Bukan sekadar agenda pembinaan rutin, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA Bekasi) memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik awal pembentukan karakter mahasiswa sejak semester pertama. Melalui Pesantren Ramadan yang digelar di Masjid Al-Fatah yang digelar sejak 18 Februari hingga 2 Maret 2026, sebanyak total peserta 1.300 mahasiswa baru dibekali penguatan akidah, ibadah, dan akhlak sebagai fondasi memasuki dunia akademik.
Di tengah tantangan generasi muda yang kian kompleks, mulai dari derasnya arus informasi digital hingga tekanan kompetisi akademik, kampus menilai penguatan nilai dasar menjadi kebutuhan mendesak. Ramadan dipandang bukan hanya momentum spiritual, melainkan ruang pembentukan kesadaran intelektual dan kedewasaan moral.
Pada sesi pembuka, dosen UM Indonesia, Dr. Akmal Rizki Gunawan H., mengangkat tema “Menjadi Manusia yang Bahagia”. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan tidak lahir dari capaian materi atau prestasi semata, tetapi dari akidah yang kokoh serta keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas.
“Banyak orang mengejar sukses, tetapi lupa menata jiwanya. Padahal kebahagiaan yang sejati lahir ketika hati, akal, dan tindakan berjalan selaras dengan nilai-nilai keimanan,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa sebagai generasi terdidik harus memiliki orientasi hidup yang jelas agar tidak mudah kehilangan arah di tengah perubahan sosial yang cepat. Ibadah, kata dia, tidak berhenti pada ritual, melainkan harus terinternalisasi menjadi etos disiplin, tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika akidah kuat, maka cara berpikir akan jernih. Jika ibadah terjaga, maka karakter akan kokoh. Dari situlah lahir pribadi yang tidak mudah goyah oleh tekanan zaman,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kebahagiaan sejati tumbuh dari ketenangan batin dan kesadaran akan tujuan hidup. Ketika nilai-nilai tersebut tertanam sejak awal perkuliahan, mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
“Mahasiswa bukan hanya disiapkan menjadi sarjana, tetapi menjadi manusia utuh—yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan bertanggung jawab secara moral,” tegasnya.
Pesantren Ramadan ini dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus pembiasaan nilai. Materi akidah diarahkan untuk memperkuat keyakinan, pembelajaran ibadah membentuk kedisiplinan, sementara penguatan akhlak menumbuhkan kepedulian sosial dan etika pergaulan di lingkungan kampus.
Dengan melibatkan 1.300 mahasiswa baru, program ini menjadi bagian dari strategi kampus dalam membangun kultur akademik yang berakar pada nilai. Pendidikan tinggi, dalam pandangan UM Indonesia, tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas dan kesadaran sosial.
Melalui momentum Ramadan, kampus berharap lahir generasi mahasiswa yang tidak hanya cakap berpikir, tetapi juga kokoh dalam prinsip dan santun dalam sikap. Pembentukan karakter sejak semester pertama dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas akademik sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat. (*)
Humas UM Indonesia (UNISMA Bekasi)
Tiaran Rosita/ Ratih Firdiyah
