku), dan berkonsultasi (sodan). Prinsip ini menekankan pentingnya komunikasi yang cepat, jelas, dan bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan.


“Di sini kita tidak boleh menunggu masalah menjadi besar. Setiap kendala harus segera dilaporkan, perkembangan pekerjaan harus terus dikomunikasikan, dan kalau ragu harus langsung konsultasi,” jelasnya.


Menurut Aldi, budaya tersebut membentuk kebiasaan kerja yang transparan sekaligus mendorong karyawan untuk lebih proaktif dalam menyelesaikan masalah.


Selain kemampuan komunikasi, penguasaan bahasa Jepang menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan. Ia menyarankan calon pekerja untuk memiliki setidaknya sertifikat Japanese Language Proficiency Test (JLPT) level N3 sebagai dasar, serta terus meningkatkan kemampuan hingga level N2 agar memiliki peluang karier yang lebih luas.


Dalam proses belajarnya, Aldi tidak hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital. Ia menggunakan aplikasi pertukaran bahasa seperti HelloTalk untuk melatih kemampuan berbicara dengan penutur asli, sekaligus membiasakan diri dengan penggunaan bahasa sehari-hari.


“Belajar bahasa itu tidak bisa instan. Harus konsisten dan berani mencoba, termasuk saat salah,” ujarnya.


Tak hanya Aldi, kisah inspiratif juga datang dari alumni Sastra Inggris UM Indonesia, Lulu Nur Fadilah, S.S., yang kini berkarier di Fuji Holdings Co., Ltd., Yokohama, Jepang sebagai staf Human Resources (HR).


Jika Aldi menempuh jalur komunikasi dan adaptasi budaya kerja, Lulu justru memperkuat kariernya melalui kompetensi bahasa inggris yang ia bangun sejak masa perkuliahan. Lulusan tahun 2018 ini menilai bahwa kemampuan interpreting yang ia pelajari tidak hanya terbatas pada komunikasi lisan, tetapi juga mencakup keterampilan menulis yang sangat dibutuhkan di dunia kerja Jepang.


Dalam praktiknya, ia kerap menyusun laporan kerja atau kiroku, yakni dokumentasi detail mengenai aktivitas dan kejadian dalam pekerjaan. Kemampuan menulis laporan ini menjadi salah satu aspek penting dalam sistem kerja perusahaan Jepang yang menekankan ketelitian dan akurasi.


“Di Sastra Inggris, kami terbiasa menulis esai dan laporan. Ternyata itu sangat relevan saat bekerja di Jepang, terutama untuk membuat kiroku atau laporan kerja,” ungkap Lulu.


Kemampuan tersebut menjadi nilai tambah yang membantunya dipercaya untuk menangani berbagai tugas di bidang sumber daya manusia. Saat ini, Lulu telah bekerja secara profesional di Jepang dengan penghasilan yang stabil, serta kesempatan pengembangan karier yang terbuka.


Ia juga menyoroti pentingnya memiliki minat dan tujuan hidup sebagai fondasi untuk bertahan di lingkungan kerja luar negeri yang penuh tantangan.


“Kita harus tahu apa yang kita sukai. Ketika menghadapi tekanan kerja, kita punya alasan untuk bertahan. Itu yang penting agar tidak menyerah di tengah jalan,” ujarnya.


Lulu menambahkan, bagi yang ingin meniti karier di Jepang, penguasaan bahasa hingga level JLPT N2 menjadi salah satu syarat penting, termasuk dalam proses pengajuan visa kerja profesional seperti gijinkoku.


Kisah Aldi dan Lulu menunjukkan bahwa tidak ada jalur tunggal untuk mencapai karier global. Latar belakang pendidikan yang berbeda justru dapat menjadi kekuatan, selama diimbangi dengan kemauan belajar, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi.


Dari driver ojek hingga staf administrasi, serta dari mahasiswa Sastra Inggris hingga profesional HR di Jepang, keduanya membuktikan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan.


“Tidak ada kata terlambat. Yang penting punya target, berani memulai, dan konsisten menjalaninya,” tutup Aldi.

Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)

Abidin Nurfarizi - Ratih Firdiyah (ed)