Bukti Kampus Inklusif, UM Indonesia Tuan Rumah Dialog Lintas Iman Internasional

Bekasi — Universitas Muhammadiyah Indonesia menjadi wadah penyelenggaraan kegiatan International Youth Interfaith Dialogue 2026, sebuah forum dialog lintas iman yang digagas oleh Pemuda ICMI Kota Bekasi bekerja sama dengan Griya Moderasi Beragama Fakultas Agama Islam UM Indonesia. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, bersama tokoh masyarakat, akademisi, dan perwakilan lintas agama.


Forum ini menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat untuk membahas pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman Kota Bekasi. Para peserta terlibat aktif dalam diskusi yang mengangkat isu toleransi, potensi konflik sosial, serta cara memperkuat rasa kebersamaan. Suasana kegiatan berlangsung hangat, terbuka, dan penuh semangat kebersamaan.


Sebagai tuan rumah, UM Indonesia melalui Griya Moderasi Beragama Fakultas Agama Islam berperan dalam memfasilitasi jalannya dialog yang terbuka dan saling menghargai. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen kampus dalam menghadirkan ruang diskusi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.


Wakil Rektor II UM Indonesia, Prof. Latipun, menyampaikan bahwa forum ini menjadi langkah konkret dalam menjaga keharmonisan sosial.

“Dengan adanya forum dialog seperti ini, kita tidak hanya mempertemukan berbagai perspektif, tetapi juga membangun kesadaran bersama untuk menjaga keharmonisan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat rasa saling memahami dan menjadi kontribusi nyata dalam menambah perdamaian di Kota Bekasi,” ujarnya.


Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan kampus.

“Bekasi sebagai kota yang majemuk membutuhkan ruang-ruang dialog seperti ini agar nilai toleransi terus tumbuh. Peran kampus dan masyarakat sangat penting dalam menjaga persatuan dan memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman,” katanya.


Dalam sesi dialog, para perwakilan lintas agama menyampaikan nilai-nilai universal yang memperkuat pesan perdamaian. Mewakili Islam, Musinin Mabrur menekankan konsep ta’aruf sebagai dasar membangun hubungan antar manusia. Menurutnya, keberagaman diciptakan agar manusia saling mengenal dan memahami, serta mendorong kerja sama sosial tanpa melanggar prinsip keyakinan. Ia juga mengingatkan bahwa Islam membawa misi sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.


Dari perspektif Kristen, Thony Ronaldo Nanlohi menegaskan pentingnya membangun perdamaian dengan semua orang melalui prinsip Golden Rule, yakni memperlakukan orang lain sebagaimana ingin diperlakukan. “Menghormati orang lain adalah syarat agar kita juga layak dihormati,” ujarnya.


Perwakilan Katolik, Mike Verawati, menekankan bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk menolak segala bentuk kekerasan berbasis agama. Ia menilai perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan dalam kehidupan bersama.


Sementara itu, Ghanis Esa Manura dari Hindu menyampaikan nilai Ekam Sat Wiprah Bahudawitanti, bahwa kebenaran itu satu meski disebut dengan berbagai cara, serta konsep Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.


Perwakilan Buddha, Rinto Supriadi, memperkenalkan ajaran Brahma Wihara seperti cinta kasih, welas asih, empati, dan keseimbangan batin sebagai fondasi hidup damai. Ia juga mengingatkan bahwa menghormati agama lain justru memperkuat nilai dalam agama sendiri.


Menutup sesi, Aldi Destian Satya dari Konghucu menekankan pentingnya nilai Satya (ketaatan pada Tuhan) dan Tepa Salira (tenggang rasa). Ia menyampaikan bahwa perdamaian dunia berawal dari kemampuan setiap individu untuk membangun kedamaian dalam dirinya sendiri.


Kegiatan ini dinilai penting karena membuka ruang komunikasi antar kelompok yang jarang terjadi, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat hubungan antarwarga. Kolaborasi antara organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi menjadi langkah nyata dalam menjaga keharmonisan di masyarakat.


Melalui kegiatan ini, UM Indonesia berharap dapat terus menjadi tempat lahirnya dialog-dialog positif di tengah masyarakat. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat menjangkau lebih luas berbagai kalangan, sehingga semangat toleransi dan persatuan semakin kuat di Kota Bekasi.

Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)

Abidin Nurfarizi - Ratih Firdiyah (ed)