Ratusan Dosen dan Tendik UM Indonesia Ikuti Pengajian Bahas Islam Perspektif Muhammadiyah

Bekasi — Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID) menggelar pengajian bulanan bagi dosen dan tenaga kependidikan dengan tema “Memahami Islam Menurut Pandangan Muhammadiyah” di Masjid Al Fatah UM Indonesia, Rabu (19/8/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB tersebut menghadirkan Dr. H. M. Izzul Muslimin, S.IP., Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UM Indonesia, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU., menegaskan bahwa pengajian bulanan bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kualitas manusia secara utuh.

“Pengajian ini tidak hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga menjadi upaya untuk menjalin hubungan dan konektivitas di antara kita. Kita tidak hanya membangun dari sisi fisik, tetapi juga membangun manusia dari sisi rohaninya. Salah satunya melalui kesempatan untuk bersama-sama memahami lebih jauh arah dan perjuangan kita dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat dan umat.”
— Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU.

WhatsApp Image 2026-08-19 at 09.31.06

Wakil Rektor III UM Indonesia, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU.

Dalam pemaparannya, Dr. Izzul Muslimin mengajak peserta memahami Islam dalam perspektif Muhammadiyah sebagai ajaran yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus terbuka terhadap penggunaan akal, ilmu pengetahuan, serta ijtihad dalam menjawab tantangan kehidupan. Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Islam Berkemajuan yang dirumuskan dalam Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu berlandaskan tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan sikap wasathiyah, serta mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karakteristik tersebut menempatkan Islam tidak hanya sebagai pedoman ibadah, tetapi juga sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang adil, damai, berilmu, dan membawa kemaslahatan.

Salah satu penekanan dalam materi tersebut adalah kemuliaan manusia sebagai prinsip penting dalam Islam. Dr. Izzul Muslimin menjelaskan bahwa pemikiran dan perjuangan Muhammadiyah diarahkan untuk menghadirkan kebaikan dan kemuliaan bagi manusia.

“Salah satu dasar yang mendasari Islam itu sendiri adalah kemuliaan manusia. Karena itu, kemuliaan manusia menjadi prinsip utama dalam seluruh pemikiran dan cita-cita yang dibangun. Apa yang ditempuh oleh Muhammadiyah pada dasarnya bertujuan untuk mewujudkan kebaikan, kemuliaan, dan kesempurnaan bagi manusia. Hal ini sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin, bahwa setiap upaya yang dilakukan harus bermuara pada kebaikan dan kemuliaan manusia.” — Dr. H. M. Izzul Muslimin, S.IP.

Selanjutnya, Dr. Izzul menjelaskan cara memahami ajaran Islam secara utuh melalui tiga pendekatan, yakni bayani yang berlandaskan teks, burhani yang menggunakan akal dan ilmu pengetahuan, serta ‘irfani yang menekankan kedalaman spiritual dan kepekaan nurani. Ketiganya digunakan secara bersamaan agar pemahaman terhadap persoalan keislaman menjadi lebih utuh dan komprehensif.

Dalam menghadapi perubahan zaman, ijtihad dan tajdid juga menjadi bagian penting dalam pemikiran Islam Muhammadiyah. Ijtihad dipahami sebagai upaya sungguh-sungguh dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan memanfaatkan akal, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sementara tajdid mencakup pembaruan dalam pemahaman dan pengamalan agama agar tetap mampu menjawab persoalan kehidupan yang terus berkembang.

Materi juga menyoroti pentingnya wasathiyah atau sikap moderat dalam beragama. Sikap ini menekankan keseimbangan, keluasan wawasan, keluwesan dalam bersikap, penghargaan terhadap perbedaan pendapat, serta menghindari fanatisme berlebihan terhadap kelompok atau paham keagamaan tertentu.

Selain itu, pemahaman Islam dalam perspektif Muhammadiyah diarahkan untuk melahirkan amal nyata. Islam Berkemajuan menempatkan ilmu, dakwah, dan amal sebagai bagian dari upaya memajukan kehidupan umat dan masyarakat. Karena itu, pemahaman keislaman diharapkan tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui kontribusi yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Kegiatan pengajian ini menjadi ruang penguatan pemahaman keislaman bagi dosen dan tendik UM Indonesia, sekaligus memperkuat nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan perguruan tinggi. Melalui kegiatan tersebut, UM Indonesia terus mendorong pembangunan manusia yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian terhadap masyarakat serta umat. (*) Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah Humas UM Indonesia