Jakarta — Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin cepat dan transparan, birokrasi masih sering dianggap lambat dan kaku. Penelitian terbaru menunjukkan, perubahan organisasi justru dapat dimulai dari empati seorang pemimpin.
Temuan tersebut mengemuka dalam disertasi Dr. Hj. Evi Mafriningsianti, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi yang dalam proses transformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), yang berhasil meraih gelar doktor di bidang Ilmu Ekonomi dari Universitas Pancasila. Dalam penelitiannya, Evi menyoroti pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan organisasi, tetapi juga pada kemampuan memahami orang lain, baik pegawai maupun masyarakat sebagai penerima layanan publik.
Organisasi sektor publik, menurutnya, memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan layanan bagi masyarakat sekaligus menjaga transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana publik. Namun dalam praktiknya, kualitas pelayanan publik masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari prosedur yang berbelit hingga mekanisme penanganan keluhan masyarakat yang belum optimal.
Melalui disertasinya yang berjudul Empathy-Driven Ethical Interaction: A Catalyst for Creativity and Organizational Performance in Local Government Institutions of West Java, Evi mencoba menjawab tantangan tersebut dengan meneliti bagaimana kepemimpinan berbasis pengetahuan dan empati dapat memengaruhi kinerja organisasi.
Penelitian ini melibatkan 262 pimpinan organisasi perangkat daerah dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada pengetahuan menjadi faktor paling dominan dalam membentuk interaksi empatik dan etis di dalam organisasi.
Interaksi yang dilandasi empati dan etika tersebut terbukti mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka terhadap gagasan baru. Dalam situasi seperti itu, pegawai tidak hanya menjalankan prosedur administratif, tetapi juga terdorong menghadirkan inovasi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa interaksi empatik dan etis memiliki pengaruh signifikan terhadap kreativitas pegawai serta kinerja organisasi secara keseluruhan. Dengan kata lain, kepemimpinan yang mampu memahami kebutuhan orang lain dapat mendorong lahirnya budaya kerja yang lebih kolaboratif dan inovatif.
Menurut Evi, kepemimpinan yang berorientasi pada pengetahuan memiliki peran penting dalam mendorong terciptanya organisasi yang adaptif. Pemimpin tidak hanya menjadi pengambil keputusan, tetapi juga fasilitator yang mendorong pertukaran pengetahuan, pembelajaran bersama, serta kolaborasi antarpegawai.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan terutama di wilayah dengan keragaman sosial dan budaya seperti Jawa Barat. Dalam konteks tersebut, kemampuan pemimpin untuk membangun interaksi yang etis dan empatik dinilai penting dalam menciptakan harmoni organisasi sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik.
Penelitian ini juga menawarkan perspektif baru dalam kajian kepemimpinan sektor publik dengan mengintegrasikan tiga aspek penting, yakni kepemimpinan berbasis pengetahuan, interaksi empatik dan etis, serta kreativitas organisasi sebagai faktor yang memengaruhi kinerja lembaga publik. Melalui model tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem administrasi atau kebijakan struktural, tetapi juga oleh budaya kerja yang dibangun oleh pemimpin.
Bagi Evi, transformasi birokrasi pada akhirnya tidak hanya bergantung pada teknologi dan regulasi, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan yang mampu menumbuhkan empati, etika, dan semangat pembelajaran di dalam organisasi. Melalui riset yang ia lakukan, Evi berharap temuan tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah maupun organisasi publik dalam membangun budaya kerja yang lebih inovatif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.
“Ketika pemimpin mampu membangun interaksi yang empatik dan etis, organisasi akan lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan mampu bekerja secara lebih kreatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Dengan capaian akademik ini, Evi berharap penelitian yang ia lakukan tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat praktis dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia. (*)
Humas
Abidin Nurfarizi/ Ratih Firdiyah
