Bekasi — Persoalan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan yang kian mengkhawatirkan menjadi sorotan dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Indonesia/UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Jumat (06/02/2026). Dalam forum tersebut, Dr. Ir. Samin menegaskan bahwa lemahnya sistem pengelolaan sampah berpotensi memicu krisis lingkungan dan bencana ekologis di berbagai daerah.
Kegiatan yang digelar di Bekasi ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen lintas program studi. Diskusi difokuskan pada upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui pemanfaatan teknologi, data, dan energi terbarukan.
Moderator kegiatan, R. Hengki Rahmanto, M.Eng, menekankan bahwa persoalan sampah merupakan isu strategis yang akan terus dihadapi masyarakat di masa depan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong kolaborasi lintas disiplin guna merumuskan solusi berkelanjutan.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang saja. Dibutuhkan sinergi antara teknik sipil, mesin, elektro, hingga informatika,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Samin menjelaskan bahwa peningkatan volume sampah berkorelasi langsung dengan pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Namun, hingga saat ini, sebagian besar tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia masih menerapkan sistem open dumping atau pembuangan terbuka.Padahal, sesuai regulasi, TPA seharusnya berfungsi sebagai tempat pemrosesan sampah, bukan sekadar lokasi penumpukan.
“Ketika sampah hanya ditumpuk tanpa pengelolaan, risikonya bukan hanya pencemaran lingkungan, tetapi juga potensi bencana yang mengancam keselamatan manusia,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu, penumpukan sampah dalam skala besar berpotensi memicu longsor, sebagaimana sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak kemanusiaan.
Menurut Samin, hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah membawa perubahan paradigma dengan menempatkan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Sampah dapat diolah menjadi energi, kompos, pupuk, maupun bahan baku industri.
“Jika dikelola dengan baik, sampah tidak lagi menjadi beban, tetapi justru dapat memberikan manfaat ekonomi dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Namun, implementasi kebijakan tersebut di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, minimnya teknologi pendukung, hingga lemahnya sistem pendataan. Kondisi ini menyebabkan pengelolaan sampah belum berjalan optimal di banyak daerah.
Dalam konteks tersebut, pendekatan berbasis data dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Pemanfaatan sensor, sistem informasi, serta teknologi pemantauan dinilai mampu membantu pengelolaan volume sampah secara lebih akurat dan real time.
Samin mencontohkan praktik di sejumlah negara maju, seperti Jepang, yang telah menerapkan pemilahan sampah secara ketat sehingga hanya residu dalam jumlah kecil yang berakhir di TPA.
“Jika sistem pengelolaan dirancang dengan baik, jumlah sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan secara signifikan. Artinya, TPA tidak lagi menjadi titik akhir, melainkan bagian dari sistem pengolahan,” ujarnya.
Diskusi ini juga menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi sosial. Setiap bidang teknik memiliki kontribusi nyata, mulai dari perancangan infrastruktur, pengolahan limbah, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pengembangan sistem informasi.
Di sisi lain, perubahan paradigma pengelolaan sampah juga menuntut kesadaran individu. Prinsip reduce, reuse, recycle (3R) dinilai menjadi langkah mendasar yang dapat diterapkan di lingkungan kampus dan masyarakat, termasuk melalui pengurangan penggunaan kertas, pemanfaatan sistem digital, serta kebiasaan memilah sampah.
Melalui kegiatan ini, kampus diharapkan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga motor penggerak lahirnya kesadaran kolektif dan gagasan solutif. Sebab, pengelolaan sampah berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan dan teknologi, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam menjaga masa depan lingkungan yang lebih sehat.
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
