Bekasi – Di tengah
meningkatnya fenomena overthinking, FOMO, dan burnout yang banyak dialami
Generasi Z, Mahasiswa Program Studi Agribisnis UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
menggelar Forum Diskusi bertema "Produktivitas vs Overthinking"
sebagai ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami makna produktivitas yang
sesungguhnya.
Forum ini
membahas fenomena overthinking, Fear of Missing Out (FOMO), burnout, dan quarter-life crisis yang banyak dialami mahasiswa akibat tekanan akademik, persaingan
prestasi, media sosial, hingga kecemasan terhadap masa depan.
Pemateri Yonathan Rafael mengatakan tema
tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan mahasiswa. Menurutnya, banyak
mahasiswa mengalami tekanan akademik dan kecemasan masa depan, tetapi jarang
memiliki ruang untuk membahasnya secara terbuka.
Ia menjelaskan
bentuk overthinking
yang paling sering muncul adalah kekhawatiran mengenai pilihan jurusan, peluang
kerja, dan kemampuan bersaing setelah lulus. Kebiasaan membandingkan diri
dengan pencapaian orang lain di media sosial juga membuat mahasiswa lebih fokus
pada kemungkinan buruk daripada mengambil langkah nyata.
Menurut
Yonathan, FOMO membuat mahasiswa merasa harus mengikuti semua pencapaian teman,
seperti organisasi, lomba, magang, atau sertifikasi, meski belum tentu sesuai
dengan tujuan dan kapasitas diri. Karena itu, ia menyarankan mahasiswa fokus
pada hal yang bisa dikendalikan dan memulai dari langkah kecil agar tidak
terjebak dalam overthinking.
Melanjutkan
pembahasan mengenai pentingnya mengelola overthinking dan FOMO, forum diskusi
ini juga mengajak mahasiswa melihat makna produktivitas dari sudut pandang yang
lebih luas. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya mengejar banyaknya aktivitas,
tetapi juga memahami bahwa produktivitas harus berjalan seiring dengan
kesehatan fisik dan mental. Produktivitas bukan tentang seberapa banyak
aktivitas yang dilakukan dalam sehari, melainkan tentang seberapa besar dampak
positif yang mampu dihasilkan.
Sementara itu, Yasmin Fathimah Farid menjelaskan
bahwa produktif berarti melakukan hal-hal yang membawa seseorang lebih dekat
pada tujuan dengan memanfaatkan waktu secara efektif, bukan sekadar sibuk.
Menurutnya, mahasiswa juga harus memberi ruang untuk beristirahat karena
kesehatan fisik dan mental merupakan bagian dari produktivitas.
Yasmin
menambahkan bahwa mengenali batasan diri, menentukan skala prioritas, dan berani
mengatakan "tidak" pada aktivitas di luar kapasitas merupakan cara
menjaga keseimbangan antara ambisi dan kesehatan mental. Ia juga menilai
lingkungan pertemanan yang saling mendukung sangat membantu mahasiswa
menghadapi tekanan akademik.
Ia mengingatkan bahwa target yang realistis ditentukan oleh tujuan, kemampuan, dan kondisi masing-masing, bukan oleh pencapaian orang lain. Mahasiswa sebaiknya fokus pada proses bertumbuh tanpa terus membandingkan diri dengan teman.
Dalam sesi penutup, Yasmin membagikan pengalamannya sebagai penyintas autoimun Sjögren's syndrome dan neurodivergen dengan spektrum ADHD. Ia berpesan bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda sehingga tidak perlu mengikuti ritme orang lain. Selama terus bertumbuh sesuai kapasitas, sekecil apa pun kemajuannya tetap layak diapresiasi.
Melalui forum ini, Program Studi Agribisnis UM Indonesia (UNISMA Bekasi) menegaskan komitmennya membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor pangan Indonesia. *
Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)



