Masjid sering kali dipahami sebatas tempat salat lima waktu. Paling jauh, ditambah pengajian rutin atau peringatan hari besar Islam. Padahal, dalam sejarahnya di masa Rasulullah, masjid adalah pusat peradaban — tempat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, musyawarah, hingga solusi sosial umat.
Semangat itulah yang kembali dihidupkan dalam Pelatihan Manajemen Masjid bagi pengurus DKM se-Kota dan Kabupaten Bekasi yang digelar di Masjid Al-Fatah UM Indonesia (Unisma Bekasi). Bukan sekadar agenda tahunan, forum ini menjadi ruang refleksi: sudah sejauh mana masjid hadir sebagai pusat manfaat bagi masyarakat.
Ketua DKM Al-Fatah, Sugeng, dalam sambutannya menyampaikan bahwa menjadi pengurus masjid bukan pilihan jalan yang mudah. Di tengah kesibukan dan beragam peluang lain, para pengurus justru memilih mengambil peran mengelola rumah ibadah dan meningkatkan kualitas secara berkelanjutan.
Namun yang paling menyita perhatian adalah pemaparan Ustaz H. Muhammad Suhapli, S.E., pengelola Masjid Baitul Makmur, yang membongkar cara pandang lama tentang kemakmuran masjid.
“Indikator masjid itu bukan dari megahnya bangunan, luas tanah, atau besarnya kas. Tapi dari berapa banyak jamaah yang datang salat dan seberapa besar manfaat masjid bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.
Menurutnya, kas besar yang hanya mengendap bukanlah prestasi. Dama umat harus segera dikelola, diputar, dan dikembalikan dalam bentuk program yang dirasakan langsung manfaatnya.
Salah satu contoh konkret adalah program ATM Beras. Dana zakat yang terkumpul dikelola melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) resmi yang terdaftar di BAZNAS. Dengan sistem yang transparan dan legal, kepercayaan masyarakat meningkat, bahkan dana zakat yang terkumpul dapat mencapai ratusan juta rupiah. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui kartu ATM beras bagi warga yang membutuhkan. Tidak hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menjaga martabat penerima.
Inovasi lainnya hadir dalam konsep eco-masjid. Air bekas wudhu didaur ulang, kran hemat air dipasang, sampah dipilah, hingga lahir gerakan sedekah sampah Indonesia. Masjid juga menghadirkan layanan servis sepeda gratis setiap Jumat, sedekah pakaian layak pakai, majelis taklim gratis bagi tuna netra, hingga pemanfaatan aula untuk kegiatan sekolah dan manasik haji anak-anak.
Kenyamanan jamaah turut menjadi prioritas, mulai dari kebersihan toilet dan tempat wudhu, karpet yang nyaman, pendingin ruangan, hingga kualitas sound system dan kesiapan imam serta muazin. Semua itu dipandang sebagai bagian dari pelayanan agar jamaah merasa aman dan betah.
Dalam tata kelola keuangan, pentingnya standar operasional prosedur (SOP) penghitungan infak juga ditekankan. Proses harus transparan, disaksikan beberapa orang, dan langsung disetorkan kepada bendahara. Setiap bidang dianjurkan memiliki rekening tersendiri agar akuntabilitas terjaga.
“Masjid itu harus hadir, bukan hanya berdiri. Jangan tunggu sempurna untuk mulai berinovasi.”
Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa masjid memiliki potensi besar untuk kembali pada perannya sebagai pusat peradaban umat — ruang ibadah yang nyaman sekaligus pusat solusi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketika dikelola secara profesional dan visioner, masjid tidak hanya mengundang jamaah untuk salat, tetapi juga menghadirkan harapan bagi masyarakat di sekitarnya.(*)
Humas
TIaran Rosita/Ratih Firdiyah


