Bekasi – Di tengah derasnya arus transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga perubahan dunia kerja yang semakin cepat, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan yang melampaui prestasi akademik. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) menggelar seminar Student Leadership yang menghadirkan praktisi industri sekaligus alumni, Aji Muhammad Turki, sebagai narasumber. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun karakter kepemimpinan yang inklusif, adaptif, dan solutif sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Seminar yang diikuti mahasiswa ini berlangsung interaktif. Melalui sesi diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan, melainkan kemampuan memberikan pengaruh positif, menggerakkan tim, serta menghadirkan solusi di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat.
Dalam pemaparannya, Aji Muhammad Turki menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi pemimpin di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat. Menurutnya, tantangan bangsa ke depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas secara akademik, tetapi juga sosok yang mampu menyatukan perbedaan, cepat beradaptasi terhadap perubahan, dan berani mengambil keputusan.
Ia menguraikan tiga fondasi utama kepemimpinan masa
depan. Pertama, kepemimpinan inklusif, yaitu kemampuan menghargai keberagaman,
mendengarkan setiap pendapat, serta memberikan kesempatan yang sama kepada
setiap individu. Kedua, kepemimpinan adaptif, yakni kemampuan untuk terus
belajar, memanfaatkan perkembangan teknologi termasuk AI, serta mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Ketiga, kepemimpinan solutif,
yaitu kemampuan mengidentifikasi akar persoalan, menganalisis berbagai sudut
pandang, kemudian menghadirkan solusi yang nyata dan berdampak.
Menurut Aji, kepemimpinan tidak dibentuk melalui teori
semata, melainkan melalui pengalaman, karakter, dan kebiasaan sehari-hari.
Mahasiswa didorong untuk aktif mengikuti organisasi, kepanitiaan, kegiatan
sosial, hingga forum ilmiah sebagai ruang belajar kepemimpinan secara nyata.
"Seorang pemimpin bukanlah orang yang memiliki
jabatan tertinggi, tetapi orang yang mampu memberikan pengaruh terbaik kepada
orang lain."
Sebagai alumni Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Universitas Islam 45 Bekasi yang kini bertransformasi menjadi Universitas
Muhammadiyah Indonesia, Aji juga membagikan pengalamannya setelah lulus pada
tahun 2014. Saat ini ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Bagian PGA & IR
dan Decal PT Haeng Nam Sejahtera Indonesia.
Ia mengaku bekal akademik yang diperoleh selama kuliah
menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya. Mata kuliah seperti pengantar
ilmu hukum, kebijakan publik, pengambilan keputusan, hingga human relations
memberikan pemahaman yang relevan dengan tantangan dunia kerja saat ini.
"Saya alumni Ilmu Administrasi Negara UNISMA
Bekasi. Alhamdulillah, bekal akademik yang saya peroleh sangat membantu dalam
pekerjaan. Saya belajar ilmu hukum, kebijakan, pengambilan keputusan, hingga
human relations. Semua itu saya terapkan dalam keseharian sebagai Kepala Bagian
PGA & IR dan Decal PT Haeng Nam Sejahtera Indonesia."
Aji juga mengajak mahasiswa untuk tidak ragu memilih
Program Studi Ilmu Administrasi Negara sebagai pilihan pendidikan tinggi.
Menurutnya, disiplin ilmu tersebut memiliki cakupan yang luas dan mampu membuka
peluang karier di berbagai bidang, baik sektor pemerintahan maupun industri.
"Kalau teman-teman masih bingung menentukan
jurusan setelah lulus sekolah, saya menyarankan memilih Program Studi Ilmu
Administrasi Negara di Universitas Muhammadiyah Indonesia. Ilmu yang dipelajari
sangat bermanfaat dan dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan."
Seminar Student Leadership menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman. Di tengah bonus demografi Indonesia, mahasiswa tidak lagi cukup hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga harus membangun karakter, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan agar
Melalui kegiatan ini, UM Indonesia berharap lahir lebih banyak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, serta keberanian menjadi agen perubahan. Dengan karakter kepemimpinan yang inklusif, adaptif, dan solutif, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat, dunia industri, dan pembangunan Indonesia di masa depan. *
Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
