Dosen UM Indonesia Raih Silver Award pada International Innovation ARSVOT Malaysia 2026

Bekasi – Prestasi membanggakan kembali diraih sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID). Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Irnie  Victorynie, S.Pd., M.Pd., Ph.D, berhasil meraih Silver Award pada ajang International Innovation ARSVOT Malaysia 2026 (IAM2026) yang diselenggarakan secara tatap muka pada 25 Juli 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui karya inovasi bertajuk Creative Murabbi Parenting Model (CMP).

 

Irnie  Victorynie, S.Pd., M.Pd., Ph.D menjelaskan bahwa kolaborasi internasional tersebut berawal dari jejaring akademik yang dibangunnya saat menempuh studi doktoral di International Islamic University Malaysia (IIUM). Setelah menyelesaikan pendidikan, ia tetap menjalin komunikasi dengan para alumni yang kini berkiprah sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Dari jejaring tersebut lahirlah kolaborasi riset untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.

 

"Kami kemudian berdiskusi dan berkolaborasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ketika ada ajang International Innovation ARSVOT Malaysia, kami mencoba membawa hasil kolaborasi tersebut. Harapan kami bukan hanya meraih penghargaan, tetapi agar inovasi ini dapat dimanfaatkan seluas-luasnya," ujar Irnie Victorynie.

 

Creative Murabbi Parenting Model (CMP) merupakan model pendidikan dan pengasuhan yang tidak hanya ditujukan bagi orang tua, tetapi juga bagi para pendidik dan murabbi. Model ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai pendekatan parenting yang masih memisahkan perkembangan spiritual, kognitif, dan kreativitas anak.

 

"Kami melihat bahwa selama ini aspek spiritual, kognitif, dan kreativitas sering dikembangkan secara terpisah. Melalui CMP, kami berupaya mengintegrasikan seluruh aspek tersebut dalam satu model sehingga perkembangan anak menjadi lebih utuh," jelasnya.

21d9e60a-ea2d-44e9-9416-cc08b5d9c37e

CMP mengintegrasikan empat pendekatan utama, yaitu Islamic Tarbiyah, Montessori Environment, Experiential Learning, dan Creative Thinking. Keempat pendekatan tersebut dipadukan dalam satu model pembelajaran yang bertujuan membentuk generasi Creative Khalifah, yakni individu yang beriman, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Menurut Irnie Victorynie, salah satu keunggulan utama atau novelty dari CMP adalah integrasi empat pendekatan tersebut dalam satu model yang sistematis. Selain itu, model ini juga dirancang berdasarkan tiga fase perkembangan usia, yaitu 0–7 tahun, 7–14 tahun, dan 14–21 tahun.

 

"Setiap fase memiliki fokus yang berbeda. Fase pertama menekankan discovery, fase kedua innovation, dan fase ketiga leadership. Dengan pembagian tersebut, target perkembangan anak pada setiap tahap usia menjadi lebih jelas dan terarah," ungkapnya.

 

Dalam proses pengembangannya, tim peneliti juga menghadapi berbagai tantangan, terutama karena melibatkan kolaborasi lintas negara. Perbedaan bahasa, sistem pendidikan, hingga sudut pandang menjadi tantangan tersendiri. Namun, seluruh tantangan tersebut dapat diatasi karena tim memiliki landasan yang sama, yakni nilai-nilai Islamic Tarbiyah sebagai fondasi utama pengembangan model.

 

Ajang International Innovation ARSVOT Malaysia (IAM2026) sendiri merupakan kompetisi inovasi tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Association for Researcher of Skills and Vocational Training (ARSVOT), Malaysia. Kompetisi ini mempertemukan peneliti, dosen, mahasiswa, pendidik, dan inovator dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil penelitian maupun produk inovasi yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan melalui pendekatan multidisiplin.

 

Bagi Irnie Victorynie, penghargaan ini bukanlah akhir dari perjalanan pengembangan inovasi tersebut. Ia berharap CMP dapat terus dikembangkan melalui riset dan proyek lanjutan agar dapat diimplementasikan secara lebih luas di dunia pendidikan.

 

"Kami berharap pencapaian ini tidak berhenti hanya sebagai kemenangan dalam sebuah kompetisi. Ke depan, kami ingin mengembangkan proyek-proyek lanjutan sehingga model ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan," tuturnya.

 

Ia juga berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi sivitas akademika UM Indonesia (UM.ID) untuk terus melahirkan inovasi yang berdampak nyata.

 

"Semoga pencapaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus menggali ide-ide baru yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai tantangan di dunia pendidikan, memberikan manfaat bagi UM Indonesia (UM.ID), Indonesia, bahkan masyarakat global," pungkasnya.

 

Prestasi ini menjadi bukti bahwa dosen UM Indonesia (UM.ID) mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus memperkuat komitmen universitas dalam menghasilkan inovasi yang relevan, berdaya saing, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dunia pendidikan. (*)

Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah
Humas UM Indonesia