Bekasi, UM Indonesia – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) kembali menggelar Pengajian Bulanan Karyawan sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan keislaman sekaligus membangun karakter karyawan dalam menjalankan amanah. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Fatah UM Indonesia, Rabu (16/9/2026), mengangkat tema “Memahami Tauhid dan Meneguhkan Keikhlasan dalam Beramal” dengan menghadirkan Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, M.Pd., Dosen UM Indonesia, sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Dekan FISIP UM Indonesia Dr. Harun Al Rasyid, Drs, M.Si menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir. Ia berharap pengajian tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mendapatkan pengetahuan keislaman, tetapi juga menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan amanah sehari-hari.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu yang telah berkenan hadir dalam kegiatan pengajian ini. Semoga tausiah yang disampaikan dapat memberikan manfaat, menambah pemahaman, serta menjadi bekal bagi kita semua dalam menapaki jalan kehidupan yang lurus dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan sebuah perumpamaan sederhana mengenai pentingnya menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi orang lain.
“Kita tidak harus menjadi sebutir berlian untuk disukai banyak orang. Jadilah seperti air putih yang sederhana, tetapi mampu menghilangkan dahaga dan memberikan manfaat bagi siapa saja,” tuturnya.
Menurutnya, setiap individu tidak harus selalu tampil sebagai sosok yang paling menonjol untuk memberikan arti. Yang lebih penting adalah bagaimana keberadaan seseorang dapat menghadirkan manfaat, ketenangan, dan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.
Memaknai Kembali Arti Kesuksesan
Memasuki materi utama, Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, M.Pd. mengajak para karyawan untuk merefleksikan kembali makna kesuksesan dalam kehidupan.
Ia mengawali tausyiahnya dengan pertanyaan sederhana, “Apa itu sukses?”
Menurutnya, setiap orang dapat memiliki definisi yang berbeda mengenai kesuksesan. Bagi sebagian orang, sukses dapat dimaknai sebagai keberhasilan mendapatkan sesuatu, memperoleh jabatan, memiliki banyak uang, atau mencapai pencapaian tertentu.
“Bagi seseorang mungkin sukses itu ketika naik jabatan, punya banyak uang, atau mendapatkan pencapaian tertentu. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda tentang sukses,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kesuksesan dapat dipahami sebagai ekspektasi yang terpenuhi. Namun, kesuksesan tidak datang begitu saja. Dibutuhkan proses dan usaha yang konsisten untuk mencapainya.
“Bagaimana kita bisa sukses? Ada ikhtiar, ada doa, ada bekerja. Kuncinya adalah berusaha. Banyak orang melakukan ikhtiar untuk meraih kesuksesan,” jelasnya.
Namun, usaha yang dilakukan tidak selalu langsung menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapan. Ketika seseorang telah bekerja keras tetapi kesuksesan yang diharapkan belum tercapai, rasa kecewa merupakan hal yang manusiawi.
Untuk Apa dan untuk Siapa Kita Bekerja?
Lebih jauh, Dr. Dede mengajak peserta merenungkan dua pertanyaan penting, “Untuk apa kita bekerja?” dan “Untuk siapa kita bekerja?”
Menurutnya, seseorang dapat bekerja untuk mendapatkan penghasilan, mengejar jabatan, mencapai kesuksesan, maupun memperoleh pengakuan. Namun, orientasi tersebut perlu dikembalikan kepada tujuan yang lebih mendasar, yakni menjalankan amanah dan mencari rida Allah SWT.
Ketika seseorang terlalu menggantungkan kepuasan atas pekerjaannya kepada penilaian manusia, rasa kecewa akan lebih mudah muncul ketika hasil yang diharapkan tidak diperoleh.
Materi yang disampaikan juga membahas bahwa rasa kecewa ketika amal, pekerjaan, atau kontribusi profesional tidak menghasilkan pujian, jabatan, popularitas, maupun materi dapat menjadi bahan evaluasi terhadap orientasi hati.
Karena itu, memperbaiki niat menjadi bagian penting dalam menjaga keikhlasan.
Ikhlas dan Hati yang Bertauhid
Dr. Dede menjelaskan bahwa keikhlasan memiliki hubungan erat dengan tauhid. Hati yang bertauhid tidak menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran mutlak atas nilai sebuah amal.
“Hati yang bertauhid tidak akan pernah kecewa secara destruktif selama amalnya sudah diniatkan untuk mencari rida Allah, karena penilaian manusia tidak memiliki hakikat mutlak,” jelasnya.
Ia juga mengajak peserta untuk “menghidupkan CCTV”, sebagai sebuah perumpamaan tentang kesadaran bahwa setiap amal dan pekerjaan senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT.
Kesadaran tersebut diwujudkan melalui sikap bekerja secara maksimal tanpa harus selalu mendapatkan pujian, jujur dan amanah dalam hal-hal kecil, memberikan pelayanan terbaik kepada siapa saja, serta tetap berlapang dada ketika hasil kerja belum mendapatkan penghargaan dari manusia.
Pesan lainnya disampaikan melalui ungkapan “Mulutmu Harimaumu”, yang mengingatkan agar setiap orang menjaga perkataan karena apa yang diucapkan dapat memberikan dampak dan kembali kepada dirinya sendiri.
“Apa yang kamu ucapkan akan menerkammu. Apa yang kamu ucapkan akan kembali kepada dirimu.”
Penguatan tentang pentingnya amal yang ikhlas juga disampaikan melalui QS. Al-Kahfi ayat 110, yang mengingatkan agar amal saleh dilakukan dengan mengharap perjumpaan dengan Allah serta tidak menyekutukan-Nya dalam beribadah.
Pada akhirnya, pengajian ini mengajak seluruh karyawan UM Indonesia untuk melihat kembali makna keberhasilan. Kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian yang terlihat oleh manusia, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalankan ikhtiar, menjaga niat, menerima hasil dengan lapang dada, dan terus memberikan manfaat bagi orang lain. (*)
Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia


