UM Indonesia Kaji Fenomena Hijrah, KH Muhammad Choirin: Bisa Merasa Benar Padahal Keliru

BEKASI – Di tengah derasnya arus informasi keagamaan di media sosial dan meningkatnya fenomena hijrah di kalangan masyarakat, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) mengingatkan pentingnya menjadikan ilmu sebagai fondasi sebelum beramal. Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Bulanan bertema “Hijrah dari Kebiasaan ke Kesadaran: Membangun Fondasi Ilmu dalam Beramal” yang menghadirkan Dr. KH. Muhammad Choirin, Lc., M.A., Anggota Pimpinan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, di Masjid Al Fatah UM Indonesia


Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr. Musyaffa Amin Ash Shabah, S.H.I., M.H. tersebut diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta pimpinan unit di lingkungan UM Indonesia. Pengajian bulanan ini merupakan bagian dari penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Indonesia. Melalui kegiatan ini, kampus berupaya menanamkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan kepada seluruh sivitas akademika agar tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, kesadaran spiritual, serta semangat Islam Berkemajuan yang menjadi karakter Perguruan Tinggi Muhammadiyah.


Membuka kegiatan tersebut, Wakil Rektor III UM Indonesia, Prof. Ir. Sri Atmaja, menegaskan bahwa pengajian bulanan merupakan bagian dari komitmen kampus dalam membangun lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.


Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk insan yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi bagian penting dalam membangun karakter sivitas akademika di tengah berbagai tantangan zaman.


Dalam pemaparannya, KH. Choirin menjelaskan bahwa hijrah tidak semata-mata dimaknai sebagai perpindahan tempat sebagaimana yang sering dipahami masyarakat. Hijrah juga merupakan proses perubahan pola pikir, sikap, dan orientasi hidup menuju ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, seseorang perlu berhijrah dari sekadar kebiasaan menuju kesadaran dalam beribadah dan beramal.


Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara kebiasaan dan kesadaran. Kebiasaan sering kali dilakukan karena rutinitas, ikut-ikutan, dan tanpa refleksi sehingga mudah ditinggalkan. Sebaliknya, kesadaran lahir dari pemahaman yang mendalam, memiliki nilai ibadah, penuh pemaknaan, dan menjadikan seseorang lebih istiqamah dalam menjalankan amal.


"Sering kali kita melakukan sesuatu karena sudah terbiasa. Padahal Islam mengajarkan agar setiap amal dilakukan dengan ilmu, pemahaman, dan kesadaran. Dari situlah nilai ibadah akan lahir dan seseorang mampu istiqamah dalam kebaikan," ujar KH. Choirin.


Ia menambahkan, fenomena hijrah yang berkembang di tengah masyarakat perlu diarahkan pada penguatan ilmu dan pemahaman agama yang benar. Hijrah tidak cukup dimaknai sebagai perubahan penampilan atau lingkungan pergaulan semata, tetapi harus melahirkan perubahan cara berpikir yang lebih matang, kritis, dan berorientasi pada kebaikan.


Untuk memberikan gambaran mengenai pentingnya kesadaran dalam kehidupan dan kepemimpinan, KH. Choirin mengangkat kisah Nabi Sulaiman AS. Menurutnya, Nabi Sulaiman merupakan teladan pemimpin yang tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga ilmu, hikmah, dan kemampuan membaca situasi dengan bijaksana.


Melalui kisah tersebut, KH. Choirin menjelaskan bahwa kepemimpinan yang efektif lahir dari kesadaran dan pemahaman yang mendalam terhadap amanah yang diemban. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan atau mengikuti pola yang diwariskan, tetapi harus mampu menyesuaikan diri dengan konteks dan tantangan yang dihadapi.


KH. Choirin juga mengingatkan pentingnya menjadikan ilmu sebagai fondasi sebelum beramal. Ia mengutip prinsip Islam bahwa ilmu mendahului amal sebagaimana ditegaskan dalam QS. Muhammad ayat 19. Tanpa ilmu, seseorang berpotensi salah niat, salah cara, mudah terpengaruh, bahkan merasa benar padahal keliru.


"Ilmu adalah fondasi utama dalam beramal. Amal yang dilandasi ilmu dan kesadaran akan lebih ikhlas, tepat, dan istiqamah. Sebaliknya, amal tanpa ilmu dapat menjerumuskan seseorang pada kesalahan yang tidak disadari," tegasnya.


Sesi dialog berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Kasubdit Perpustakaan UM Indonesia, Febi, mengangkat isu kepemimpinan dengan menanyakan apakah seorang pemimpin harus selalu turun langsung melakukan pekerjaan teknis sebagai bentuk keteladanan, meskipun tugas tersebut dapat dikerjakan oleh bawahannya.


Menjawab pertanyaan tersebut, KH. Choirin menegaskan bahwa setiap pemimpin memiliki gaya dan metode kepemimpinan yang berbeda.


"Gaya atau metode kepemimpinan setiap individu bersifat personal dan memiliki mekanismenya masing-masing. Hal yang paling krusial adalah tidak terjebak dalam stereotip atau opini publik bahwa seorang pemimpin harus menggunakan satu cara tertentu. Esensi kepemimpinan adalah efektivitas hasil dan keselarasan tim, bukan keseragaman metode kerja," jelasnya.


Pertanyaan berikutnya disampaikan Abdul Musi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UM Indonesia, mengenai bagaimana menyelaraskan pelajaran kepemimpinan masa lalu dengan dinamika kondisi saat ini.


Menanggapi hal tersebut, KH. Choirin menjelaskan bahwa nilai-nilai kepemimpinan dari masa lalu tetap relevan untuk dipelajari, namun penerapannya harus disesuaikan dengan konteks zaman.


"Kita belajar dari sejarah dan pengalaman para pemimpin terdahulu, tetapi penerapannya harus melihat kondisi yang ada saat ini. Nilainya tetap sama, namun pendekatan dan strateginya harus kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman," ujarnya.


Pengajian bulanan ini menjadi salah satu ikhtiar UM Indonesia dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran spiritual. Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi, dan tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks, kampus memandang bahwa ilmu dan kesadaran merupakan bekal penting dalam menjalankan peran sebagai akademisi maupun warga masyarakat.


Melalui pengajian ini, UM Indonesia berharap seluruh sivitas akademika mampu menjadikan ilmu sebagai landasan dalam setiap tindakan, baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun pengabdian kepada masyarakat. Sejalan dengan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, kampus berkomitmen melahirkan insan akademis yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran beragama, berakhlak mulia, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.


Sebagaimana disampaikan KH. Choirin dalam penutup materinya, "Ilmu menuntun arah, amal mewujudkan berkah, dan kesadaran menjadikan keduanya bernilai ibadah."