Bekasi — Pandangan bahwa skripsi adalah momok terakhir mahasiswa kembali dipertanyakan. Dalam kegiatan Penyegaran dan Rekonstruksi Panduan Penulisan Skripsi di Fakultas Ekonomi UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Kamis (5/2/2026), Prof. Latipun, Ph.D., Wakil Rektor II UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menyebut bahwa skripsi seharusnya bisa diselesaikan hanya dalam satu semester.
Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 20 dosen pembimbing skripsi dari berbagai program studi di lingkungan Fakultas Ekonomi, yang terlibat langsung dalam diskusi dan evaluasi sistem bimbingan.
Menurut Wakil Rektor II UM Indonesia (UNISMA Bekasi) itu, skripsi berbobot 6 SKS secara logika akademik setara dengan mata kuliah lain yang juga diselesaikan dalam satu semester.
“Kalau 24 SKS bisa selesai dalam satu semester, maka skripsi 6 SKS juga seharusnya bisa,” tegasnya.
Prof. Latipun menilai, keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada mahasiswa. Justru, persoalan utama sering terletak pada sistem bimbingan yang belum terkelola dengan baik.
“Mahasiswa itu bukan malas. Masalahnya ada pada pengelolaan bimbingan. Dosen harus aktif mendampingi sampai selesai, bukan membimbing tanpa target waktu yang jelas,” ujarnya.
Ia menyoroti praktik
bimbingan yang terlalu panjang akibat diskusi yang tidak terarah. Menurutnya,
proses tersebut justru membuat mahasiswa kehilangan fokus dan motivasi.
Sebagai solusi, Prof.
Latipun mendorong penerapan bimbingan skripsi secara kolaboratif. Melalui
bimbingan bersama, mahasiswa dapat berdiskusi langsung dengan lebih dari satu
dosen, membahas hambatan penelitian secara terbuka, serta mendapatkan arahan
yang lebih terstruktur.
Selain itu, dosen juga
didorong untuk lebih aktif membantu mahasiswa sejak awal, mulai dari penentuan
judul hingga penyusunan landasan teori.
“Kalau dari awal sudah
jelas, mahasiswa bisa langsung fokus mengembangkan penelitiannya,” katanya.
Gagasan tersebut membuka
peluang perubahan pola penyusunan skripsi di lingkungan kampus. Dosen Program
Studi Manajemen, Isti Puji Hastuti, menilai bahwa skripsi tidak harus selalu
dikerjakan di akhir masa studi.
“Bisa saja dimulai lebih
awal, selama regulasi mendukung. Ini demi membantu mahasiswa lulus tepat
waktu,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini,
Fakultas Ekonomi UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menargetkan lahirnya pola
bimbingan skripsi yang lebih praktis, terarah, dan berorientasi pada hasil.
Dengan sistem yang lebih efektif, mahasiswa diharapkan tidak lagi terjebak
dalam proses skripsi yang berlarut-larut, tanpa harus mengorbankan kualitas
akademik.
Humas UM Indonesia (UNISMA
Bekasi)
