Bekasi — Dilema yang dihadapi atlet yang juga berstatus mahasiswa dalam menyeimbangkan tuntutan latihan dan kewajiban akademik masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi di Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, seorang mahasiswi UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Hanifah Aulia Rahmah, menghadirkan inovasi yang menawarkan pendekatan sistemik untuk menjawab tantangan tersebut.
Hanifah mengembangkan AULIA Model (Athlete–University–Industry Alignment), sebuah sistem pengelolaan karier ganda (dual-career) bagi atlet mahasiswa yang dirancang tidak hanya sebagai konsep, tetapi juga sebagai mekanisme implementatif yang terstruktur.
Inovasi ini ia presentasikan dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas, yang menilai capaian akademik, kemampuan komunikasi, serta gagasan inovatif mahasiswa. Melalui gagasan tersebut, Hanifah berhasil meraih juara ketiga.
Menurut Hanifah, selama ini banyak atlet mahasiswa di Indonesia harus menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan prestasi olahraga atau menyelesaikan pendidikan tinggi, akibat belum adanya sistem dukungan yang terintegrasi.
“Ada banyak atlet yang akhirnya tertinggal secara akademik atau bahkan harus mengorbankan salah satu jalur kariernya, karena sistem yang ada belum sepenuhnya mendukung keduanya berjalan beriringan,” ujarnya.
Melalui AULIA Model, Hanifah merancang mekanisme implementasi berbasis kelembagaan melalui pembentukan Komite AULIA. Komite ini menjadi pusat koordinasi yang melibatkan lima pihak utama, yakni universitas, industri, pemerintah, komunitas olahraga, dan media.
Komite AULIA bertugas mengintegrasikan berbagai dukungan bagi atlet mahasiswa ke dalam satu sistem terpadu. Cakupannya meliputi penyusunan kebijakan akademik yang lebih fleksibel, penyediaan program beasiswa, pendampingan perencanaan karier, hingga fasilitasi program magang ke dunia industri.
Dengan pendekatan tersebut, AULIA Model tidak hanya menawarkan gagasan, tetapi juga menghadirkan tata kelola yang memungkinkan pengelolaan karier ganda atlet mahasiswa berjalan secara terstruktur dan berkelanjutan.
Program ini dirancang untuk diuji coba di Kota Bekasi dengan melibatkan UM Indonesia (UNISMA Bekasi) sebagai institusi awal. Ke depan, model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi lain serta menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pendidikan dan pembinaan atlet di tingkat daerah maupun nasional.
Sejumlah pihak menilai pendekatan kolaboratif seperti ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia di bidang olahraga, yang tidak hanya berorientasi pada prestasi jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan karier atlet setelah masa kompetitif berakhir.
Hanifah menyebut, partisipasinya dalam Pilmapres bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan gagasan yang berdampak.
“Menjadi mahasiswa adalah tentang memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Harapannya, ke depan tidak ada lagi atlet mahasiswa yang harus memilih antara pendidikan dan olahraga, karena sistem sudah mendukung keduanya,” tuturnya.
Komitmen perguruan tinggi dalam mendorong inovasi mahasiswa dinilai menjadi faktor penting dalam melahirkan solusi atas berbagai persoalan strategis di masyarakat, termasuk di sektor pendidikan dan olahraga.
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
Abidin Nurfarizi - Ratih Firdiyah (ed)
