Bukti Kampus Inklusif, PAI UM Indonesia Adakan Dialog Islam–Katolik Berbasis Akademik

Bekasi – Di saat isu intoleransi dan polarisasi identitas masih kerap mewarnai ruang publik Indonesia, program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi yang sedang dalam proses trasnformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) mengambil langkah berbeda. Bukan dengan retorika, tetapi melalui forum akademik yang membedah secara serius relasi Islam dan Gereja Katolik di Indonesia.

Program Studi PAI Bekasi bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Pusat Studi Islam (PUSI)  UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menghadirkan Greg Soetomo, imam Jesuit sekaligus penulis Ensiklopedia 100 Tema Relasi Gereja Katolik dengan Umat Muslim di Indonesia. Forum yang diikuti 35 peserta ini tidak sekadar membahas toleransi sebagai slogan, melainkan membongkar kerangka teoretis dan praksis dialog lintas iman.

Dialog Bukan Basa-basi

Dalam pemaparannya, Romo Greg menekankan bahwa dialog antaragama harus melampaui seremoni dan ucapan selamat hari raya. Ia merujuk pada kerangka dialog yang dikembangkan oleh Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID), yang membagi dialog ke dalam empat model: kehidupan, aksi sosial, pengalaman religius, dan pertukaran teologis.

“Kalau dialog berhenti di seremoni, ia mudah runtuh saat ada gesekan. Dialog harus masuk ke kerja sosial bersama dan pertukaran pemikiran yang jujur,” tegasnya.


Pernyataan itu seperti kritik halus terhadap praktik toleransi simbolik yang sering terjadi—ramai di ruang publik, namun rapuh dalam situasi krisis.

Dari Relasi Sosial ke Diskursus Teologis Perguruan Tinggi Islam Ambil Peran Strategis 

Dekan FAI UNISMA Bekasi, Dr. Akmal Rizki Gunawan HSB, MA., dalam sambutannya menyatakan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab moral dan intelektual dalam membangun ruang dialog yang produktif.

“Kampus tidak boleh menjadi ruang yang steril dari perbedaan. Justru di sinilah perbedaan diuji secara ilmiah dan etis,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi kampus Islam bukan sebagai ruang eksklusif, melainkan sebagai laboratorium sosial bagi penguatan moderasi beragama dan pendewasaan cara pandang keberagamaan mahasiswa.

Senada, Kaprodi PAI Assoc. Prof. Dr. Irham, MA. Pd. ini juga diharapkan mampu memperkuat kurikulum Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya dalam pengembangan pendidikan multikultural dan moderasi beragama yang lebih kontekstual dan aplikatif di tengah masyarakat majemuk.

Dari Relasi Sosial ke Diskursus Teologis

Yang menarik, diskusi tidak berhenti pada relasi sosial sehari-hari. Forum ini juga menyentuh dialogue of theological exchange—wilayah yang sering dianggap sensitif karena menyangkut doktrin dan keyakinan mendasar.

Romo Greg menegaskan bahwa dialog teologis bukan untuk mencampuradukkan ajaran, tetapi untuk memperdalam pemahaman masing-masing.

Pendekatan ini diperkuat oleh tanggapan Drs. Agus Supriyanto, M.Hum., yang menilai literasi keagamaan mahasiswa harus dibangun secara kritis agar tidak mudah terjebak dalam narasi konflik atau penyederhanaan sejarah relasi Islam–Kristen di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Forum Diskusi

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB ini ditutup dengan buka puasa bersama. Momen tersebut bukan sekadar agenda sosial, tetapi simbol bahwa dialog dapat berjalan berdampingan dengan praktik keagamaan yang dijalankan secara otentik.

Dengan menghadirkan diskursus berbasis buku akademik dan membuka ruang tanya jawab yang kritis, PAI UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menunjukkan bahwa relasi Islam–Kristen tidak harus dipahami melalui kecurigaan, melainkan melalui penelitian, literasi, dan perjumpaan yang rasional. Di tengah tantangan kebangsaan yang kompleks, langkah kecil di ruang kelas itu memberi pesan jelas: harmoni tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari keberanian berdialog secara jujur dan terdidik. (*)

Humas
Abidin Nurfaizi / Ratih Firdiyah