BEKASI — Di balik perjuangan anak-anak penyandang Cerebral Palsy untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, terdapat peran besar orang tua yang tak pernah lelah mendampingi. Untuk memperkuat peran tersebut, puluhan orang tua mengikuti Parenting Class Home Therapy di Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), sebuah pelatihan yang membekali keluarga dengan pengetahuan dan keterampilan terapi rumahan yang dapat diterapkan secara mandiri demi meningkatkan kualitas hidup anak-anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Suyati Aula UM Indonesia ini diselenggarakan oleh Wheelchairs & Friendship Center of Asia (WAFCAI) Indonesia bersama Rumah Cerebral Palsy (RCP) Betacici. Acara menghadirkan narasumber Hidayat Wahyu Saputro, S.St.FT., Ftr, seorang ahli terapis dari Kun Anta Centre yang memberikan materi dan praktik langsung mengenai home therapy bagi anak penyandang disabilitas Cerebral Palsy pengguna kursi roda.
Menurut panitia, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi program sebelumnya yang menunjukkan masih tingginya kebutuhan orang tua terhadap informasi dan keterampilan praktis dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Banyak keluarga yang membutuhkan pemahaman mengenai terapi rumahan yang tepat agar dapat dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga.
“Home therapy yang dilakukan dengan benar dan berkelanjutan memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua menjadi bagian utama dari proses terapi karena mereka yang paling sering berinteraksi dan mendampingi anak dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap panitia.
Dalam sesi pelatihan, peserta mendapatkan pemahaman mengenai teknik dasar terapi rumahan yang aman dan efektif, mulai dari stimulasi gerak, posisi duduk yang tepat, latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, hingga pendampingan aktivitas sehari-hari bagi anak penyandang Cerebral Palsy. Materi tersebut dirancang agar mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan oleh orang tua setelah kegiatan berakhir.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para orang tua aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman terkait tantangan yang mereka hadapi dalam mendampingi anak-anak mereka. Interaksi yang hangat dan penuh semangat mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap program edukasi yang menyentuh langsung persoalan keluarga penyandang disabilitas.
Panitia menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi salah satu program yang paling banyak diminta oleh komunitas orang tua anak Cerebral Palsy. Selain memberikan wawasan baru, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan saling menguatkan antar keluarga yang menghadapi tantangan serupa.
Dari pihak UM Indonesia, Kasubdit Kesejahteraan, Kesehatan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni, Retna Dyah Marlangen, S.E., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan kampus.
Menurutnya, UM Indonesia senantiasa mendukung berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan kelompok rentan.
“Kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat. Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan manfaat langsung kepada keluarga anak penyandang disabilitas dan sekaligus meningkatkan kesadaran sosial di lingkungan kampus,” ujar Retna.
Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan komitmen UM Indonesia dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkemajuan melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi sosial, dan lembaga kemasyarakatan.
Selain memberikan manfaat bagi para orang tua, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum mengenai pentingnya kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Pemahaman yang baik tentang terapi dan pendampingan anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat menumbuhkan empati, kepedulian sosial, serta semangat inklusivitas di tengah masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, WAFCAI Indonesia dan komunitas Rumah Cerebral Palsy Bekasi berencana menyelenggarakan kegiatan serupa di berbagai wilayah Jabodetabek agar semakin banyak keluarga yang mendapatkan akses terhadap edukasi dan keterampilan pendampingan anak berkebutuhan khusus.
Di akhir kegiatan, WAFCAI Indonesia dan komunitas RCP Bekasi menyampaikan apresiasi kepada UM Indonesia atas dukungan fasilitas dan kerja sama yang diberikan. Mereka berharap sinergi tersebut dapat terus berlanjut dalam berbagai program sosial dan kemanusiaan di masa mendatang.
Melalui dukungan terhadap kegiatan Parenting Class Home Therapy ini, UM Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga aktif berkontribusi dalam menghadirkan solusi, kepedulian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas, khususnya bagi keluarga penyandang disabilitas.
Abidin Nurfaizi - Ratih Firdiyah (ed)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)


