Andalkan Suara Laptop, Mahasiswa Tunanetra PAI Ini Sukses Lulus Wisuda ke-47 UM Indonesia Demi Jadi Guru!

Bekasi — Bagi kebanyakan mahasiswa, membaca buku, membuka modul kuliah, atau memperhatikan tulisan di layar merupakan hal yang dilakukan dengan mudah. Namun, bagi Muhammad Althariq Rasjid, setiap kalimat dan materi perkuliahan hadir melalui suara yang keluar dari laptopnya.

Melalui aplikasi pembaca layar NVDA, mahasiswa tunanetra Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) ini tidak hanya mampu mengikuti perkuliahan, tetapi kini telah resmi menyelesaikan studi dan merayakan kelulusannya.

Perjuangan dan keteguhan hati Thariq (sapaan akrab Muhammad Althariq Rasjid) berbuah manis. Pada Sabtu, 13 Juni 2026, ia resmi diwisuda dalam gelaran Wisuda ke-47 UM Indonesia (UNISMA Bekasi) yang diselenggarakan dengan khidmat di Aula Suyati, Kampus UM Indonesia (UNISMA Bekasi). Momen ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih gelar sarjana.

IMG_6711

Di balik toga dan ijazah yang berhasil didekap Thariq kemarin, ada sosok ibu yang tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangganya di sudut Aula Suyati. Bagi sang ibu, melihat putranya berdiri di podium wisuda adalah jawaban dari untaian doa panjang dan perjuangan tanpa lelah yang mereka lalui bersama.


Sejak awal melangkah ke bangku perkuliahan, sang ibu adalah pilar pendukung utama yang meyakinkan Thariq bahwa ia memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk menuntut ilmu. Keberhasilan Thariq lulus tepat waktu bukan hanya kemenangan sang mahasiswa, melainkan buah dari kesabaran, keikhlasan, dan dukungan tanpa batas seorang ibu yang selalu mendampingi di masa-masa sulit.


Begitupun bagi Thariq, keteguhan hati sang ibu justru menjadi motivasi pendorong terbesar dalam hidupnya. Sosok ibunda tercinta menjadi pilar yang terus setia berada di sisinya, mendampingi di setiap jengkal momen perkuliahan yang ia lalui di UM Indonesia (UNISMA Bekasi). Setiap kali rasa lelah datang atau tantangan terasa kian berat, kesetiaan dan kehadiran ibunya lah yang membakar kembali semangat Thariq untuk membuktikan bahwa kepercayaan sang ibu tidak akan pernah sia-sia.


Keputusan Thariq untuk berkuliah di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) pun mendapat restu penuh dari sang ibunda. Sejak awal, ia memiliki keinginan kuat untuk mendalami ilmu agama dan menjadikannya sebagai bekal untuk memberikan manfaat luas kepada masyarakat.


“Saya memilih PAI karena ingin mengambil jurusan yang ada agamanya,” ujar Thariq.

Di tengah perjalanan akademiknya, Thariq menghadapi tantangan yang tidak selalu mudah. Salah satunya ketika menghadapi ujian yang membutuhkan pendamping untuk membantu proses pengisian jawaban. Meski demikian, berkat motivasi yang terus ditiupkan sang ibu di rumah, keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti, hingga akhirnya ia berhasil lulus.


Dalam aktivitas perkuliahan sehari-hari, Thariq mampu belajar secara mandiri dengan mengombinasikan berbagai metode pembelajaran. Selain menggunakan buku Braille, ia juga memanfaatkan buku elektronik, file PDF, serta materi presentasi melalui laptop yang telah dipasang aplikasi Non Visual Desktop Access (NVDA), sebuah teknologi pembaca layar berbasis suara yang membantunya memahami materi perkuliahan.


“Saya menggunakan buku Braille dan buku elektronik menggunakan laptop. Laptop tersebut dipasang aplikasi NVDA berbasis suara yang membantu saya membaca materi dan mengikuti pembelajaran,” tuturnya.

ChatGPT Image Jun 13, 2026, 02_17_44 PM

Perjalanan kuliah Thariq juga tidak lepas dari dukungan lingkungan sekitarnya. Ia merasakan adanya kepedulian dari dosen dan teman-temannya yang selalu memberikan bantuan ketika diperlukan. Menurutnya, kunci utama bagi mahasiswa disabilitas untuk dapat berkembang adalah keberanian untuk tetap aktif dan membangun komunikasi yang baik.


“Yang penting kita aktif dan komunikatif. Dosen dan teman-teman selalu membantu, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan,” ungkapnya.


Kehadiran Muhammad Althariq Rasjid sebagai mahasiswa tunanetra menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi harus menjadi ruang yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Melalui fasilitas pembelajaran yang adaptif, dukungan lingkungan kampus, serta kemauan untuk terus belajar, keterbatasan tidak menjadi penghalang dalam meraih masa depan.


Tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, Thariq juga ingin menyampaikan pesan kepada penyandang disabilitas lainnya agar tidak ragu mengambil langkah menuju perguruan tinggi.


“Jangan takut untuk kuliah. Pasti ada kesulitan, tetapi tetap semangat karena banyak teman-teman tunanetra yang berhasil. Jangan menyerah,” pesannya optimis.


Di balik suara yang menuntunnya membaca setiap halaman materi kuliah, tersimpan tekad besar seorang Muhammad Althariq Rasjid untuk suatu hari berdiri di depan kelas sebagai seorang guru. Kisahnya menjadi pengingat bahwa mimpi tidak ditentukan oleh keterbatasan fisik, tetapi oleh keberanian untuk terus belajar dan melangkah maju.

Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)