Bekasi – Pemanfaatan
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia akademik kini tidak
lagi sebatas menggunakan ChatGPT untuk membantu menulis. AI telah berkembang
menjadi perangkat pendukung penelitian yang mampu membantu peneliti menemukan
research gap, mencari referensi ilmiah, hingga menyusun publikasi yang lebih
berkualitas.
Hal tersebut disampaikan
dalam seminar bertajuk "Implementasi Pembelajaran PJOK dengan Pendekatan
Mendalam dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Publikasi
Ilmiah" melalui materi "From Research to Publication: Strategi,
Etika, dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penulisan Karya
Ilmiah" yang disampaikan oleh Dr. Aridhotul Haqiyah, M.Pd., dosen PJKR UM
Indonesia (UNISMA Bekasi)
Dalam paparannya, Dr.
Aridhotul menekankan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara peneliti
menjalankan proses riset. Jika sebelumnya AI lebih dikenal sebagai chatbot
untuk menghasilkan teks, kini teknologi tersebut mampu mendukung hampir seluruh
tahapan penelitian, mulai dari pencarian literatur, pemetaan kebaruan
penelitian (research gap), analisis referensi, hingga penyuntingan naskah
sebelum dipublikasikan.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penelitian adalah menemukan kebaruan atau novelty. Banyak karya ilmiah sulit menembus jurnal bereputasi karena belum mampu menunjukkan celah penelitian yang jelas. Kehadiran AI menjadi solusi untuk mempercepat proses identifikasi topik yang masih minim diteliti melalui pemetaan hubungan antarpublikasi dan analisis literatur secara lebih sistematis.
Materi yang disampaikan juga memperlihatkan bahwa AI memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar menghasilkan tulisan. Berbagai teknologi AI kini dapat dimanfaatkan sebagai mesin pencari literatur ilmiah, alat pemetaan research gap, asisten virtual, penerjemah, pemeriksa tata bahasa, hingga pendukung analisis data dan visualisasi penelitian.
Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah platform AI yang mulai banyak digunakan peneliti dunia, seperti Semantic Scholar, Consensus, Elicit, Typeset, Scite, Open Knowledge Maps, Connected Papers, dan Research Rabbit. Masing-masing platform memiliki fungsi berbeda, mulai dari menemukan referensi yang relevan, memetakan perkembangan penelitian, hingga membantu menyusun manuskrip ilmiah secara lebih efektif.
Meski demikian, Dr. Aridhotul mengingatkan bahwa penggunaan AI harus tetap berlandaskan etika akademik. AI diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi proses penelitian, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis, analisis, maupun tanggung jawab ilmiah seorang peneliti.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak boleh menggeser prinsip integritas akademik. Peneliti tetap bertanggung jawab terhadap keaslian ide, validitas data, serta kualitas analisis yang dihasilkan.
Transformasi ini menandai babak baru dalam dunia riset Indonesia. Di era digital, kemampuan memanfaatkan AI secara tepat dinilai akan menjadi salah satu kompetensi penting bagi dosen, mahasiswa, maupun peneliti untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sekaligus memperkuat daya saing riset Indonesia di tingkat internasional. *
Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)


