Raih Medali SEA Games, Prasojo Mahasiswa UM Indonesia Bebas Skripsi!

Bekasi — Medali di ajang internasional kini tak hanya menjadi kebanggaan olahraga nasional, tetapi juga diakui sebagai capaian akademik di perguruan tinggi. Hal ini dialami Prasojo, atlet voli tim nasional Indonesia sekaligus mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) UM Indonesia (UNISMA Bekasi).


Usai meraih medali perak pada SEA Games Thailand 2025, Prasojo menyelesaikan tugas akhirnya tanpa skripsi, melalui skema yang telah diatur dalam ketentuan akademik fakultas.


“Alhamdulillah karena juara 2 SEA Games, skripsi diganti jadi biodata profil, jadi nggak perlu bikin skripsi,” ujar Prasojo.


Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Dekan FKIP UM Indonesia (UNISMA Bekasi), yang menyebutkan bahwa tugas akhir mahasiswa dapat ditempuh dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui capaian prestasi. Mahasiswa yang memperoleh medali (juara 1, 2, atau 3) pada kejuaraan internasional multievent olahraga dapat menjadikannya sebagai bentuk penyelesaian tugas akhir .


Dari Proliga ke Panggung Internasional


Perjalanan Prasojo dimulai dari kompetisi nasional Proliga sebelum akhirnya menembus level internasional bersama tim nasional Indonesia.


Pada 2025, ia dipercaya memperkuat timnas dalam ajang SEA Games di Thailand dan berhasil mempersembahkan medali perak. Selain itu, ia juga konsisten memperkuat tim nasional dalam turnamen SEA V League sejak 2023 hingga 2025.


Sebagai libero, Prasojo memiliki peran penting dalam lini pertahanan—posisi yang menuntut refleks cepat dan ketahanan fisik tinggi.


“Sudah biasa kena bola di badan atau muka, jatuh bangun itu hal biasa,” ungkapnya.


Ia juga mencatat prestasi individu dengan meraih penghargaan Best Libero pada SEA V League 2023.


Prestasi Jadi Jalur Akademik


Ketua Program Studi PJKR UM Indonesia (UNISMA Bekasi), Dr. Aridhotul Haqyah, menegaskan bahwa capaian Prasojo merupakan bagian dari skema tugas akhir yang telah ditetapkan secara resmi.


“Untuk mahasiswa yang meraih prestasi di tingkat internasional seperti SEA Games, capaian tersebut dapat dikonversi sebagai tugas akhir,” ujarnya.


Pendidikan dan Karier Berjalan Seiring


Di tengah kesibukannya sebagai atlet nasional, Prasojo tetap menjalani perkuliahan. Ia menilai komunikasi menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara akademik dan olahraga profesional.


“Kalau komunikasi baik, sebenarnya bisa dijalani. Yang penting saling memahami,” jelasnya.


Bagi Prasojo, pendidikan tetap menjadi bekal penting untuk masa depan. Ia menyadari bahwa karier sebagai atlet memiliki batas waktu.


“Harapannya bisa jadi guru, karena umur atlet tidak panjang,” tuturnya.


Kisah Prasojo menunjukkan bahwa prestasi olahraga tidak hanya berkontribusi di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan akademik. Melalui skema yang diatur secara resmi, perguruan tinggi kini semakin membuka ruang bagi berbagai capaian mahasiswa sebagai bentuk penyelesaian studi.

Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
Abidin Nurfaizi/Ratih Firdiyah (ed)