Lulus dari Ilmu Komunikasi UM Indonesia, Mereka Bawa Bekal Pengalaman dan Kompetensi

Bekasi — Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa (FKSB) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID) menggelar Yudisium Program Studi Ilmu Komunikasi dan Sastra Inggris pada Kamis (13/8/2026) di Gedung L UM Indonesia (UM.ID). Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menutup perjalanan akademik sekaligus membawa pengalaman dan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan sebagai bekal memasuki tahap kehidupan berikutnya.

Yudisium dihadiri Wakil Rektor I UM Indonesia (UM.ID) Prof. Dr. Muhammad Dai, M.Si., Apt., Direktur PT Majime Insan Indonesia Teguh Purwandono Septyanto, S.Kom., jajaran pimpinan FKSB, serta orang tua mahasiswa. Berdasarkan daftar peserta yudisium, sebanyak 104 mahasiswa tercatat mengikuti kegiatan tersebut.

Dekan FKSB Saepudin, S.Sos., M.Soc., Sc., mengatakan yudisium diharapkan tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi momen berkesan bagi mahasiswa setelah menyelesaikan perjalanan studinya.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi salah satu momen terindah sekaligus berkesan bagi seluruh mahasiswa, khususnya dalam menutup perjalanan studi di FKSB UM Indonesia (UM.ID). Mudah-mudahan apa yang telah dilalui selama masa perkuliahan dapat menjadi bekal untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya,” ujarnya.

Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, bekal tersebut tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga dari berbagai pengalaman praktis yang membentuk kemampuan mereka dalam memahami dan mempraktikkan komunikasi di tengah masyarakat.

Salah satunya dirasakan Anti Lailatul Ikhtiar, S.I.Kom., peserta yudisium terbaik dari Program Studi Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi jurnalistik. Ia menyebut mata kuliah Fotografi Jurnalistik dan Sinematografi menjadi pengalaman yang paling berkesan selama menempuh studi.

“Fotografi jurnalistik bukan hanya sebatas materi, tetapi kami dilepas untuk langsung ke lapangan, belajar menggali permasalahan di masyarakat dan memotretnya dengan angle yang bisa dimengerti pembaca, kemudian menyusunnya menjadi sebuah berita yang menarik,” ungkap Anti.

Pengalaman tersebut tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga memperkenalkan mahasiswa pada proses kerja jurnalistik secara langsung. Selain fotografi jurnalistik, Anti juga mendapat pengalaman dalam proses produksi film pendek melalui mata kuliah Sinematografi, mulai dari tahap praproduksi hingga pascaproduksi.

Menurutnya, proses produksi tersebut mengajarkan pentingnya ketekunan dalam menghasilkan sebuah karya.

“Walaupun ada rasa sedih, kesal, dan pernah down sampai tidak mau melanjutkan naskah, kalau dilihat hasilnya sangat memuaskan dan sepadan dengan kerja kerasnya,” lanjutnya.

Ia juga menilai pengalaman praktik di lapangan menjadi bagian penting dalam memahami pekerjaan jurnalistik. “Untuk mencari informasi dan mengunggahnya ke internet masih membutuhkan jasa seorang jurnalis lapangan,” katanya.

Selain pengalaman akademik dan praktik, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan kompetensinya melalui keterlibatan dalam organisasi dan berbagai kegiatan kampus. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang melatih kemampuan komunikasi, kerja sama tim, pengelolaan kegiatan, hingga membangun relasi yang relevan dengan bidang Ilmu Komunikasi.

Sevhira Eka Putri, S.I.Kom., mengatakan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan organisasi memberikan pengalaman sekaligus memperluas relasi.

“Setiap kegiatan selalu memberi saya pengalaman dan relasi baru. Lewat diskusi dan kerja dalam divisi, saya juga semakin mengenal potensi diri dan belajar bekerja sama. Semua pengalaman itu menjadi bekal berharga untuk langkah saya setelah lulus,” tutur Sevhira.

Menurutnya, pengalaman mengelola berbagai kegiatan selama aktif di organisasi juga memberikan kemampuan yang dapat digunakan untuk menghadapi berbagai situasi setelah lulus. Mulai dari menyusun konsep acara, membuat rundown, membagi tugas, hingga mengatur waktu, seluruh proses tersebut mengajarkannya untuk bekerja lebih terstruktur dan bertanggung jawab.

Pengalaman tersebut menjadi ruang bagi Sevhira untuk menerapkan kompetensi komunikasi yang diperoleh selama perkuliahan, sekaligus melatih kemampuan bekerja secara terstruktur, berkolaborasi, membangun relasi, dan menyelesaikan berbagai tantangan di lapangan.

Kompetensi komunikasi juga berkembang melalui berbagai proyek perkuliahan yang menuntut mahasiswa untuk menyampaikan gagasan di hadapan orang lain. Arzsy At-thahira Satiri, S.I.Kom., mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengatakan berbagai proyek yang mengharuskannya melakukan presentasi dan berbicara di depan banyak orang menjadi pengalaman yang membantu mengembangkan kemampuan public speaking.

“Berbagai proyek perkuliahan  yang mengharuskan presentasi atau berbicara di depan banyak orang. Mulai dari situ ilmu yang didapat dari mata kuliah mulai terimplementasi,” ungkap Arzsy.

Menurutnya, kemampuan public speaking yang diperoleh selama perkuliahan juga menjadi bekal yang ingin dimanfaatkan dalam dunia kerja. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menunjang komunikasi dengan rekan kerja maupun pihak lain dalam berbagai posisi pekerjaan.

“Tentunya saya ingin memanfaatkan kemampuan public speaking saya untuk di dunia kerja. Karena saat bekerja kemampuan public speaking pada posisi apa pun sangat dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan rekan kerja atau dengan yang lain,” ujarnya.

Wakil Rektor I UM Indonesia (UM.ID) Prof. Dr. Muhammad Dai, M.Si., Apt., menegaskan bahwa menyelesaikan studi merupakan pencapaian penting yang perlu dilanjutkan dengan tujuan dan langkah nyata setelah lulus.

“Sebesar apa pun cita-cita yang kita miliki, tanpa usaha dan langkah nyata, cita-cita tersebut hanya akan tetap menjadi sebuah mimpi. Karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan ini, mari kita mulai menentukan tujuan, menyusun langkah, dan berusaha mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita,” pesannya.

Pesan untuk melangkah ke masa depan juga diperkuat melalui kehadiran pihak industri. Direktur PT Majime Insan Indonesia Teguh Purwandono Septyanto, S.Kom., menyampaikan pentingnya akses informasi dan peluang yang dapat membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Rangkaian kegiatan yudisium juga mencakup penyampaian pesan dari pihak industri serta penandatanganan Implementation Agreement sebagai bagian dari agenda kegiatan.

Melalui yudisium ini, FKSB UM Indonesia (UM.ID) tidak hanya menandai berakhirnya perjalanan akademik mahasiswa, tetapi juga menjadi momentum bagi lulusan untuk membawa pengalaman, kompetensi, relasi, dan karya yang diperoleh selama perkuliahan sebagai bekal menghadapi tahap kehidupan dan dunia profesional berikutnya. (*) Nasywa Fadya - Ratih Firdiyah Humas UM Indonesia