Bekasi — Di tengah masih munculnya kasus diskriminasi dan perbedaan yang kerap memicu konflik di lingkungan pendidikan, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA Bekasi) menekankan pentingnya peran guru dalam menjaga kebhinekaan sejak dini.
Pesan tersebut disampaikan dalam Kuliah Umum (Stadium Generale) bertema Wawasan Kebhinekaan Global (WKG) bagi mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun Akademik 2025/2026 yang diikuti sekitar 50 peserta. Kegiatan ini menghadirkan Wakil Rektor III, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, M.Sc., Ph.D..
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi penjaga nilai keberagaman di sekolah. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta.
Prof. Sri Atmaja menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang siswa terhadap perbedaan. Ia menekankan pentingnya sekolah memiliki rencana budaya (school culture plan) agar nilai kebhinekaan bisa terlihat nyata dalam keseharian siswa.
“Peran strategis pendidik sangat penting dalam menjalankan kebhinekaan global. Sekolah harus punya plan school culture supaya anak bisa melihat culture yang benar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan hal yang kerap luput disadari dalam dunia pendidikan. “Jangan menganggap guru selalu benar. Guru juga bisa salah, jadi penting untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” tegasnya.
Diskusi semakin berkembang ketika salah satu mahasiswa PPG, Yusuf, menyoroti bahwa diskriminasi tidak selalu berkaitan dengan SARA, tetapi juga bisa muncul dari perbedaan pandangan politik dan ekonomi. Menanggapi hal tersebut, Prof. Sri Atmaja menjelaskan bahwa bentuk diskriminasi memang luas dan guru harus mampu bersikap adil di tengah perbedaan tersebut.
Ia juga menekankan bahwa kecerdasan tanpa nilai tidak cukup dalam pendidikan. “Walaupun orang pintar, tapi tidak punya nilai, tetap tidak berguna,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA Bekasi) berharap para calon guru tidak hanya siap mengajar, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam menjaga kebhinekaan. Ke depan, guru diharapkan bisa menciptakan lingkungan belajar yang adil, terbuka, dan menghargai perbedaan. (*)
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
