Berangkatkan Ratusan Mahasiswa KKN, Fokus Pengembangan Digital

Bekasi — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) membekali 281 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (12/8/2026). Berlangsung secara hibrida dari Gedung L 202 UM Indonesia dan Zoom Meeting, pembekalan mengusung tema “Sinergi Muhammadiyah dalam Mewujudkan Digitalisasi dan Pemberdayaan Ekonomi Umat” dengan locus pengabdian di wilayah PDM Kota dan Kabupaten Bekasi.

KKN tahun ini mengusung tema “KKN Tematik OPPKPKE Berkemajuan”, yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian, serta nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Program KKN diarahkan pada enam klaster, yaitu ekonomi umat dan digitalisasi UMKM, pendidikan dan literasi digital, kesehatan masyarakat dan ketahanan keluarga, lingkungan dan mitigasi bencana, sosial-keagamaan dan kepemudaan, serta tata kelola desa berbasis digital.

Pelaksanaan KKN menekankan prinsip berbasis kebutuhan masyarakat, kolaboratif, inovatif, berkelanjutan, berorientasi pada luaran, serta berlandaskan nilai Islam Berkemajuan. Dengan demikian, program tidak sekadar menjadi kegiatan pengabdian, tetapi diharapkan mampu menjawab kebutuhan dan potensi masyarakat melalui kolaborasi mahasiswa, UM Indonesia, pemerintah daerah, serta jaringan Muhammadiyah.

Salah satu materi utama disampaikan oleh BAPPEDA Kabupaten Bekasi dengan tema “Sinergi Program Pemerintah dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA)”. Materi tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk melalui transformasi digital dan penguatan ekonomi digital untuk memperluas pasar serta meningkatkan pemberdayaan UMKM.

Konteks tersebut relevan dengan potensi Kabupaten Bekasi yang memiliki 16.189 UMKM serta basis industri yang besar. Upaya pemberdayaan ekonomi juga mencakup pendampingan produksi, pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain, serta teknologi produk UMKM.

Materi berikutnya disampaikan PDM Kota dan Kabupaten Bekasi mengenai “Potensi Wilayah, Sinergi Program dan Kontak Person Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Locus KKN”. Mahasiswa mendapatkan informasi mengenai lokasi pengabdian, potensi wilayah, peluang sinergi program, serta kontak person PCM yang dapat menjadi mitra koordinasi selama KKN. Sesi tersebut dimoderatori oleh Dr. Azi Faiz Ridlo, M.Pd.

Materi PDM juga menekankan agar KKN tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan pemberdayaan yang memiliki dampak dan dapat berkelanjutan melalui pemetaan wilayah, perencanaan, aksi, pendampingan, hingga keberlanjutan program.

Kesesuaian program dengan kondisi lokasi menjadi perhatian penting dalam pembekalan. Purnama Putra, M.Si., mengingatkan mahasiswa agar tidak memaksakan program yang tidak sesuai dengan karakteristik wilayah.

“Kata kuncinya adalah kalian harus melokasikan program sesuai dengan tempatnya. Pertanyaannya, apakah program tersebut bisa diterapkan di lokasi tersebut? Jangan memaksakan diri dalam menentukan program pada locus KKN,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, mahasiswa diarahkan melakukan survey dan identifikasi kebutuhan masyarakat melalui observasi lapangan, wawancara, koordinasi dengan pemerintah desa, PCM, Ortom, dan tokoh masyarakat. Hasil survey menjadi dasar dalam menentukan program kerja, metode pelaksanaan, serta target luaran yang terukur.

Mekanisme KKN mencakup tahapan persiapan dan pembekalan, survey kebutuhan masyarakat, penyusunan rancangan program, pelaksanaan, monitoring, hingga pelaporan berupa jurnal dan video.

Program utama KKN berfokus pada digitalisasi UMKM dan pengentasan kemiskinan ekstrem, dengan setiap kelompok memiliki dua program utama tematik dan satu program individu. Program wajib melibatkan partisipasi aktif masyarakat, berorientasi pada pemberdayaan, memiliki luaran terukur, serta diarahkan berkelanjutan.

Kepala LPPM UM Indonesia, Dr. Siti Nurhidayah, M.Si., mendorong mahasiswa menjadikan KKN sebagai sumber karya akademik.

“Dari 281 mahasiswa, nantinya akan dipilih 30 jurnal terbaik untuk diterbitkan di Al-Nizam, yang sudah terakreditasi SINTA 3. Karena itu, saya mendorong adik-adik untuk membuat jurnal dengan sebaik-baiknya, karena ada kesempatan untuk dipublikasikan di jurnal SINTA 3 Al-Nizam.”

Materi penulisan KKN juga mengarahkan mahasiswa menyusun artikel pengabdian yang memuat latar belakang, metode pelaksanaan, hasil dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Dengan demikian, hasil KKN tidak hanya berupa laporan, tetapi juga dapat menunjukkan luaran, partisipasi masyarakat, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dampak sosial-ekonomi, hingga keberlanjutan program.

IMG_1168

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Dai, M.Si., Apt., mengingatkan mahasiswa bahwa KKN menjadi ruang untuk menunjukkan keteladanan sebagai bagian dari UM Indonesia dan Muhammadiyah.

“Nanti kalian akan membawa nama pribadi, UM Indonesia, dan Muhammadiyah. Karena itu, jagalah pribadi dan perilaku kalian. Jadilah contoh yang baik di tengah masyarakat. Ketika waktunya salat, laksanakan salat dan jangan sampai bolong. Kalau ingin sukses, kita juga harus konsisten.”

Prof. Dai juga berpesan agar mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan selama pengabdian.

“Jangan karena mengalami satu kegagalan, kemudian kita kehilangan semangat. Jadikan satu pintu kegagalan sebagai pintu menuju keberhasilan lainnya. Jangan sampai kegagalan justru membuat kita terpuruk dan menciptakan kegagalan-kegagalan berikutnya.”

Melalui pembekalan ini, 281 mahasiswa KKN UM Indonesia diharapkan mampu menyusun dan melaksanakan program sesuai potensi wilayah, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan Muhammadiyah, serta menghadirkan kontribusi nyata melalui digitalisasi dan pemberdayaan ekonomi umat.

KKN diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, sejalan dengan semangat “Dari Muhammadiyah untuk Umat.” (*) Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah Humas UM Indonesia