Bekasi-Transformasi pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari perubahan nama institusi, tetapi juga dari jejak para alumninya di level strategis nasional. Hal itu tercermin dari perjalanan karier Egi Gustiana Putra, lulusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations Universitas Muhammadiyah Indonesia/UM Indonesia (UNISMA Bekasi), yang kini menjabat General Manager Brand Comm & Strategic Alliance of Human Initiative.
Egi merupakan wisudawan terbaik tahun 2016 dengan predikat cumlaude. Namun, menurutnya, modal utama yang membawanya ke posisi strategis bukan semata nilai akademik, melainkan pengalaman organisasi dan proses panjang membangun kapasitas diri sejak mahasiswa.
Selama kuliah, ia aktif dalam organisasi dan terlibat dalam transformasi himpunan jurusan menjadi lebih profesional dan produktif. Perubahan struktur, pembenahan sistem kerja, hingga penguatan branding organisasi menjadi pengalaman awalnya dalam mengelola komunikasi dan tim. Ia juga kerap menjadi perwakilan kampus dalam berbagai agenda eksternal, yang membentuk kepercayaan diri sekaligus kemampuan membangun jejaring.
“Organisasi kampus itu bukan sekadar kegiatan tambahan. Di sanalah saya pertama kali belajar memimpin, mengelola konflik, dan menyusun strategi komunikasi. Itu sangat terpakai ketika masuk dunia profesional,” ujarnya.
Selepas lulus, Egi memulai karier sebagai staf humas di Human Initiative, organisasi kemanusiaan global yang berdiri sejak 1999 dan menjalankan strategi Theory of Change berbasis pendekatan Humanitarian-Development Nexus. Bidang tersebut linear dengan konsentrasi yang ia ambil saat kuliah.
Kariernya berkembang relatif cepat. Dalam kurun dua hingga tiga tahun, ia dipercaya menjadi supervisor, lalu manajer yang menangani komunikasi digital, kemitraan strategis, hingga pengelolaan tim kreatif lintas divisi. Kebiasaan menyusun konsep, membuat perencanaan program, serta mempresentasikan ide sejak di bangku kuliah membuatnya lebih siap menghadapi ritme kerja profesional yang dinamis.
“Dari kuliah saya terbiasa menyusun ide dengan struktur yang jelas. Jadi ketika bekerja dan diberi tanggung jawab lebih besar, saya sudah punya pola berpikirnya,” katanya.
Pada 2025, ia dipercaya menduduki posisi General Manager Brand Comm & Strategic Alliance of Human Initiative. Di posisi tersebut, ia bertanggung jawab mengelola komunikasi brand organisasi, memperkuat jejaring strategis multipihak, serta memastikan arah komunikasi selaras dengan visi besar lembaga. Ia juga menangani berbagai kolaborasi brand dengan mitra korporasi dan lintas sektor.
Selain berkarier di sektor kemanusiaan, Egi juga pernah dipercaya menjadi staf ahli di DPRD Kota Bekasi 2019 - 2024 dalam pengelolaan komunikasi publik dan media. Pengalaman tersebut memperluas spektrum kompetensinya, khususnya di bidang komunikasi politik.
Kini, selain bekerja di NGO ia juga membangun agensi dan konsultan komunikasi politik digital bernama Digipol, yang fokus membantu politisi dan partai politik menyusun strategi kampanye digital yang lebih terstruktur dan berbasis pendekatan komunikasi yang tepat.
“IPK memang penting sebagai dasar, tapi yang membuat kita terus naik adalah kapasitas, konsistensi, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Dunia kerja melihat apa yang bisa kita kerjakan,” tegasnya.
Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa pengalaman selama kuliah—baik di ruang kelas maupun organisasi—dapat menjadi modal nyata untuk bertumbuh. Transformasi UM Indonesia (UNISMA Bekasi) bukan hanya perubahan identitas kelembagaan, tetapi juga komitmen menghadirkan lulusan yang adaptif, mampu membangun sistem kerja, memimpin tim, serta konsisten mengembangkan kapasitas diri sejak mahasiswa hingga ke panggung strategis nasional. (*)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
Tiaran Rosita/Ratih Firdiyah



