Bekasi – Di tengah padatnya aktivitas sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Syamsul Falah, S.Pd.I. berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 dan predikat Lulus dengan Pujian pada Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID). Capaian tersebut menjadi bagian dari Yudisium Pascasarjana yang diselenggarakan pada Senin, 10 Agustus 2026, di Gedung I Lantai 3 UM Indonesia.
Keberhasilan tersebut melanjutkan catatan akademik Syamsul yang sebelumnya juga meraih predikat wisudawan terbaik saat menempuh pendidikan S1. Capaian di UM Indonesia (UM.ID) sekaligus menjadi prestasi akademik keduanya di jenjang perguruan tinggi.
Perjalanan Syamsul sebagai pendidik telah dimulai sejak masih menempuh pendidikan S1. Pada semester dua, ia sudah mendapat kesempatan mengajar di MIT Attaqwa 01 Pusat. Kariernya kemudian berkembang hingga menjadi guru PAI, staf akademik, dan pada 2020 berhasil lolos seleksi CPNS Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai guru PAI di SMAN 1 Sukaraja Bogor. Setelah kembali bertugas di SMAN 3 Babelan pada 2025, ia juga dipercaya mengemban tugas tambahan sebagai staf kesiswaan pada 2026.
Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, Syamsul memilih melanjutkan studi Magister PAI di UM Indonesia (UM.ID) karena sejumlah pertimbangan yang mendukung aktivitas profesionalnya. Selain lokasi kampus yang hanya sekitar 20–30 menit dari rumah, ia juga mempertimbangkan status akreditasi kampus, jadwal perkuliahan sore yang relatif tidak mengganggu aktivitas mengajar, serta biaya pendidikan yang terjangkau.
“Alhamdulillah pastinya sangat senang, apalagi bisa back to back menjadi yang terbaik di dua kampus yang berbeda,” ungkap Syamsul saat menceritakan perasaannya setelah dinyatakan lulus dengan IPK sempurna.
Menurutnya, keberhasilan mempertahankan IPK 4,00 bukan diperoleh melalui cara yang instan. Ia menjalani perkuliahan dengan aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta selalu meminta doa dari kedua orang tua sebagai kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkannya.
Tantangan terbesar selama menempuh studi S2 adalah membagi waktu dan mengelola rasa lelah setelah menjalani aktivitas mengajar seharian. Namun, ia mengatasinya dengan menyusun skala prioritas serta menjaga niat untuk terus belajar.
“Tantangan terbesar adalah waktu dan rasa lelah karena kuliahnya sore hari. Cara mengatasinya dengan membuat skala prioritas, mendahulukan yang paling penting, dan yang kedua menjaga niat untuk kuliah,” ujarnya.
Tak hanya berprestasi secara akademik, Syamsul juga mengangkat isu yang dekat dengan profesinya melalui tesis berjudul Hubungan Persepsi Siswa terhadap Keteladanan Guru PAI dan Karakter Religius Siswa dengan Prestasi Belajar PAI Siswa SMA Negeri Sekecamatan Babelan Kabupaten Bekasi.
Penelitian tersebut lahir dari keresahannya terhadap rendahnya prestasi belajar PAI, kemampuan membaca Al-Qur'an, degradasi moral, hingga maraknya kasus perundungan di lingkungan sekolah. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi masukan bagi para guru untuk terus meningkatkan kompetensi kepribadian sebagai teladan bagi peserta didik.
Capaian tersebut juga menjadi gambaran bahwa pendidikan magister dapat menjadi ruang bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi akademik tanpa meninggalkan tanggung jawab profesionalnya.
Setelah menyelesaikan studi magister, Syamsul mengaku mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Kepada mahasiswa UM Indonesia (UM.ID) yang masih menempuh studi, ia berpesan agar belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak dan adab kepada dosen, tidak meninggalkan salat malam, serta senantiasa meminta doa dari orang tua.
“Ilmu bisa kalian dapat dengan belajar, tapi keberkahan hanya bisa didapat dari ta’zhimnya seorang murid kepada gurunya,” pesan Syamsul. (*) Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah Humas UM Indonesia


